Gender, Sains, dan Teknologi

Barangkali literatur terkait kajian perihal gender dan feminisme lambat laun terus bertambah. Keberadaannya menjadi sebuah wacana menarik dalam perkembangan ilmu pengetahuan di zaman ini.

Literatur tersebut masing-masing mencoba untuk menyajikan sebuah cara pandang maupun perspektif dalam membangun konstruksi dalam peran perempuan sebagai makhluk hidup di dunia yang terkadang masih dikesampingkan.

Kita paham pengertian gender sederhananya adalah konstruksi kebudayaan yang lahir dalam sebuah komunitas masyarakat.

Ada banyak persoalan disoroti dalam pengembangan kajian gender maupun feminisme sejauh ini. Mulai pada sektor sosial, kepemimpinan, bahkan sampai menyangkut pada perihal agama. Namun, agaknya ada satu hal yang masih minim menjadi fokus bahasan dalam perkembangan wacana. Satu hal itu berupa membangun relasi wacana gender dalam aspek keilmuan alam atau sains dan teknologi.

Kita menemukan kenyataan tersebut misalnya dalam sebuah buku terbitan LIPI Press dengan judul Gender dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Perkembangan, Kebijakan, & Tantangannya (2018).
Buku tersebut diberi sebuah pengantar oleh sosok ketika itu menjabat sebagai kepala Pappiptek LIPI, Trina Fizzanty.

Di bagian pengantarnya ia menuliskan: “Namun, upaya untuk melakukan kajian atau penelitian tentang penyebab ketimpangan gender dan/atau tentang isu-isu gender dalam iptek, khususnya di Indonesia, kurang populer. Tidak sedikit yang menyatakan bahwa teknologi (iptek) adalah netral gender. Padahal, studi dan kajian dari berbagai negara menyebutkan bahwa perubahan teknologi memberikan dampak terhadap salah satu jenis kelamin, misalnya perubahan ani-ani pemotong pada dengan sabit pada tahun 1970-an telah menghilangkan pendapatan kaum perempuan.”

Pernyataan tersebut tentu saja perlu menjadi sarana untuk melakukan tilikan mendalam perihal diskursus gender dalam sains dan teknologi. Perubahan sedemikian dalam sains dan teknologi, mulai kemajuan teknologi mesin dalam menggantikan jenis pekerjaan tertentu, keterlibatan kelompok perempuan dalam dunia penelitian maupun akademis, hingga revolusi dunia digital dengan berbagai kompleksitasnya secara langsung berpengaruh pada keterlibatan dan peran perempuan.

Baca juga :  Shajarat al-Durr, Pemimpin Perempuan Pertama Dinasti Mamluk

Sangat menjadi pertaruhan saat keyakinan sains dan teknologi itu netral gender tetap menjadi cara pandang. Sangat riskan. Peran perempuan justru semakin terpinggirkan.

Upaya untuk menuju ke sana, mungkin perlu berangkat dari kerangka lanskap pendidikan dengan berbagai tingkatannya. Harus diakui bahwa kajian gender dan feminisme jarang menjadi muatan dalam pendidikan di kurikulum pendidikan kita.

Pada kenyataannya tumpang tindih permasalahan yang melatarbelakangi keberadaan ketidakadilan akan gender. Baik itu meliputi bahan bacaan, metode pengajar, hingga sistem asuhan anak didik ketika berada di rumah. Setidaknya hal itu juga diketengahkan oleh Mary Astuti lewat esainya berjudul Pendidikan Berperspektif Gender (2000).

Ia menjelaskan bagaimana pola asuh terhadap anak didik dari orang tua sangat berpengaruh terhadap pemahaman ke sana—saat katakanlah tak ada perhatian pendidikan gender dari orang tua. Kecenderuangan yang muncul berupa sebuah pola mengarah pada lahirnya kesenjangan gender.

Seperti halnya saat seorang anak perempuan dibatasi dalam mengarungi segala potensi. Menyangkut pendidikan formal, saat pengajar cenderung membatasi pada spesifikasi mata pelajaran, misal matematika, fisika, dan kimia itu pelajaran yang identik dengan laki-laki. Belum lagi terkait dengan referensi dalam proses belajar yang cenderung mengasingkan kesetaraan gender.

Membuka Peluang

Maka, mau tidak mau dua permasalahan tersebut perlu diurai sedemikian rupa di tengah perubahan dan perkembangan zaman yang kian kompleks. Di mana, setiap sudut yang hadir dalam perubahan tersebut sangat erat dengan urusan terkait dengan isu gender. Pendekatan ini akan dispesifikasikan pada realitas pendidikan yang ada.

Baca juga :  Hukum Khitan Perempuan dalam Kitab Manbaus Sa’adah (Bag. I)

Setidaknya ada dua hal yang sejatinya bisa diupayakan bersama dalam proses di dunia pendidikan. Masing-masing berupa pola asuh dan penyusunan perangkat pembelajaran dengan tujuan untuk mengupayakan kesadaran pemahaman gender.

Keduanya membutuhkan skema berupa keberadaan kurikulum pendidikan dan juga arah regulasi maupun kebijakan yang jelas terkait pengarusutamaan gender dalam sains dan teknologi di berbagai tingkatan. Baik daerah, nasional, maupun internasional.

Di buku berjudul sama terbitan LIPI Press sebagaimana disebutkan di atas, kita membaca tulisan Wati Herawati dengan judul Perkembangan, Kebijakan, dan Tantangan Gender dalam IPTEK di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa perbedaan gender masih menjadi faktor pemicu kesenjangan dalam pengembangan digital (digital divide) yang menjadikan persoalan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) di Indonesia, bahkan di hampir semua negara berkembang.

Kita masih menghadapi bagaimana keberadaan sains dan teknologi belum terbebas jeratan sistem patriarki dan identik dengan maskulinitas. Hal itu tak dapat ditampik, saat kenyataan lain dalam skema pendidikan kita menemui beragam masalah perihal pengarusutamaan gender.

Sains dan teknologi dalam lembaran demi lembaran baik itu di buku, majalah, surat kabar, hingga situs internet diidentikkan berupa stereotip laki-laki. Wujudnya bisa berupa ilustrasi, gambar, dan narasi pengetahuannya. Itu menjadi masalah mendasar saat kita berbicara terkait pendidikan. Akan bagaimana apa yang dilihat oleh peserta didik adalah apa yang akan membangun imajinasi dan konstruk pengetahuan dalam prosesnya.

Baca juga :  Diam Sebagai Laku Spiritual Inggit Garnasih

Di sisi lain, belum banyak kajian secara komprehensif terkait bagaimana relasi antara pemahaman gender dengan relasi sains dan teknologi. Oleh sebab itu, bisa jadi upaya bagaimana terus melakukan kajian pendekatan antara keduanya menjadi satu langkah dalam menerka masalah demi masalah yang melatarbelakangi kesenjangan gender dalam sains dan teknologi itu.

Tatkala habitus itu telah tumbuh, setidaknya di kalangan akademisi, cendekiawan, peneliti, hingga tenaga pendidik, kita dapat mengarahkan bagaimana implementasi ideal yang perlu dilakukan.

Baik itu di tataran pengajaran di bidang pendidikan berupa kurikulum dengan segala perangkatnya, pengembangan sumber daya manusia dalam profesi maupun pekerjaan terkait dengan bidang sains dan teknologi, hingga diaspora sumber daya manusia di berbagai lembaga penelitian maupun instansi lain berhubungan dengan sains dan teknologi.

Di mana, arah tersebut dilandasi oleh kesadaran bersama akan pengarusutamaan gender. Sains dan teknologi bukan hanya milik laki-laki saja maupun perempuan saja, namun siapa saja bisa ambil peran dengan didasari pada keahlian dan kemampuan tiap individu. Begitu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *