Etika Bercanda dalam Islam

bercanda

Dewasa ini, masyarakat semakin gemar bercanda. Hal ini bisa kita lihat dari merebaknya program-program komedi di berbagai media, TV, YouTube dan lainnya. Namun, banyak orang ketika bercanda melewati batas sehingga tidak hanya kering terhadap makna, melainkan juga berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti pelecehan nama baik dan sejenisnya.

Jangan salah, para sahabat Nabi juga saling bercanda. Tentunya bukan sekadar canda biasa yang kering terhadap makna dan etika. Bahkan Nabi Muhammad saw pun juga pernah bercanda.

Canda Rasulullah

Dalam riwayat Hasan ra., ia menceritakan bahwa ada seorang perempuan tua (nenek) yang datang kepada Rasulullah dengan maksud agar Rasulullah mendoakannya masuk surga.

Rasulullah saw menjawab, “Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta.” Seketika itu, perempuan tua berpaling (pergi) dan menangis tersedu-sedu.

Lalu Rasulullah saw bersabda, “Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya.’” (QS Al-Waqiah [56]: 35-37) (HR Tirmidzi).

Jadi, maksud beliau adalah, nenek tersebut masuk surga dalam keadaan berubah menjadi muda.

Itulah canda Rasulullah. Dari hadis di atas pula, bisa kita pahami bahwa kehidupan yang indah adalah bilamana seseorang dapat menggabungkan antara keseriusan dalam bicara dan berperilaku, dengan canda, logika yang bagus, dan untaian hikmah (Nasih Ulwan, 2015: 261).

Baca juga :  Tiga Bentuk Sabar bagi Pelajar Menurut Kitab Nashaihul Ibad

Namun, dewasa ini, masih banyak orang, khususnya umat Islam, yang bercanda dengan sesuka hati. Akibatnya, canda yang semula ingin mengundang tawa (rileks), justru berubah menjadi penyebab suatu pertengkaran, permusuhan, dan sejenisnya. Bahkan canda yang berlebihan itu bisa berujung pada tindak pidana.

Tidak Berlebihan

Ada beberapa etika bercanda dalam Islam yang bersumber dari hadis Nabi. Pertama, tidak berlebihan. Para sahabat Nabi tidak meninggalkan candaan. Artinya, mereka saling bergurau, namun pada saat serius, mereka adalah adalah para lelaki jantan, berwibawa, dan penuh dengan moral tinggi.

Oleh karena itu, tuntutan pertama dalam bercanda adalah tidak boleh berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan mudah menjerumuskan seseorang ke lembah penghinaan, menjatuhkan kehormatan orang, dan dapat mematikan hati dan menimbulkan permusuhan.

Nabi saw bersabda: “Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya.” (HR Muslim). Dengan demikian, canda berlebihan yang dapat menjatuhkan kehormatan seseorang tidak dibenarkan.

Dari Anas ra., ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Aku bukanlah orang yang suka bermain-main dan berbuat sia-sia. Dan kedua perbuatan itu bukanlah dari golonganku.

Nashih Alwan (2015: 262) menjelaskan maksud hadis itu adalah larangan bercanda atau bermain secara berlebihan karena dapat menjadikan perbuatan itu sia-sia. Bahkan canda yang berlebihan juga dapat mengeluarkan seorang Muslim dari misi utama penciptaannya, yakni beribadah kepada Allah dan membentuk masyarakat yang shaleh.

Baca juga :  Adab Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani
Tidak Mengganggu dan Menjelekkan

Kedua, tidak mengganggu dan menjelek-jelekkan siapa pun. Di Indonesia, terdapat beberapa aktor komedi yang publik ingatkan, bahkan juga publik laporkan ke pihak polisi lantaran komedian itu menjelek-jelekkan kelompok atau agama tertentu. Karena bercandanya memang telah berlebihan.

Bagi seorang Muslim sejati, bercanda tidak boleh berlebihan dan mengganggu serta menjelek-jelekkan orang lain. Terkait hal ini, Rasulullah memberi petuah kepada kita.

Pertama, hadis tentang larangan bercanda dengan hal-hal yang mengganggu. Suatu ketika, para sahabat Nabi sedang berjalan bersama Nabi Muhammad saw ke suatu tempat. Kemudian salah satu dari sahabat itu tidur. Melihat hal itu, sebagian sahabat mengambil tali yang ada padanya. Lalu, ia (sahabat yang tidur) terkejut. Rasulullah kemudian bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim mengagetkan Muslim lainnya.” (HR. Abu Daud).

Kedua, hadis tentang larangan menjelek-jelekkan seseorang. Rasulullah bersabda, “Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud).

Menghindari Dusta dan Kata-Kata Palsu

Etika bercanda ketiga, menghindari dusta dan kata-kata palsu. Terkait hal ini, Nabi bersabda, “Celakalah orang yang berbicara dengan suatu pembicaraan untuk membuat orang tertawa, lalu ia berdusta. Celaka dia, celaka dia.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan al-Baihaqi).

Baca juga :  Hak Anak Menurut Syaikh Hasyim Asy’ari

Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan, “Pengkhianatan besar, bila kamu berbicara dengan saudaramu, dan dia percaya kepadamu, padahal kamu berbohong.” (HR. Ahmad dan Abu daud).

Demikianlah etika bercanda dalam Islam. Sungguh luar biasa agama yang Allah turunkan melalui Nabi Muhammad saw. Sudah sepatutnya sebagai orang Muslim kita menjalankan apa yang telah Allah tentukan dan apa yang telah Nabi ajarkan sebagai bekal dan pedoman untuk menjalani kehidupan ini. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.