Doa Ketika Marah pada Anak dan Suami

Doa ketika marah

Marah merupakan situasi yang paling tidak mengenakkan bagi seseorang. Marah bisa dialami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang tersulut amarahnya, entah itu karena kondisi tertentu atau stimulus dari orang lain.

Contohnya, seorang ibu yang terkadang bisa marah akibat tingkah laku dari anak-anaknya yang bandel atau tidak menurut kepadanya. Bisa juga seorang suami marah dengan istrinya, atau sebaliknya seorang istri marah dengan suami, yang disebabkan suatu masalah tertentu.

Dalam menghadapi situasi marah, berikut doa ketika sedang marah misalnya dengan anak, suami, istri, teman, sebagaimana ajaran Rasulullah dalam sunnahnya.

Keterangan hadits dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بالصّرعَةِ، إنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يملكُ نفسهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: “Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu keterangan dari sahabat Sulaiman bin Surd, suatu hari ia duduk bersama Nabi Saw. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، ذَهَبَ عَنْهُ ما يَجدُ

Artinya: “Sungguh aku mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, keterangan hadits ini menjelaskan, seseorang ketika sedang marah, maka membaca doa ta’awwudz yang singkat ini:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Latin: A’udzubillahi minasy syaithanir rajim.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.

Demikian doa ketika marah agar segera lekas tenang, sadar, dan tidak larut dalam godaan setan. Jangan sampai ketika kita sedang marah, lantas lupa mengendalikan diri, sebab jika tidak mengendalikan maka seseorang akan terus-menerus tenggelam situasi yang tidak mengenakkan tersebut. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *