Fenomena Kawin Tangkap dan Perjuangan Perempuan

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

Judul: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

Penulis: Dian Purnomo

Tebal: 320 halaman

Terbit: 2020

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020648453

Sekarang Magi jadi bisa membayangkan bagaimana para perempuan yang diculik kemudian “ditaklukkan.” Perutnya bergejolak aneh dan Magi kembali merasakan sakit yang amat sangat di kemaluannya. Magi tidak mau ditaklukkan dengan cara yang sama. Dia tidak mau ditaklukkan sama sekali. Dan di saat itulah Magi terpikir bahwa kematian jauh lebih baik ketimbang hidup dalam penderitaan.” (hlm.54)

Kutipan di atas cukup merepresentasikan apa yang disajikan Dian Purnomo dalam bukunya Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Melalui novel tersebut, Dian Purnomo memperlihatkan bagaimana fenomena kawin tangkap yang mengatasnamakan budaya merenggut hak dan kebahagiaan perempuan.

Novel ini dimulai dengan tragedi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Magi, tokoh utama, sebagai bentuk perlawanannya menolak kawin tangkap. Peristiwa penculikan Magi terjadi saat ia akan memberikan penyuluhan pertanian di Sumba Barat.

Magi merupakan perempuan yang pernah mengenyam pendidikan pertanian di Yogyakarta. Dalang dari penculikan Magi adalah Leba Ali, laki-laki yang umurnya terpaut jauh lebih tua dari Magi dan terkenal mata keranjang.

Ayah Magi yang menerima Lebah Ali untuk menikahi Magi membuka gelombang konflik. Mulai dari percobaan bunuh diri sampai Magi mengorbankan dirinya terluka hanya untuk balas dendam kepada Lebah Ali.

Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini yakni sudut pandang campuran, di mana narator menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Sudut pandang campuran ini kurang memberikan sentuhan perasaan yang lebih kepada pembaca. Kendati demikian, peristiwa yang ditampilkan sangat membuat mata tergelak serta hati tergerak.

Baca juga :  Kopi: “Kepahitan” Sejarah Berlimpahan Laba

Penggunaan diksi bahasa Sumba dalam novel membuat pembaca yang bukan orang Sumba akan mengalami kesulitan dalam mencerna makna. Tapi di sisi lain hal itu menjadikan novel ini kuat dalam menyajikan kearifan lokal daerah Sumba. Penulis juga berhasil menggambarkan masyarakat Sumba yang sudah mulai modern dengan tetap kuat berpegang teguh pada adat.

Cerita ditulis dengan apik dan selesai. Cerita kehidupan Magi membuat pembaca tersadar bahwa kawin tangkap sangat merugikan perempuan.

Kawin Tangkap

Dian Purnomo melalui novelnya menampilkan wajah kawin tangkap yang dipercayai sebagai adat di wilayah Sumba menjadi tradisi yang membelenggu perempuan. Menurut Komnas Perempuan, kawin tangkap merupakan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mengatasnamakan budaya.

Jika menilik sejarah, proses terjadinya kawin tangkap saat ini berbeda dengan zaman dahulu. Pada zaman dahulu, kawin tangkap berangkat atas persetujuan antarkedua pihak terlebih dahulu. Tapi saat ini, kawin tangkap mengarah pada penculikan karena tidak atas persetujuan perempuan. Bahkan, perempuan menjadi korban pemaksaan serta kekerasan dalam fenomena kawing tangkap.

Fenomena tersebutlah yang tergambar dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Tokoh Magi diculik oleh Lebah Ali tidak atas sepengetahuan Magi. Magi ditangkap oleh sekelompok laki-laki dan dibawa secara paksa ke rumah Lebah Ali.

Magi tidak menghendaki kawin tangkap yang akan menimpa dirinya. Magi tidak mencintai Lebah Ali dan menolak Lebah Ali menjadi suaminya. Hal tersebut yang membuat Magi melakukan berbagai perjuangan sebagai bentuk perlawanan.

Baca juga :  Ulama Teladan Anak-anak
Perjuangan Perempuan ‘Magi’

Fenomena kawin tangkap di masyarakat Sumba ditopang oleh kemiskinan, pembangunan yang tidak merata, serta budaya patriarki yang kental. Kawin tangkap memposisikan perempuan sebagai pihak yang berada lebih rendah dari laki-laki. Perempuan tidak memiliki hak untuk memilih orang yang pantas menjadi pasangan hidupnya. Hanya laki-laki yang memiliki hak untuk memilih.

Fenomena tersebut tergambar dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Magi selaku tokoh utama tidak memiliki hak untuk memilih orang yang pantas dinikahi dan tidak memiliki hak untuk menolak menikah dengan Lebah Ali. Magi menjadi korban kekerasan seksual.

Kendati penculikan Magi membuat Magi melakukan percobaan bunuh diri, hal tersebut tidak membuat Lebah Ali diproses secara hukum lantaran apa yang dilakukan Lebah Ali dianggap benar dan wajar oleh masyarakat.

Pernikahan Magi dan Lebah Ali tetap akan dilangsungkan kendati Magi menolak sekuat tenaga. Saat pernikahan akan dilangsungkan, Magi memilih kabur dari rumah. Berkat bantuan dari tokoh Dangu serta sekelompok gerakan perempuan, Magi dapat survive di jalan pelariannya.

Pasca beberapa bulan meninggalkan kampung halamannya, Magi pada akhirnya kembali karena ingin adiknya kuliah. Adiknya hanya diizinkan kuliah apabila Magi kembali pulang.

Rencana pernikahan Magi dan Lebah Ali sudah dibatalkan saat Magi melarikan diri. Dan hal tersebut tidak diusik oleh keluarga Magi selama beberapa bulan Magi di rumah pasca pelariannya.

Akan tetapi, saat ayahnya sakit, ayahnya meminta Magi untuk segera menikah sebelum meninggal. Demi ayahnya, Magi akhirnya menurut untuk dinikahkan dengan Lebah Ali. Kemauannya tersebut diiringi dengan rencana yang sudah disusun Magi.

Baca juga :  Memaafkan itu, Mudah!

Magi menampilkan sikap seolah-olah ia sudah menyerah dengan Lebah Ali. Kemudian di hari ketujuh pernikahannya, Magi melakukan aksi yang sudah dirancang sebelumnya. Saat Lebah Ali meminta berhubungan dengan Magi, Magi memancing amarah Lebah Ali dengan mengatakan bahwa dirinya kerap bermain dengan laki-laki selama ia kabur dari rumah.

Lebah Ali terpancing dan menganiaya Magi. Setelah itu, Magi melaporkan Lebah Ali ke kantor polisi. Dengan cara itu, Magi berhasil menjerumuskan Lebah Ali ke kantor polisi.

Perjuangan yang dilakukan oleh Magi seolah mengajak pembaca untuk sadar dan berani. Sadar bahwa ternyata di luar sana masih terdapat fenomena yang dianggap sebagai budaya, justru merampas hak dan kebahagiaan perempuan serta memperlakukan perempuan bak binatang. Serta mengajak pembaca untuk berani melawan segala bentuk penindasan yang menimpa perempuan.

Satu hal yang penting yakni dalam novel ini menunjukkan bahwa korban penindasan atau kekerasan membutuhkan rangkulan dan uluran tangan dari berbagai pihak untuk berjuang bersama menumpas segala bentuk partik patriarki di muka bumi.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *