Generasi Milenial, Biar Gaul Asal Sholeh

Gampangnya, kalau ngomongin generasi milenial berarti membahas anak muda. Setahu gue, milenial adalah mereka yang lahir sekitar tahun 80-an, 90-an, dan 2000-hingga sekarang. So, selain itu, boleh enggak ngaku milenial?

Ya boleh-boleh saja, karena menurut gue milenial tidak hanya berkaitan dengan tahun lahir saja. Milenial juga ‘cara pandang’ dan sikap seseorang mengenai hidup dalam kehidupan.

Gue pribadi sehari-hari berinteraksi dengan milenial bahkan lintas generasi. Menarik memang, apalagi bergaul dengan generasi 2000-an. Sejak 2013, gue menjadi ‘teman’ (guru) bagi mereka di sekolah swasta di Jakarta.

Faktanya, meskipun gue dan mereka sama-sama tergolong milenial, tapi cukup sulit untuk saling mengerti dan akrab satu sama lain. Entah karena gue beda milenial (90-an), atau karena posisi gue sebagai guru yang kadang ‘jaim’, atau juga karena mereka segan terhadap sosok guru.

Baca juga :  Perbedaan Generasi Milenial, Gen Z, dan Gen X

Berjalannya waktu, dan bertambahnya pengalaman bergaul, gue akhirnya semakin tahu pola pikir, dan kemauan mereka seperti apa, khususnya dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Singkatnya, gue menjadi ‘akrab’ dengan pergaulan mereka. Bahkan di luar sekolah pun, mereka tidak segan manggil gue dengan Bang, Mas, dan lain-lain. Terkadang juga ngopi bareng, main futsal, dan diskusi santai.

Mendidik Kaum Milenial

Apa untungnya kalau akrab dengan milenial? Pengalaman gue sebagai guru, justru mereka lebih aktif bertanya di luar sekolah, misalnya pada saat di cafe. Mereka begitu intens bertanya masalah-masalah seputar agama, meskipun ujung-ujungnya tercampur dengan obrolan sepakbola, playstation (PS), dan pergaulan pribadi mereka.

Sebagai pendidik, gue berprinsip begini: “Masuklah ke dunia mereka, jangan maksa mereka untuk masuk ke dunia kita”. Dengan demikian, gue lebih gampang menjawab, dan membantu berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Baca juga :  Generasi Muslim Milenial 4.0 dan Tantangan Masa Depan

Memang, masalah anak muda adalah sangat complicated, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala berpesan dalam berbagai ayatnya. Di antaranya, dalam surat An-Nisaa’ ayat 9, bahwa bekal terpenting bagi mereka adalah keimanan. Mengapa demikian? Kita bisa baca Surat Al-Kahfi ayat 13, Allah berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (QS. Al-Kahfi [18]:13)

Dengan keimanan, hati mereka akan senantiasa terpaut dengan tempat sujud, dan segala aktivitas hidupnya diniatkan semata-mata mengabdi karena Allah. Anak muda semacam ini adalah termasuk tujuh (7) golongan yang akan mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah:

وَشَابٌ نَشَأ بِعِباَدَةِ اللهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari, No. 1423 dan Muslim, No. 1031)

Baca juga :  Generasi Milenial Alami Gangguan Mental, Bagaimana Solusinya?
Milenial Harus Sholeh

Lalu, pertanyaan berikutnya, mengapa generasi milenial atau anak muda harus sholeh? Al-Qur’an menjawab dengan dahsyat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 105:

   وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh.” (QS. Al-Anbiya’ [21]:105).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa, orang-orang sholeh akan bahagia dunia dan akhirat, karena mereka mendapatkan warisan bumi di dunia, dan di akhirat (berupa bumi surga). Baca juga Surat Al-A’raaf ayat 128. Karena itulah, dalam shalat (tahiyat akhir) kita selalu berdoa:

السلام علينا وعلي عباد الله الصالحين

“Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita, dan hamba Allah yang baik-baik”

Baca juga :  Menjadi Generasi Milenial yang Akrab Pancasila
Muda, Gaul, dan Keren

Lantas, apakah anak muda yang saleh itu harus menyendiri di masjid saja? Ber-gaul hanya dengan sesama suku, agama, ras, dan golongannya saja. TIDAK! Justru mukmin yang supel lebih keren. Why? Sebab, ia terlatih dengan siapa saja bergaul, dan bersabar dengan tantangan apa pun. Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ اَلَّذِي يُخَالِطُ اَلنَّاسَ, وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ اَلَّذِي لَا يُخَالِطُ اَلنَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ  

 “Mukmin yang ber-gaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar dengan gangguan mereka”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 388).

Allah juga menegaskan dalam Surat Al-Hujurat 13:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Pertanyaan terakhir, lalu siapa generasi Milenial Sholeh Gaul (MSG) itu? Ya tentu kalian yang sedang membaca tulisan ini. Semoga! Amin!

Baca juga :  5 Karakter Sunan Kudus Ini Patut Diteladani Kaum Milenial
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *