Feminisme Sufistik Nyai Masriyah Amva

masriyah amva

Kemandirian sangat diperlukan dalam hidup. Kemandirian adalah hanya bersandar kepada Allah SWT, tidak kepada yang lain.” (Masriyah Amva)

Hidup di era serba teknologi sebagai buah ilmu pengetahuan seringkali justru menyudutkan manusia pada ancaman eksistensial. Seperti keterasingan dari diri sendiri dan alpa pada potensi ilahiyah yang diberikan Allah sebagai bekal menjalankan kehidupan.

Proses menemukan kebenaran yang demikian membutuhkan jalan lain untuk mengembalikan manusia pada dirinya yang unik. Ada hal-hal metafisik atau tidak tampak yang harus direvitalisasi. Hal ini demi mengutuhkan kemanusaiaannya kembali dengan mendaki jalur spiritual. Selain juga untuk memahami semesta dan Tuhannya melalui pengenalan atas diri manusia sendiri.

Nyi Imas dan Pergulatan Pemikiran Pesantren

Nyai Hj Masriyah Amva atau akrab disapa Nyi Imas, pemimpin Pesantren Al-Islamy, Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon, adalah satu dari sedikit perempuan penempuh laku spiritual itu.

Melalui goresan estetis penanya tampak betapa keras benturan epistemologis—tentang mana yang benar—antara dirinya dengan budaya pesantren tradisional serta modernitas zamannya. Pergulatan pemikiran yang kemudian justru menguatkan pribadinya.

Pondok pesantren dalam nalar Nyi Imas idealnya berperan sebagai institusi agama sekaligus penebar ilmu keagamaan Islam. Pesantren secara berimbang mengasah nalar dan ruh, logika dan intuisi seluruh penghuninya di tengah gempuran modernitas sekular dan desakan fundamentalisme Islam.

Pesantren pada awalnya memang mengacu pada sistem pengajaran yang dilakukan oleh para sufi melalui zawiyah dan Khanaqah, yakni tempat untuk Uzlah (menyepi).  Ruang pembelajaran kognitif sekaligus tempat melakukan berbagai pelatihan spiritual, mengkaji dan menginsafi bentuk tertinggi ilmu (gnosis ma’rifat) yang untuk mencapainya jiwa harus disucikan lebih dulu (tazkiyatun nafs).

Baca juga :  Perempuan: Sekolah dan Sejarah

Hossein Nasr menyebutnya Scientia sacra/gnosis, yakni pengetahuan tentang Yang Ilahi dan Yang suci. Ia tidak bisa dijangkau dengan penalaran rasional semata karena membutuhkan intuisi dan kejernihan hati serta suluk (perjalanan ruhani).

Upaya keras mengenali diri manusia sendiri yang nantinya melambari pengetahuan tentang Tuhan. Hal terpentingnya adalah perjuangan menyesuaikan “gelombang/kanal” batin manusia sebagai hamba yang terbatas dengan Tuhannya yang maha Mutlak.

Jiwa yang Pasrah

Nyi Imas melalui puisi dan prosanya yang bernuansa feminisme sufistik menggambarkan pengalaman jiwanya yang terguncang yang kemudian dilampauinya melalui perenungan yang mendalam. Chaos  yang kompleks menuntunnya pada kesadaran atas ketidakberdayaannya dan mengajari  untuk pasrah atas skenario Allah. Hal ini tersurat dalam puisinya berikut ini:

“Aku tak berdaya

Pasrah

Semua yang Kau berikan untukku

Adalah kebaikan dan keindahan

Maafkan bila air mata ini masih mengalir

Bukan karena aku meronta

Namun aku hanyalah manusia biasa”

Lalu pada puisinya yang lain Nyi Imas menegaskan kehambaannya:

”Ya Allah aku takkan lagi mengatur hidupku

Aku tak mau lagi mengatur-Mu dalam doa-doaku

Aku kini pasrah pada kehendak-Mu

Karena sesungguhnya engkau mengetahui

Mana yang terbaik untukku

Aku pasrah dan aku hanya ingin rebah di Tangan-Mu

Selama hidupku dan di setiap masalahku”

(Bangkit dari Terpuruk)

Baca juga :  Kampanye Keadilan yang Gagal Terdengar

Puisi di atas menjelaskan bagaimana Nyi Imas memposisikan dirinya sebagai hamba yang lemah dan kekuatan Tuhannya yang mutlak. Namun, kerendahan hatinya tersebut bukan bermakna fatalistik, karena dalam prosanya ditulis:

“Ya Tuhan berilah aku daya untuk bangkit!” begitu pekikku dalam hati

“Jangan pernah takut dengan penderitaan,” begitu aku selalu mengajari diriku

(Bangkit dari Terpuruk)

Menyerahkan Hak Orgasme

Puisi dan penggalan prosa tersebut di atas menggambarkan bagaimana keintiman antara dirinya dan Tuhan terjalin indah. Kehambaannya yang lemah adalah juga sumber kekuatan. Bahkan, dalam hal kebutuhan dasarnya sebagai manusia atas hubungan seksual Nyi Imas menyerahkan hak orgasme yang tidak didapatnya karena suami yang lemah melalui doa-doanya kepada Allah:

“Ya Allah… sayangilah diriku dan ampunilah dosa-dosaku. Gantilah penderitaanku dengan kebahagiaan lain yang membuatku tak membutuhkan kepuasan seksual yang selalu hilang dalam malam-malamku.”

Pengalaman hidup yang mengungkung potensi kemanusiaannya sebagai perempuan menyadarkan Nyi Imas untuk menebas jalan perjuangan kehambaan yang berwasilah pada manusia lain. Namun, ia langsung bersandar kepada Allah:

“Perempuan kuat harus bersandar kepada Allah,

karena hanya bersandar kepada-Nya.

Para perempuan bisa mandiri

Jangan sekali-kali berpikir untuk melabuhkan hidup kita kepada laki-laki.

Kita harus mandiri dan selalu bisa memberi.

Jangan menjadi si lemah yang tangannya selalu di bawah,

tapi jadilah si kuat yang tangannya selalu di atas.”

(Rahasia sang Maha)

Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan

Bagi Nyi Imas, laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Allah yang hanya berbeda jenis kelaminnya, meski tenaga berbeda namun memiliki kekuatan yang sama.

Baca juga :  Kalis Mardiasih dan Esty Dyah Imaniar: Dua Muslimah Inspiratif

Ini senada dengan konsep feminisme kultural Neng Dara Afiyah, bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan hanya terletak pada perbedaan biologis dalam kapasitas produksi masing-masing.

Sebagaimana teori Sameness-minimize, bahwa perempuan dan laki-laki pada dasarnya mempunyai kesamaan. Hal yang membedakannya adalah bagaimana lingkungan (budaya, penafsiran, media, ideologi) membentuknya. Maka, Nyi Imas jelas adalah seorang feminis.

Kesadaran bahwa perempuan harus berupaya sendiri untuk menghilangkan jarak antara dirinya dengan Allah. Lalu menebas relasi hirarkis tauhid yang menjadikan laki-laki sebagai pengantara antara perempuan dan Allah.

Lalu sudah sepatutnya menjadi sejajar sabagai sesama hamba yang mengabdi kepada Allah semata, dan menunjukkan kemerdekaannya atas selain Allah. Ini mengingatkan pada keberdayaan sufi Rabi’ah al-Adawiyah. Maka, meresepi puisi-puisi feminisme sufistik di atas tak salah lagi bahwa Nyi Imas adalah seorang Sufi Feminis. Wallahu A’lam.

There are 3 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.