Gus Dur, Sang Doktor Humoris Causa

Kalau ada orang yang mendapatkan gelar bertitel “Doktor Honoris Causa” itu sudah biasa.  Sedangkan kalau ada orang yang mendapatkan gelar bertitel “Doktor Humoris causa” itu baru luar biasa. Kira-kira itulah gelar yang pas untuk disematkan kepada KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur, seorang tokoh nasionalis yang humanis dan humoris.

Sebagai seorang tokoh nasional, Gus Dur dikenal sebagai kiai humor. Beberapa kali, guyonan, lawakan, joke, anekdot, dan beragam selorohan mewarnai komentar, ungkapan, ceramah, bahkan pidato sekalipun. Sehingga agak sulit untuk membedakan antara keseriusan dan guyonan Gus Dur.

Banyak kalangan menilai Gus dur, bahwa guyonan yang disampaikan oleh Gus Dur tidak sekadar guyonan. Namun, di balik itu semua mengandung serat makna yang begitu dalam. Permasalahan dan solusi kerap sekali beliau sampaikan dalam bentuk canda tawa, sehingga hal yang berat terasa ringan, dan mudah dicari jalan keluarnya.

Gus Dur tidak hanya piawai dalam melontarkan humor-humor berkenaan dengan dunia politik, tetapi juga humor-humor yang berkenaan tentang dunia, budaya, tradisi, sosial, agama, dan pendidikan. Bahkan lebih sekadar dari itu, beliau justru berlian dalam menghumori dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah saat seminar tentang Sunan Drajat di Surabaya sekitar tahun 1997.

Baca juga :  Paul Wolfowitz dan Gus Dur: Persahabatan Diplomat dengan Kiai Intelektual

“Pak Ruslan Abdul Ghani itu seorang tokoh revolusi punya gelar bertitel Doktor Honoris Causa. Sedangkan kalau Pak Soedono seorang mantan pankopkamtib dijuluki Doktor Honoris Causa, karena ditakuni. Lha, kalau saya cukup Doktor Humoris Causa,” kata Gus Dur yang langsung disambut tawa semua hadirin. Hhhhh…..

Humor, bagi orang semacam Gus Dur dan para kiai di pondok pesantren merupakan bagian dari karakter kearifan lokal yang khas. Humor di pesantren terus terjaga dan berjalan hingga saat ini. Itu semua dilakukan tidak lain untuk mensiasati suasana agar tidak monoton, sumpek, atau pun tegang saat pengajian kitab kuning dimulai.

Seperti yang kita ketahui, penampilan Gus Dur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Dan dalam setiap pertemuan formal maupun informal, Gus Dur selalu menyempatkan diri untuk menyelipkan selingan dengan kata-kata humor. Hal ini dilakukan tidak lain adalah untuk mencairkan suasana yang kaku menjadi lebih rileks.

Bahkan ketika ditanya tentang hobinya, dengan kelakar Gus Dur menjawab, “Hobi saya adalah “Humor”, karena humor bagi saya sudah menjadi makanan sehari-hari.”

Gus Dur sendiri, seperti yang kita ketahui, selain sebagai orang yang berlatar belakang pesantren, sebuh dunia santri yang kaya dengan humor, serta alegori-alegori kearifan humor yang khas. Beliau juga adalah alumnus sebuah Universitas di Mesir (al-Azhar), yakni sebuah negara yang ditempa oleh pengalaman eksistensial yang panjang sekaligus menyimpan kekayaan humor-humor cerdas yang menyegarkan.

Baca juga :  Sejarah Imlek dan Khonghucu di Indonesia

Dari latar belakang inilah yang kurang banyak diketahui oleh masyarakat, bahwa Gus Dur memiliki kecerdasan tingkat dewa dalam intellectual chains serta humor-humor yang mencerdaskan nan menyegarkan terus mengalir hingga kini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.