Etiologi Idul Adha dan Akar Kekerasan Atas Nama Allah

Tidak sedikit orang mengkritik kisah Idul Adha sebagai kisah mengenai Allah yang kejam karena Dia memerintahkan Ibrahim untuk mempersembahkan putranya bagi-Nya di altar kematian untuk membuktikan ketaatan dan keimanannya.

Para apolegetik Islam, Kristen maupun Yahudi, membantah tuduhan tersebut antara lain dengan argumentasi-argumentasi sebagai berikut. Pertama, di awal cerita, Ibrahim telah dijanjikan oleh Allah akan diberikan keturunan yang akan menjadi bangsa-bangsa yang besar. Jadi, Allah hanya mengujinya saja.

Kedua, cerita tersebut baik yang direkam dalam Kejadian 22, As-Shaffat 99-104, Yubileum 18, Tradisi Rabbinik maupun hadis-hadis Islam, semuanya tidaklah menunjukkan bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih atau membunuh putranya. Kata “qurban” atau “persembahan untuk mendekatkan diri dengan Allah” tidak harus dimaknai sebagai sesajen dalam bentuk kematian.

Tradisi Daudiyah, sebagaimana dikokohkan oleh koleksi penemuan antropolog terkemuka Arnold van Gennep pada tahun 1920-an, telah mengajarkan bahwa apa yang dilakukan Ibrahim dan putranya di suatu gunung merupakan salah satu bentuk Rite of Passage.

Dalam bagian awal film Warriors of the Rainbow (2011), diceritakan mengenai Rite of Passage yang dijalani seorang pemuda bernama Mona Rudao (1890-1930 M). Mona adalah anak sulung kepala suku Sediq – salah satu dari sekitar 26 suku asli di Taiwan, suku-suku penutur urheimat  (keluarga besar Austronesia).

Salah satu benang merah seluruh bangsa Austronesia adalah tradisi purba merajah bagian tubuh saat memasuki usia dewasa. Ritual tersebut adalah penanda bahwa ia sudah boleh menikah dan harus hidup mandiri atau berpisah dari orang tua. Kolonialisme dan imperialisme agama-agama dari Timur Tengah, Eropa dan India telah mengikis atau bahkan melarang tradisi ini di banyak suku bangsa Austronesia.

Pertama, karena beberapa suku tersebut melakukannya setelah memenggal kepala pemuda suku lain yang dianggap musuh. Begitu pun bagi pemuda Sediq, seperti di beberapa suku Dayak zaman dulu, wajahnya hanya bisa dirajah jika dapat memenggal kepala musuh dan membawanya pulang.

Kedua, karena penyebaran agama seperti Islam dan Kristen. Orang-orang Maori misalnya dilarang merajah wajahnya sejak Selandia Baru dikuasai orang-orang Inggris yang menyebarkan agama Kristen. Sebagian besar mazhab fikih Islam, dan halakha Yahudi, juga mengharamkan tato.

Rites of Passage di banyak suku asli Austronesia tersebut memang begitu brutal dan sadis. Kebanyakan dari suku-suku itu dulu belum melek huruf atau belum memiliki budaya literasi. Bagi perempuan, ritual itu biasanya ialah ritual menarche, yaitu terkait setelah seorang gadis mengalami menstruasi, yang menandakan ia sudah boleh menikah.

Ritual khitan, juga merupakan Rite of Passages, tetapi biasanya berbeda dengan ritual  di mana seorang pemuda disahkan sebagai pria dewasa, boleh menikah, dan hidup mandiri terpisah dari orangtuanya. Dalam kekerabatan matrilokal seperti kebanyakan bangsa Austronesia, setelah menikah maka ia hidup di desa istrinya (baca Kejadian 3).

Di kalangan umat Yahudi, Kisah Idul Adha disebut sebagai Kisah Akedah Yishak. Ini karena menurut umat Yahudi, peristiwa tersebut mengisahkan Ishak sebagai putra sulung Ibrahim. Meski Alquran sendiri tidak menyebut nama putra yang menjalani Rite of Passage itu, tetapi sebagian besar Muslim menganggap peristiwa itu dialami Ismail sebagai putra sulung Ibrahim. Tradisi Daudiyah sendiri menganggap bahwa baik Ismail maupun Ishak menjalaninya sebagai putra sulung dari masing-masing istri Ibrahim – karena Ibrahim memperistri Sarah, Hajar dan Keturah. Peristiwa terjadi sekitar 2000 SM lalu.

Jadi, apa yang direkam dalam Kejadian 22, Yubileum 18 maupun As-shaffat 99-104 merupakan suatu ringkasan dari Rite of Passage yang dialami putra-putra sulung Ibrahim.  Teks-teks tersebut tidak mungkin menceritakannya dengan sebegitu detail, di samping karena teks-teks tersebut ditulis berdasarkan tradisi lisan atau sejarah lisan – yang termasuk dalam aggadah atau pengajaran moral, khususnya pengajaran bagi anak-anak.

Namun, teks-teks tersebut sudah menceritakan dengan cukup lengkap Rite of Passage yang dijalani putra-putra Ibrahim selain ritual khitan. Ini karena adanya lokasi khusus untuk ritual (Gunung Muria menurut Kejadian 22 dan Gunung Sion menurut Yubileum 18), paraphernalia (benda-benda ritual seperti pisau atau golok), adanya pemuda yang tidak boleh mengikuti ritual tersebut maupun pria yang boleh ikut dalam ritual tersebut, tata liturgi dengan dialog, dan adanya hewan untuk sesajen sebagai simbol (bahwa si anak dipersembahkan bagi kehidupan).

Dan, yang terutama, sebagaimana dalam ritual yang dijalani Mona Rudao, yaitu adanya perpeloncoan. Perpeloncoan tersebut bisa jadi amat keras untuk menempa si pemuda. Kemudian, diakhiri dengan pemberkatan dan kisah sang putra tinggal di daerah baru atau menikah dan hidup di tempat baru. Sebagian di kampung halaman istrinya (Misalnya, Esau, Yakub dan Musa).

Bedanya dengan Ismail dan Ishak, Mona harus benar-benar memenggal kepala musuh dan mempersembahkannya (kepada sukunya) untuk membuktikan dia sudah dewasa, tangguh dan mampu mandiri. Di suku-suku bangsa Austronesia lain, penggojlokan tersebut juga dikenal akrab dalam bentuk sebagaimana dalam teks Kejadian 22 dan Yubileum 18, dengan tujuan agar pemuda tersebut terlatih secara mental dan kreatif saat menghadapi berbagai kesukaran dalam hidup.

Memahami etiologi Idul Adha dengan tepat dapat membantu kita membabat akar kekerasan atas nama Allah dan agama.

Di antara dampak yang dapat muncul dari memahami kisah Idul Adha mengenai Allah yang memerintahkan seorang ayah membunuh putranya, ialah dapat menerima gagasan bahwa Allah berkehendak membunuh atau menyakiti orang-orang berbeda iman dan berbeda agama.

Pemahaman tersebut mengantarkan pada keyakinan “membunuh yang lain untuk dunia yang lebih baik” sebagai bukti ketaatan kepada Allah, atau mengimaninya sebagai perintah Allah. Kemudian, pemahaman tersebut terinternalisasi sejak dari kecil hingga dewasa. Akhirnya, yang bersangkutan sanggup melakukan tindakan kekerasan seperti penjajahan, terorisme, bom bunuh diri, persekusi dan diskriminasi terhadap umat agama lain, atas nama Allah dan agama.

Baik Islam, Kristen maupun Yahudi tidak mengajarkan bahwa Allah menginginkan persembahan atau sesajen atau salatnya manusia. Allah tidak pernah memerintahkan hal tersebut sejak mula-mula sebagaimana Kisah Habil dan Qabil. Akan tetapi, umat manusia sendirilah yang membutuhkan Allah, dan berinisiatif memberikan persembahan kepada Allah sebagai rasa syukur dan puji-pujian kepada-Nya.

Oleh karena itu, kisah Idul Adha atau Akedah Yishak ini juga lebih kurang sama. Diceritakan bahwa Allah menanyakan kesiapan Ibrahim untuk melepaskan putranya, untuk mempersembahkannya bagi kehidupan atau kemanusiaan. Apakah Ibrahim sudah sanggup “mengurbankannya” agar putranya mandiri, hidup terpisah darinya dan kemudian berkeluarga sendiri?

Namun, pemahaman  arus utama bahwa Allah memerintahkan Ibrahim mengurbankan putranya di altar kematian telah sedemikian mendarah daging dalam kebanyakan umat Islam, Kristen dan Yahudi. Padahal, pemahaman atau tafsir ini bertentangan dengan Dekalog atau Alfurqan (Keluaran 20; Ulangan 5; Mazmur 119; Khotbah di Atas Bukit; Al-Baqarah 53) sebagai intisari iman dan nilai-nilai agama paling mendasar dari para penganut agama tersebut, yaitu “Dilarang membunuh.”

Kisah tersebut ditulis kembali dengan dramatis pada klimaksnya sebagaimana dalam Kejadian 22 dan Yubileum 18, sebenarnya juga bertujuan mengakhiri berbagai bentuk Rite of Passage dan ritual kebaktian yang bertentangan dengan Dekalog/Al-Furqan tersebut, yaitu untuk melawan popularitas memberi sesajen atau persembahan kurban manusia.

Persembahan anak manusia sebagaimana tradisi bangsa-bangsa Mesoamerika, dan di sejumlah suku tetangga Bani Israil, serta termasuk yang dilakukan berbagai suku bangsa Austronesia seperti suku Sediq pada abad ke-19 itu, memang pernah sedemikian populer. Film-film seperti serial Indiana Jones pernah menggambarkan praktek tersebut di India.

Alih-alih memberikan kurban berupa diri sendiri atau anak sendiri di altar kematian, berbagai agama justru berkembang menentang praktek tersebut. Di antaranya, termasuk agama yang dianut Bani Israil, yang memahami kurban merupakan persembahan “mendekatkan diri kepada Allah” dengan sesajen di altar kehidupan.

Sesajen itu dapat berupa diri sendiri, hewan ternak, hasil tani, harta benda atau anggota keluarga. Jika diri sendiri atau manusia yang dipersembahkan, maka dipersembahkan dalam bentuk berbakti atau mengabdi bagi kemanusiaan dan membangun peradaban (yang menjadi rahmat bagi seluruh alam). Apabila dalam bentuk hasil tani, daging ternak atau hewan dan harta benda, maka untuk dinikmati bersama-sama dalam semangat kekeluargaan.

Dengan memahami etiologi Idul Adha dalam kerangka tersebut, maka ini selaras dengan apa yang disebut dalam Al-Baqarah 53, untuk mengetahui yang benar dan yang salah ada dalam suatu keterangan dari apa yang diterima Musa dan segenap jemaatnya saat itu di Sinai (Gunung Tursina).

Kisah Sinai merupakan kisah yang paling banyak diceritakan dalam Alquran. Dan, dari Kisah Sinai itu, kita semua mengetahui bahwa yang salah adalah membunuh sesama manusia, sedangkan yang benar adalah melindungi dan menyelamatkan jiwa dan raga sesama manusia. Di berbagai masyarakat adat lain yang telah melek huruf, para antropolog telah menemukan kisah senada dengan Kisah Sinai tersebut.

Prinsip-prinsip pokok dalam Dekalog/Al-Furqan dapat kita temukan dalam hampir seluruh masyarakat adat dan agama yang telah berevolusi sebagai umat yang humanis. Misalnya, dalam Buddhisme dikenal Pancasila, dalam Hinduisme ada Yamas dan Niyamas, dan dalam filsafat Khonghuchu ada Lima Prinsip, yang kesemuanya merupakan ungkapan yang senada dengan Dekalog/Al-Furqan.

Itulah sebabnya, praktik-praktik tidak manusiawi sebagaimana yang dulu dilakukan Mona Rudao atau sebagian suku Dayak, orang-orang Mesoamerika kuno, dan seterusnya kini telah berakhir. Walau bagaimana pun, tidak seluruh adat resam merupakan kearifan, dan karenanya tidak semua adat resam harus dilestarikan, sebab kearifan meniscayakan satu kemanusiaan.

Namun, sayangnya, jika pemahaman tentang Idul Adha atau Akedah Yishak bahwa Allah memerintahkan Ibrahim mempersembahkan putranya di altar kematian itu terus-menerus terinternalisasi dalam diri Muslim, Kristen dan Yahudi, maka berbagai bentuk kekerasan atas nama Allah dan agama akan terus ada.

Terorisme, radikalisme dan bom bunuh diri, semua ini merupakan bentuk baru Rite of Passage sebagaimana dulu telah dilakukan suku-suku bangsa Austronesia, Mesoamerika, India dan Timur Tengah. Hal-hal  tersebut tentu saja tidak selaras dengan tauhid, karena tauhid sejatinya adalah satu kemanusiaan.

“Kita semua… bersaudara dalam satu kemanusiaan,” sabda Imam Ali bin Abi Thalib (kw).

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *