Gus Dur, Tionghoa, dan Pesantren

Indonesia masa depan. Apa yang diperlukan? Kemapanan intelektual? Ya. Intelektual yang mapan, yang terkoneksi dengan perilaku baik amat sangat diperlukan di negeri Pancasila ini.

Seperti ‘pernyataan’ yang banyak berseliweran di media masa, “Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Hanya butuh orang-orang yang jujur”. Dalam tradisi masyarakat kita, pintar dan jujur kerap kali dibeda dan dipetak-petakkan.

Dalam hal ini, dunia pendidikan di Indonesia mengenal dua kata yang sebenarnya satu tujuan, tetapi kerap kali dibeda-bedakan: “mendidik” dan “mencerdaskan”. Kedua istilah ini dipercaya dapat membentuk karakter yang berbeda.

Dalam praktiknya, “mendidik” dan “mencerdaskan” dapat direpresentasikan ke dalam dua institusi yang dikenal dengan ‘sekolah umum’ dan ‘pesantren’. Perbedaan mencolok dari keduanya adalah kurikulum yang dipakai di dalamnya.

Sekolah umum menggunakan kurikulum dari Pemerintah, sementara pesantren, Seperti yang ditulis Insan Kamil Sahri (Pesantren, Kiai, dan Kitab Kuning, 2021: 177), mengacu pada kitab kuning. Kitab kuning kerap kali menjadi pegangan utama di pesantren untuk mentransmisikan ideologi Islam tradisional untuk para santri yang mempelajari ilmu agama secara konsisten.

Dunia Pesantren pernah melahirkan seorang figur yang raganya sebagaimana umumnya orang Indonesia, akan tetapi pikiran, gagasan dan hati yang dimiliki jauh melampaui di atas rata-rata. Ia bernama Gus Dur.

Baca juga :  Gus Dur, Fidel Castro dan Diplomasi Humor 

Gus Dur adalah sebuah nama atau panggilan akrab yang penuh hormat untuk KH Abdurrahman Wahid. Presiden ke-4 Indonesia, yang dengan sangat tepat dan berani menghadapi segala risiko dalam memperjuangkan cita-cita demokrasi khususnya perihal pluralitas. Ia menjadi pembela minoritas, juga tidak pernah membedakan siapapun berdasarkan agama maupun etnisnya.

Sekitar 21 tahun silam, Presiden yang berlatarbelakang santri itu mencabut aturan yang dibuat pada mas Presiden Soeharto mengenai larangan merayakan tahun baru China. Bahkan, Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, sebagaimana perayaan hari raya agam-agama yang diakui Indonesia.

Hari diterbitkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6/2000 yang sekaligus mencabut Inpres nomor 14 Tahun 1967 yang berkenaan dengan pembatasan agama, kepercayaan dan adat China bisa dibilang sebagai ‘angin segar’ sekaligus ‘fajar baru’ bagi Pewaris Kebudayaan Tionghoa.

Layaknya undangan pesta, warga Tionghoa tidak perlu lagi sungkan dan sembunyi-sembunyi untuk mengenalkan kebudayaan mereka. Tepat 5 Februari tahun 2000 adalah momen untuk kali pertama Imlek dirayakan tanpa kecemasan. Kebudayaan Tionghoa dikenalkan, televisi swasta bahkan menyediakan warta berita dalam bahasa Mandarin, dan seterusnya.

Kebijakan Pemerintah di bawah “Kabinet Persatuan Nasional” ini pun disambut baik oleh masyarakat luas, penggunaan sistem politik inkorporasi (penyeragaman) dengan konsep multi-kulturalisme memotret sosok Presiden Gus Dur yang luwes dan luas.

Baca juga :  Sisi Lain Ketika Gus Dur Menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta

Gus Dur, bukan hanya dalam pandangan etnis Tionghoa, namun juga bagi warga Nahdliyin, yang memandang sosok Gus Dur juga menjelma sebuah “dentuman besar” yang mengubah persepsi kebanyakan masyarakat di lingkungan NU.

Secara kultural, Gus Dur mengangkat martabat pesantren ke level yang belum tercapai sebelumnya. Bagi sebagian orang, Gus Dur menjadi sangat istimewa karena ia adalah produk asli pesantren. Ia tumbuh di sana, dibentuk pemikiran dan karier keilmuannya pun dimulai di lembaga yang embrionya sudah ada sejak era Walisongo.

Dunia Pesantren menemukan juru bicara yang amat gemilang. Juru bicara yang hebat serta berperan mengangkat pesantren ke pentas nasional bahkan internasional. Kiprahnya tidak lagi bisa disepelekan, tidak lagi dipandang sebagai dunia ‘liliput’.

Dengan begitu, suara santri semakin diperhitungkan sebagai kalangan yang berbasis tradisional namun dengan pandangan yang visioner. Melalui Gus Dur juga, pesantren yang semula diejek, diolok-olok sebagai “kaum sarungan” yang terbelakang dari modernitas seketika naik maqom. Pesantren langsung berubah menjadi dunia yang diminati dan disegani kalangan luar.

Sebagai seorang santri yang tumbuh dari tradisi pesantren, penulis pribadi teramat bangga kepada manusia besar dengan panggilan akrab Gus Dur. Seorang santri yang (pernah) mondok di pesantren salaf, tetapi bobot pemikiran, sikap dan keilmuannya tidak tersekat dalam lingkaran yang sempit itu.

Baca juga :  Paul Wolfowitz dan Gus Dur: Persahabatan Diplomat dengan Kiai Intelektual

Pada 30 Desember 2009 silam, Bapak Pluralisme-Guru Bangsa itu berpulang. Wafat. Selamat jalan, Gus, terima kasih banyak untuk segala jasa, istirahatlah dengan tenang, damai, dan mendoakan kami, Bangsa Indonesia ini. Salam, doa, dan berkat dari Tuhan.

Foto ilustrasi: Lukisan Gus Dur memakai pakaian khas ala Tionghoa (Media Indonesia)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.