Doa Ketika Mimpi Buruk Sesuai Sunnah

Mimpi buruk adalah peristiwa yang tidak mengenakkan bagi setiap orang. Mengapa demikian? Sering kali setelah bangun tidur, mimpi tersebut terbayang-bayang dalam pikiran, sehingga seolah-olah merupakan sesuatu kenyataan yang bakal terjadi.

Mimpi disebut sebagai bunga tidur, meski ada pendapat yang mengatakan mimpi sebagai petunjuk. Terlepas dari itu, sebaiknya memohon perlindungan Allah agar peristiwa jelek dalam tidur tidak menjadi kenyataan.

Baca juga :  Doa Bangun Tidur Beserta Artinya

Maka, kita dianjurkan membaca doa ketika mimpi buruk sesuai sunnah. Berikut doa ketika mimpi buruk latin beserta artinya:

هُوَ اللهُ، اَللهُ رَبِّيْ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

Huwallahu, Allahu rabbi, la syarika lahu. A‘udzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni.

Artinya:

“Dialah Allah, Allah Tuhanku. Tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu”.

Baca juga :  Doa Bersetubuh Sesuai Sunnah Syariat Islam

Selain doa yang disebutkan di atas, terdapat doa lain yang bisa dibaca setelah seseorang mengalami mimpi buruk:

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَان وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ

Allahumma inni a’dzubika min ‘amalis syaithani wa sayyi-atil ahlami.

Artinya:

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan keburukan-keburukan mimpi.”

Baca juga :  Doa agar Hutang Cepat Lunas dan Lancar Rezeki
Apa yang dilakukan ketika mengalami mimpi buruk?
  • Meniup (seperti meludah) tiga kali
  • Berlindung kepada Allah dari setan dan dari keburukan apa yang dia lihat
  • Tidak membicarakannya kepada siapapun
  • Mengubah posisinya dari yang semula
  • Bangun dan sholat, jika seseorang menghendaki

Demikian keterangan yang diambil dari Shahih Muslim (4/1772-1773). Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *