Electronita Duan, Perempuan Penggagas Perdamaian dari Maluku Utara

Electronita Duan

Ekspresi gembira bisa terlihat di sepanjang jalan-jalan di Tobelo. Ini merupakan buah dari kesepakatan damai yang pernah diikrarkan oleh kelompok Muslim dan Kristen pada tanggal 20 April 2001 di lapangan Hibualamo. Electronita Dua, atau biasa dipanggil Eton adalah salah satu perempuan yang pernah berkontribusi pada upaya penciptaan perdamaian di kampungnya.

Pendiri credit union, Prof. J.L Nanere memulai inisiatif ini ketika hampir semua bank tutup karena konflik. Eton, salah satu tulang punggung credit union untuk melakukan pemberdayaan pada masyarakat. Dimulai dari 50 orang

Dengan modal 50 juta rupiah, koperasi dimulai. Kini, anggotanya sudah lebih dari 14.000 orang, kebanyakan perempuan dengan omset 45 Miliar. Sebuah Politeknik Perdamaian juga didirikan untuk memberikan bekal pada anak-anak muda di Halmahera Utara untuk membangun kembali kampungnya.

Kini politeknik itu berkembang pesat. Mandatnya bukan hanya mengembalikan relasi masyarakat yang retak melalui generasi muda, tetapi juga menata pertanian berkelanjutan. Agar masyarakat Halmahera mampu menciptakan ketahanan pangan.

Dari kegigihannya untuk membumikan perdamaian di tanah Halmahera, Eton diganjar dengan dua penghargaan, yaitu N-Peace Award (2011) mewakili Indonesia di Asia dan She Can (2013) adalah penghargaan buat perempuan inspiratif diinisiasi oleh Tupperware.

Baca juga :  Menghapus Tafsir Sepihak Atas Diri Perempuan

Konflik SARA yang dulunya sering terjadi di Maluku Utara dan membuat daerah di sana porak poranda membuatnya tergerak untuk menguatkan kaum perempuan dan masyarakat sekitar. Baginya, perempuan adalah alat dan senjata perdamaian.

”Perempuan itu lebih dekat suami, anak dan bahkan tetangga. Dia juga bisa menjadi alat perdamaian dan juga pemicu konflik,” ungkap Eton dalam sebuah wawancara di media.

Untuk mencegah perempuan menjadi pemicu konflik, Eton membuat sebuah gerakan Rp 1000,- untuk membangun Politeknik Padamara (Perdamaian Maluku Utara) yang menjadi lembaga pendidikan sekaligus wadah diskusi bagi para muda-mudi yang memeluk agama berbeda di Halmahera.

Harapannya, dari diskusi tersebut, bisa mencegah masyarakat terprovokasi dan mengurangi munculnya konflik. Sedangkan untuk mensejahterakan perempuan, sejak tahun 2001, Eton dan rekannya membentuk sebuah Koperasi Simpan Pinjam.

”Sekarang anggota kami sampai 13.000 orang. Berbagai agama masuk disitu untuk menolong mereka yang ekonomi menengah ke bawah,” pungkasnya.

Diakui olehnya, terdapat kecurigaan beberapa orang ketika meredam konflik. ”Kami dengan teman-teman jika dari satu komunitas pasti curiga. Itu sulit dan butuh proses untuk meyakinkan bahwa kami kerja untuk kemanusiaan. Tapi bagaimana merekatkan ketidak-percayaan dua komunitas ini?” tanyanya.

Baca juga :  Nyai Hj. Zainiyah As’ad, Potret Perempuan Ulama Nusantara

Jadi dengan aktifitas ekonomi itu, tapi kalian mesti berkelompok. Mereka bisa pelan-pelan membuat kelompok perempuan dan laki-laki, tapi komunikasinya mix dan support modalnya mesti berkelompok. Pihaknya tidak pernah mengungkapkan, ”Mari berdamai atau hayo mari baku percaya,”. Hal itu malah akan mengorek lagi luka lama mereka.

Dirinya percaya menciptakan kesempatan ekonomi dan pendidikan adalah cara yang paling tepat untuk menghindari konflik dan menjamin kelangsungan perdamaian. Ibu Eton merupakan salah satu pendiri Yayasan SANRO yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.

Poltek Padamara telah memiliki sebuah program bernama Oz Team, yaitu program live in enam bulan di Australia untuk belajar tentang pertanian. Program ini banyak membuka wawasan baru bagi anak-anak Halmahera dari negara lain.  Hampir semua alumni program memberikan nilai positif. Pengaruh program pertukaran ini telah membuka pintu-pintu kesuksesan yang lainnya.

Dukungan untuk memperkuat Poltek Padamara juga hadirkan oleh UNDP dalam bentuk program PTDDA yang diwujudkan dalam pelatihan pengelolaan hasil pertanian. Kegiatan ini seiring dengan konsep pertanian terpadu yang mengembangkan aspek argobisnis buat hari Pertanian.

Kegiatan lain yang juga penting adalah konsolidasi antar perempuan perdamaian di Halmahera Utara untuk membicarakan perdamaian berkelanjutan. Sebuah forum peduli perempuan terbentuk dari workshop tersebut yang akan menata kembali strategi pemberdayaan perempuan di Halmahera untuk perdamaian berkelanjutan.

Baca juga :  Perempuan Tak Perlu Sungkan untuk Tampil di Medsos

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *