Etin Anwar; Pakar Feminisme Islam di Amerika

Etin Anwar; Pakar Feminisme Islam di Amerika

Saya sampai hari ini sangat terkesan dengan sosok Profesor Kajian Feminisme Islam dan Jender asal Bandung yang berkiprah akademis di Benua Amerika. Ia adalah Etin Anwar, Profesor di Hobbart and William Smith College, New York. Perempuan Trah Sunda ini telah menjadi diaspora di Benua Amerika sejak perjalanan awal akademiknya di Binghamton University di kota New York tahun 2002.

Perjumpaan intelektual saya pertama kali dengannya, ketika saya menjadi Chair of Committe dan mengundang Prof. Etin Anwar dalam acara “International Student Conference” di UIN Sunan Kalijaga, Oktober tahun 2020. Para mahasiswa pun dibuat terkesima dengan paparannya tentang tantangan kepemudaan di era pendemi kaitannya dengan realitas yang ada di Amerika. Bagaimana para pemuda mampu berkontribusi dalam kancah keilmuan dunia. Dia pun menegaskan pentingnya kontribusi perempuan yang memiliki peran yang sama dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan.

Penulis buku A Genealogy of Islamic Feminism: Pattern and Change in Indonesia (Routledge, 2018) ini menjadi pakar isu-isu keperempuanan, Jender, dan feminis Islam di Amerika. Selain kesibukannya sebagai seorang dosen, ia juga mendirikan (Reducates) sebagai sebuah wadah untuk pengembangan kajian ilmu pengetahuan. “Reducates” merupakan kepanjangan dari “Research, Education, Career, TeamWork and Service”.

Perempuan kelahiran Tasikmalaya, 04 Agustus 1967 ini juga menjadi Dewan Penilai (Board of Reviewers) Seri Teroka, Penerbit Mizan. Hal ini membuktikan kapasitasnya dan kualitasnya di bidangnya, bukan hanya di Amerika namun juga di tanah Airnya. Etin Anwar terus konsisten untuk berkidmat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sosok perempuan yang sangat produktif dalam berkarya dengan puluhan karya ilmiah baik Journal, Book Chapter, Editoral Books, Invited Talks di berbagai negara.

Baca juga :  Al-Khansa binti Amru; Penyair Cerdas, Ibunda Para Syuhada

Menggeliatkan Feminisme di USA     

Baginya, berbicara tentang isu feminisme haruslah diletakkan pada koridor yang proporsional dan kontekstual. Feminisme dan jender perlu dijadikan gerakan bersama oleh semua kalangan. Karena konstruksi tentang jender itu berkaitan dengan konstruksi lokalitas budaya. Budaya lah yang membentuk hirarkis antara laki-laki dan perempuan.

Bagi Etin Anwar, Sebagian kaum konservatif sering menganggap apa pun yang berbau barat seperti Feminisme, Demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai sumber masalah. Pada dasarnya, kaum muslim saat ini tidak akan memiliki masalah jika gerakan pembebasan yang dimulai pada zaman Nabi Muhammad saw itu terus digalakkan.

Jika perempuan diberi semua hak mereka; jika mereka tidak dibungkam dalam bidang pengetahuan; jika mereka tidak disingkirkan dari gelanggang politik; jika mereka tidak dibatasi dalam urusan rumah tangga; jika mereka secara ekonomi tidak tercerabut; jika mereka dapat perlindungan yang memadai dari ayah yang otoritarian dan suami yang sewenang-wenang; jika anak-anak dari perkawinan sebelumnya dijamin oleh Undang-Undang untuk menerima tunjangan anak; jika perempuan yang bercerai menerima cukup dukungan dari keluarga dan pemerintah agar mandiri secara finansial; jika mereka tidak dihina karena tidak memiliki pasangan, menjanda atau tidak menikah. Kesemuanya harus dalam posisi yang setara dan proporsional antara keduanya (laki-laki dan perempuan). pentinnya megembangkan sikap yang lebih ramah terhadap perempuan, (Etin Anwar, 2017).

Baca juga :  Gayatri Rajapatni, Perempuan Visioner di Balik Kejayaan Majapahit

Etin Anwar juga menghendaki barat (orientalism) memandang Timur (baca: Islam) dengan kontekstual. Karena di zaman kontemporer ini, geliat feminisme di berbagai negara di Timur sudah mengarah ke arah yang lebih liberal. Meskipun pada gilirannya, isu tentang perempuan, misalnya Kekerasan Seksual, KDRT, Pelecehan Seksual masih menjamur di berbagai negara, khususnya pula di Indonesia.

Dalam konteks Indonesia misalnya, salah satu gerakan struktural yang sampai hari ini sangat diharapkan oleh para feminis adalah disahkannya Rancangan Undangan Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Secara yuridis, RUU PKS ini akan sangat membantu kalangan perempuan terhadap berbagai diskriminasi dan bentuk kekerasan kepada mereka. Karena pada praktiknya mereka (perempuan) belum memiliki perlindungan hukum yang proporsional. Etin Anwar berharap kepada para perempuan untuk berjalan dan bergerak bersama. Perempuan perlu mendukung perempuan yang lain, bukan sebaliknya mengamini sistem patriarki yang sudah mengakar cukup kuat di tengah-tengah masyarakat.

Sebagaimana yang telah dilakukan Etin Anwar di Amerika. Ia memberikan pemahaman khususnya kepada para mahasiswanya yang berasal dari berbagai negara untuk memahami perempuan dalam relasinya dengan laki-laki (QS. al-Nisa [4]; 34) dan ia menjelaskan kepada mereka bahwa islam sangat menghormati perempuan karena perempuan sama-sama memiliki peran sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana tersurat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30.

Baca juga :  Kontroversi Spiritual Laku Tapa Wuda Ratu Kalinyamat

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.