Etika Pesantren dan Santri Progresif

Jamak pelajaran yang bisa diambil mengacu pada kehidupan di masa lampau. Pesan dan amanat terbingkai rapi dalam album sejarah. Hikmah tersebut dapat berwujud fakta sejarah ataupun pergolakan pada suatu zaman.

Dari masa ke masa, kebudayaan adiluhur yang menjadi akar dan spirit sebagai episentrum kemajuan senantiasa terjaga dalam lingkungan pesantren. Entitas nilai-nilai yang tercipta atas proses inkulturasi (pembudayaan) ini merupakan bentuk komitmen dalam rangka merawat kebudayaan serta meningkatkan spiritualitas.

Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Aguk Irawan MN dalam buku Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (2018). Melalui disertasinya itu Aguk Irawan membeberkan bahwa pesantren lahir atas dialektika historis manusia dengan ruang dan waktu yang panjang. Kebudayaan, tradisi, dan peradaban pesantren adalah akumulasi dari hasil cipta karya manusia yang kreatif, progresif, dan inovatif.

Perihal etika pesantren dalam buku ini juga diterangkan oleh Aguk Irawan. Etika pesantren menurut Aguk Irawan adalah produk perjumpaan antara peradaban baru dan lama, kemudian melebur menjadi sesuatu yang baru melalui proses yang disebut inkulturasi. Sebut saja praktik ijazah, ngalap barokah, slametan, dan tirakatan. Ragam laku tersebut merupakan bentuk dari kultur etika dan kebudayaan pesantren.

Menyoal sudut pandang tentang sikap yang baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan kurang pantas, sudah semestinya seorang santri memiliki pertimbangan yang bijak atas takaran nilai tersebut. Tatanan etika menjadi acuan sekaligus pedoman dalam laku hidup. Praktik etika itu tentu melebur dalam kegiatan seorang santri sehari-hari.

Baca juga :  Kisah Ilmu Nahwu: Mengapa Zaid Memukul 'Amr?

Kultur dan etika pesantren ini tergambar jelas dalam novel garapan Djamil Soeherman berjudul Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984). Citra pesantren dilukiskan oleh Djamil Soeherman secara detail dan apik. Jaladuddin Rakhmat pada kata pengantar menjelaskan bahwa “Pejuang-pejuang Kali Pepe bagiku bukan saja roman perjuangan, tetapi juga sebuah cacatan antropolog sosial yang manis. Pola-pola tingkah laku, nilai-nilai, norma, dan kepercayaan di dunia pesantren, serta hubungan santri dengan Kiyahi dan keluarganya dilukiskan seperti sebuah catatan sejarah.”

Buku ini mengisahkan kehidupan pesantren yang terletak di desa Gedangan wilayah Jawa Timur pada era kolonial Belanda.  Tokoh utama yakni Umar dikisahkan sebagai santri yang patuh dan merupakan penerus almarhum ayahnya yang juga telah mengabdikan diri pada pesantren.

Sebagai salah seorang anak desa Gedangan, Umar tak bisa mengelak apalagi menghindar atas kewajibannya untuk mondok dan menjadi santri. Umar juga selalu memperlihatkan sikap ta’dzim serta tawadhu’ pada Kiyahi Mukmin selaku pengasuh pesantren Gedangan.

Ancaman zaman

Kini, dunia tengah berlari. Masyarakat-tak terkecuali lingkungan pesantren-berada dalam kepungan budaya populer. Keran globalisasi telah terbuka begitu lebar. Kuasa zaman bakal memberikan dampak lumayan besar atas pemahaman tentang nilai-nilai etika.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta

Pergeseran norma dan etika pun tentu saja memengaruhi pelbagai perubahan sikap dan wacana. Sub kultur yang menjadi budaya juga identitas pesantren yang otentik dibayang-bayangi oleh aneka ragam ketimpangan.

Pada era post-truth sekarang ini, ragam informasi mengalir begitu deras dan tak mampu terbendung. Kabar asli dan hoax sukar untuk diperbedakan. Sumbu perpecahan begitu mudah disulut oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Dalam kacamata ini, seorang santri perlu melek teknologi juga berwawasan luas supaya mampu menangkal propaganda ataupun kabar hoax. Penguasaan literasi digital pun cukup penting dikuasai oleh para santri. Selain untuk menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui dunia maya.

Di tengah gelombang modernitas dan pergerakan zaman yang begitu cepat, santri kini dituntut untuk memiliki skill yang mumpuni dan cakap dalam pelbagai bidang. Santri mesti tak hanya ahli dalam aspek ngaji ataupun hukum fikih saja, namun lebih dari itu.

Santri pun mesti memiliki kewajiban untuk membaca dan memahami obah-mosiking zaman. Pembacaan atas pergerakan zaman ini tentu saja supaya para santri tak ketinggalan dan mampu mengikuti arus perkembangan zaman.

Sosok santri sebagaimana seseorang yang mendalami ilmu agama juga menjadi corong bagi penyemaian benih-benih toleransi. Isu intoleransi yang begitu marak akhir-akhir ini memunculkan tak keberterimaan atas keberadaan agama lain menjadi kian hebat. Kita tentu tak menginginkan iklim toleransi di Indonesia semakin runyam.

Baca juga :  Fenomena Ngaji Online dan Teori Sosial Klasik

Santri pun memegang peranan sebagai ujung tombak perubahan. Pergerakan para santri yang progresif diharapkan demi terciptanya atmosfer perdamaian yang nyata baik lokal maupun global. Bertolak dari beberapa hal di atas, niscaya santri bakal tetap memberikan kontribusi dalam arah perubahan zaman yang senantiasa bergulir. Dan menciptakan peradaban yang mulia. Semoga.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.