Dua Nasihat Penting KH. Fuad Affandi Ciwedey Bandung

KH Fuad Affandi

Pagi di Desa Ciburial Alamendah Kecamatan Ciwedey Bandung, tempat di mana KH Fuad Affandi tinggal, sangat dingin dan berkabut. Bukit-bukit  dan perkebunan membentang luas saling berundak-undak menampakkan lanskap keindahan alam yang melingkungi daerah tatar Sunda. Seperti adagium populer yang menyatakan “Tanah Sunda diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum”.

Di balik keindahan alam Desa Ciburial Alamendah terdapat sebuah pondok pesantren yang sudah sangat terkenal, Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Jikalau orang yang baru pertama kali berkunjung hanya melihat dari bangunannya, maka pesantren ini adalah pesantren yang sederhana. Ciri khas pesantren-pesantren yang ada di kampung. Namun kalau dilihat lebih dalam, maka kita akan dibuat terkejut.

Pesantren Agrobisnis

Pondok Pesantren Al-Ittifaq dikenal sebagai Pondok Pesantren Agrobisnis. Mengapa demikian? Karena di pondok pesantren ini selain belajar tentang agama dan ngaji kitab kuning, pesantren ini mengembangkan dan mengajarkan santri-santrinya berkegiatan agrobisnis. Para santri diajarkan bertani, berdagang, dan mengolah serta memasarkan hasil pertaniannya yaitu sayuran.

Bisnis pertanian yang dikelola di pesantren ini dikelola dengan modern. Setiap santri diberikan satu lahan untuk dikelola  dengan bimbingan mentor, mulai dari pembibitan sampai nanti bisa dipanen. Kemudian sayuran disortir dan di-packing secara higienis untuk dikirim ke supermarket, hotel, dan restoran yang ada di wilayah Jawa Barat, Tangerang, dan Jakarta.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren Al-Ittifaq Bandung

Di pesantren ini juga dilakukan kegiatan daur ulang sampah-sampah sehingga dari sampah tersebut diubah menjadi sesuatu barang yang bisa dimanfaatkan kembali. Banyak juga Teknologi Fermentasi Mikroorganisme Alami yang dikembangkan seperti Ciknabat, Inabat, Sinabat, Betapur, dan sebagainya.

Pesantren Al-Ittifaq

Banyak sekali penghargaan yang sudah diterima baik dari tingkat daerah maupun nasional. Pernah juga mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Bahkan mendapatkan penghargaan Kalpataru, penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok yang berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia.

Siapakah sosok dibalik kesuksesan Pondok Pesantren Al-Ittifaq ini?

Sosok dibalik kesuksesan Pondok Pesantren Al-Ittifaq ini yaitu KH. Fuad Affandi sebagai pengasuh. Beliau sering dipanggil dengan Mang Haji Affandi. Beliau lahir di Bandung pada tanggal 20 Juni 1948.

Kiai yang kharismatik, sederhana, bersahaja, enak diajak ngobrol, mumpuni dalam pengetahuan agama dan pertanian. Kiai Afandi sering berseloroh bahwa beliau pendiri Tarekat Sayuriyah karena banyak menghasilkan sayuran.

Dua Nasihat KH Fuad Affandi

Ada dua nasihat dari beliau yang sangat sederhana dan jenaka, campuran bahasa Arab dan Sunda.  Tapi maknanya sangat dalam apabila kita renungkan dan amalkan, yaitu sebagai berikut:

Jadilah Seperti Buah Aren

Kun Kal Kawung Walaa Takun Kal Maung

Kun  Kal Kawung/ Jadilah engkau seperti pohon aren

Baca juga :  Nasihat, Esensi Segala Amar Makruf Nahi Munkar

Jadilah engkau seperti pohon aren. Akarnya bisa dijadikan obat sakit pinggang, kayunya bisa dijadikan pegangan kapak, acinya bisa dijadikan makanan, airnya bisa untuk jadi minuman, lidinya bisa dijadikan sapu, kolang-kalingnya sering kita santap ketika berbuka puasa.

Maka jadilah manusia yang bermanfaat. Bicaranya bermanfaat, diamnya bermanfaat, duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat, apalagi kerjanya pasti sangat bermanfaat. Jadilah bermanfaat bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Walaa Takun Kal Maung/janganlah engkau menjadi macan

Janganlah engkau menjadi macan. Hanya sebatas ditakut-takuti orang, menakut-nakuti orang, disegani orang, tapi tidak bisa memberikan manfaat apa-apa.

Lihatlah apakah ada orang membajak sawah dengan macan? Apakah ada orang yang berjualan daging macan? Apakah ada orang yang makan daging macan? Hanya sekadar gagahnya saja tanpa menghasilkan manfaat.

Harus Selalu Produktif

Ulah aya lahan tidur,

Ulah aya waktu nganggur,

Ulah aya runtah ngawur.

Tidak boleh ada lahan tidur (tidak digarap dan dimanfaatkan),

Tidak boleh ada waktu nganggur,

Tidak boleh ada sampah acak-acakan.

Kedua nasihat tersebut bukan hanya sekadar beliau sampaikan, akan tetapi nasihat tersebut sudah lebih dahulu beliau amalkan dalam setiap laku hidup beliau.

Pada hari Jum’at 26 November 2021 kemarin,  KH Fuad Affandi atau Mang Haji Affandi telah pulang ke hadirat ilahi rabbi. Semua tugas beliau sudahlah purna. Dua nasihat di atas merupakan sedikit peninggalan dari peninggalan dan pelajaran beliau yang sangat luas dan banyak. Semoga kita semua dapat menginsyafi. Amiin.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren Al-Ittifaq Bandung
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *