Filosofi Budaya “Sendiko Dawuh” di Pesantren

Kurikulum pendidikan di pondok pesantren dalam perkembangannya tidak hanya mengajarkan literatur-literatur Arab klasik atau kitab kuning saja, melainkan juga unsur-unsur pendidikan lainnya. Pesantren dengan berbagai kekhasannya terus menjelma menjadi lembaga pendidikan yang komprehensif.

Mengapa bisa disebut demikian? Dalam konteks ini pesantren mengajarkan teori sekaligus praktiknya. Lembaga yang embrionya dirintis oleh Walisongo itu kini pada umumnya mengharuskan santri-santri untuk belajar sosial dan spiritual sekaligus.

Dari sini kita dapat mengetahui setidaknya ada tiga (3) hal yang pendidikan pesantren tanamkan kepada para santri, yaitu aspek intelektual, spiritual, dan sosial.

Aspek intelektual ditanamkan melalui pengajaran teori-teori yang ada dalam literatur-literatur Arab klasik. Lalu aspek spiritual ditanamkan melalui kebiasaan berzikir, mujahadah serta tirakat. Sedangkan aspek sosial ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini karena berangkat dari keyakinan bahwa kehidupan sosial di pesantren adalah miniatur kehiduapan sosial di masyarakat nantinya.

Secara umum, landasan dari ketiga aspek tersebut adalah akhlak. Untuk itu, sudah menjadi keharusan di dalam jiwa santri supaya tertanam akhlak-akhlak baik yang selalu dibiasakan. Baik itu akhlak kepada diri sendiri, maupun orang lain.

Pengajaran akhlak di pesantren ditanamkan dengan pembiasaan serta adanya uswah dari gurunya. Inilah yang biasanya membedakan sistem pendidikan karakter di pesantren dan lembaga pendidikan yang lainnya.

Baca juga :  Jawa Barat Jadi Provinsi Pertama yang Terapkan Perda Pesantren
Akhlak Sendiko Dawuh

Salah satu bukti akhlak yang sudah mendarah daging dalam kehidupan pesantren antara lain yakni adanya budaya “sendiko dawuh” kepada guru ataupun kiainya.

Istilah sendiko dawuh merupakan kalimat yang bersumber bahasa Jawa krama inggil (halus). Artinya kurang lebih adalah “saya patuh kepada perkataan pimpinan”.

Kalimat ini pada mulanya dipakai oleh abdi dalem (pelayan) kerajaan ketika menerima perintah atau titah dari sang raja. Bagi ‘karyawan’ kerajaan, perintah atau titah dari raja sifatnya adalah wajib dilaksanakan, tanpa basa-basi penawaran lagi. Siapa yang mendapat perintah dari raja dan mampu mengerjakan dengan tuntas, maka ia dianggap terhormat.

Di kalangan kaum santri, istilah “sendiko dawuh” dimaksudkan untuk menggambarkan ekspresi ketaatan seorang santri terhadap apa yang diperintahkan oleh kiai atau gurunya. Seakan penerimaan tanpa penawaran apa-apa lagi.

Siapa yang mampu menaatinya, maka ia mendapat kehormatan. “Sendiko dawuh” adalah bentuk totalitas ketaatan santri kepada gurunya.

Hal ini karena para santri meyakini akan adanya pengaruh ketaatan pada guru terhadap keberkahan ilmunya. Sehingga “sendiko dawuh” memang benar-benar harus tertancap dalam hati seorang santri.

Menerapkan filosofi “sendiko dawuh” tidaklah mudah. Karena kalimat ini harus sepenuhnya dilandasi dengan perasaan husnudzon kepada sang guru. Biasanya para santri akan teruji kualitas ketaatannya di sini.

Baca juga :  Menjaga Denyut Pesantren di Tengah Wabah Virus Corona

Para santri tidak boleh menyimpan rasa curiga ataupun berprasangka buruk kepada guru. Sehingga sikap berbaik sangka kepada guru adalah hal penting yang harus dilakukan oleh seorang santri.

Nabi Musa pun pernah tidak lulus ujian “sendiko dawuh” tatkala sedang berguru kepada Nabi Khidir. Di mana pada saat itu mereka membuat kesepakatan bahwa Nabi Musa dilarang untuk bertanya tentang apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir nantinya.

Namun, karena Nabi Musa yang sedikit kurang bersabar, akhirnya ia gagal untuk belajar kepada Nabi Khidir sampai tuntas. Penyebanya yakni Nabi Musa menanyakan tentang apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir yang menurutnya tidak sesuai dengan syariat.

Mengenai pentingnya selalu berbaik sangka kepada guru, Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah mengatakan bahwa salah satu akhlak seorang santri kepada gurunya adalah tidak berprasangka buruk. Konteksnya yaitu terhadap apa yang dilakukan atau dikatakan oleh gurunya. Hal ini karena seorang guru sejatinya lebih tahu rahasia tentang apa yang dilakukan.

Menjadi Murid yang Taat

Untuk itu, budaya “sendiko dawuh” di pesantren yang dilandasi dengan sikap berbaik sangka adalah tingkat ketaatan yang tertinggi seorang santri kepada gurunya. Seorang murid tidak akan memikirkan lagi mengapa ia harus melakukan perintah dari gurunya.

Baca juga :  Pemerintah Sediakan Dana 2,6 Triliun untuk Pesantren dalam Hadapi Covid-19

Sendiko dawuh bukanlah ekspresi ketaatan yang buta, tetapi ia menjadi satu keyakinan bahwa dengan ketaatan kepada gurunya adalah salah satu cara untuk menghormati gurunya. Sedangkan untuk menghormati orang lain, apalagi gurunya, adalah hal yang memang harus dilakukan, bahkan sudah seharusnya dilakukan secara ‘spontan’.

Sendiko dawuh tentunya bukan hanya kepada guru saja. Filosofi kalimat yang dilandasi dengan sikap berbaik sangka yang harus selalu dibiasakan kepada orang tua.

Lalu, yang paling menjadi keharusan adalah “sendiko dawuh” dan berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena untuk menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya kita tidak perlu lagi bertanya, “untuk apa aku melakukan ini dan menjauhi itu?”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *