Gayung di Waktu Pagi

Gayung berjalan dengan tangan

Usai pengajian kitab tanpa harakat

Menuju dingin air tetasan dari sunyi malam

Bersiap untuk belajar buku berbahasa

 

Walau linu menjadi pengganggu

Dari duduknya pengajian

Mulai kokok ayam hingga ufuk

Timur menguap sinar keindahan

 

Usai belajar buku berbahasa berbaju sama

Tirakat dimulai dari satu persatu

Yang berkeinginan

Ke makam pendiri

Menunduk kitab suci

 

Dan barakah bukan hanya terjadi

Ngaji depan kyai

Satu persatu menyepi

Dari mengaji-membantu orang dalam-

Hingga memberi makanan hewan-hewan peliharaannya

 

Kadang dari satu persatu santri

Lupa pada nyenyak panjang waktu

Yang berselimut dengan bantal keinginan

Menjadi hari-hari keenakan

 

Benar bila dari satu persatu

Kekurangan daging di balik itu ialah

Bening pengabdian dari berbagai

Situasi kesakitan akan keikhlasan

 

Kadang waktu yang tak patut untuk bangun

Di sanalah dari satu persatu bangkit mengarahkan

Telapak tangan ke atas pencipta meminta dari

Berbagai keinginan dan berterima kasih

 

Jika ada celoteh bahwa kaum sarung

Ialah senjata yang tajam

Lihatlah bagaimana ia mengasah.

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *