Epilog Hujan; Pagi Para Pemimpi

Epilog Hujan: Pagi Para Pemimpi

1]

Masih sama

Sebening kristal-kristal april di leherku

Bulir embun jatuh menikam pagi

Sebelum hujan makin menderu

Dari  jendela kamarku yang gagu

 

Di bawah  langit mengabu

Igauku merindui rinai

turun di bahu jalan

Bagai setapak ajal

Menjengkal jarak

Musim

Rekah kuncup bunga hijau

di halaman taman

 

Angin mendesis

Ke dalam rongga nafasku

Saat matahari dibuatnya cemburu

 

2]

Apa kabar dunia

Apa masih sama

Bejibaku dengan masker, hand sanitizer, APD dan PSBB

Menggali liang waktu

Pada kambium zaman

Bergumul dengan nyawanyawa

Hinga maut mencumbu apa saja yang bernyawa

 

Tanpa ampun

Melarungi semesta

Menelanjangi  mimpi

Menumpuk bangkai harapan

Dan semua menjadi sia sia

Sia sia

Kecupan adalah belati hati paling tragis

Bilangan rindu terserak di abu para pemimpi

Bahkan dekapan tak mampu lagi menampung tangis

 

3]

Apa yang salah?

Agama seperti pedang bermata dua

Mengubah kemarau hati menjadi cahaya

Mata lain gerak dunia penuh amarah

 

Inilah riwayat kita

Di tebing ujian menuju dermaga

Retak

Abai kita pada alam

Kalam bagi manusia sesungguhnya

 

 

 

 

 

Baca juga :  Rembulan Senja
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *