Gusti Nurul; Perempuan Pujaan dan Penentang Poligami

Gusti Nurul

Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kumalasari Ngasarati Kusumawardhani alias Gusti Nurul merupakan seorang perempuan kelahiran tahun 1921 yang berparas cantik dan terpelajar. Ia adalah putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer.

Mangkunegara VII merupakan putra dari kalangan ningrat Surakarta dan Gusti Ratu Timoer putri dari Kesultanan Yogyakarta. Zaman dulu Mangkunegara dan Kesultanan Yogyakarta tidak boleh menikah akibat perpecahan politik di masa Belanda. Dan ini merupakan pernikahan pertama antara dua kubu yang berselisih.

Yang menarik adalah sosok Gusti Nurul menjadi perempuan yang dijuluki pematah hati para pria super power di Indonesia. Konon banyak pria yang mengagumi dan ingin mempersuntingnya namun ditolak karena tidak satu prinsip dengannya. Sederet pria super power, mapan dan paling berpengaruh di Indonesia yang ingin menyuntingnya yakni, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Soekarno, Sutan Sjahrir dan GPH Djatikusumo, meskipun kebanyakan sudah beristri.

Gusti Nurul merupakan simbol perempuan yang berpendidikan tinggi yang sangat menentang keras poligami. Sesuatu yang belum lazim saat itu. Prinsip itu pula yang membawanya ke jenjang pernikahan saat usianya sudah memasuki 30 tahun. Ia menikah pada tanggal 24 Maret 1951 dengan seorang tentara, Raden Mas Surjarso Surjosurarso.

Beliau juga berprinsip bahwa perempuan tidak hanya berada di dapur. Perempuan juga bisa aktif berkegiatan dan bersosialisasi dengan dunia luar. Sebagai seorang putri Jawa ternyata Gusti Nurul memiliki hobi berkuda, main tenis dan berenang. Beberapa kebiasaan yang agak tabu untuk perempuan di masa tersebut. Karena dikenal aktif dan cerdas, ia seringkali dilibatkan dalam perkumpulan. Misalnya ketika Sutan Sjahrir mengundangnya untuk dilibatkan dalam Perundingan Linggarjati.

Baca juga :  Bolehkah Perempuan Memimpin Rumah Tangga?

Sosok Gusti Nurul pernah masuk majalah legendaris Life milik Amerika Serikat edisi 25 Januari 1937. Fotonya saat menari di hari pernikahan putri Juliana dan pangeran Bernad dipajang dalam majalah tersebut. Ia menari di istana Noordeinde dengan tarian serimpi sari tunggal diiringi musik gamelan.

Tarian yang dibawakan Gusti Nurul begitu memikat nan indah. Maka tak pelak, putri dari Mangkunegara ini dijuluki “De Bloem Van Mangkunegara” oleh Ratu Wilhelmina karena keluwesan menari.

Tidak hanya piawai menari. Ternyata ia juga merupakan pakar dalam pengetahuan kosmetik tradisional dan jamu. Hal ini disampaikan oleh Martha Tilaar sebagai pakar dan produsen kosmetik trasional yang banyak belajar mengenai kosmetik tradisional dari Gusti Nurul.

Anti Poligami

Berbicara hal ini, mari kita lihat saat peringatan Hari Perempuan Internasional beberapa waktu silam. Tepat tanggal 8 Maret tahun ini, tema kampanye yang diangkat oleh International Women Day (IWD) adalah “Choose To Challenge”.

Tema ini diangkat sebagai bentuk bahwa kaum perempuan berani mengambil pilihan dan tantangan. Lantas, pesan yang disampaikan melalui kampanye ini adalah melawan ketidaksetaraan, bias, dan steriotip terhadap kaum perempuan.

Maka, sosok Gusti Nurul merupakan potret perempuan Indonesia dalam menuntas bias, ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa berpendidikan tinggi dan tidak hanya bekerja di dapur saja. Ia juga membuktikan bahwa perempuan bisa memilih untuk menentang, dengan memegang teguh prinsipnya bahwa perempuan berpendidikan tinggi pantang untuk dipoligami.

Baca juga :  Diam Sebagai Laku Spiritual Inggit Garnasih

Sikap tegas Gusti Nurul yang menolak poligami merupakan sikap yang melampaui zamannya. Apalagi dia berasal dari dalam istana tradisional yang lekat dengan kehidupan poligami. Dalam memegang teguh prinsipnya, ternyata ia memiliki alasan yang kuat. Ia melakukannya sebab tidak mau dan tak sudi menyakiti hati sesama perempuan. Pemikiran Gusti Nurul tersebut menjadikannya sebagai sosok perempuan modern di zamannya.

Dalam buku Gusti Nurul Mengejar Kebahagian gubahan Ully Hermono dijelaskan. Bahwa Gusti Nurul menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak perempuannya. Sebelum anak perempuannya menikah, ada tiga pesan yang harus diperhatikan betul-betul.

Pertama, jangan mau dimadu karena perempuan terhormat pantang untik dimadu. Kedua, jika suamimu tinggal di kolong jembatan maka kamu harus selalu ikut. Ketiga, jika memiliki rumah sendiri maka adik perempuanmu tidak tidak boleh ikut serumah. Gusti Nurul juga membebaskan pilihan pasangan hidup kepada anak-anaknya asal sesuai pilihan dan nyaman menjalaninya.

Hingga usianya tidak lagi muda, beliau masih berperan aktif di berbagai perkumpulan. Menginspirasi para pemudi Indonesia untuk berperan aktif dalam hal apapun yang menyangkut kemaslahatan bersama.

Meskipun Gusti Nurul sudah meninggal, akan tetapi pesona dan kecerdasannya beliau masih mengikat hati masyarakat. Untuk mengenang kisahnya yang jarang diketahui oleh masyarakat, kita bisa mengunjungi museum Ullen Sentalu di Sleman, Yogyakarta.

Baca juga :  R.A. Lasminingrat; Sastrawan Perempuan Pertama dari Tanah Sunda

Di dalam museum ini ada ruang yang berisikan album hidup Gusti Nurul dengan dihiasi dokumentasi foto pribadi Gusti Nurul dari masa kecil hingga pernikahannya dengan Raden Mas Sujarso Sujarsuraso. Museum ini diresmikan pada tahun 2002.

Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa jawa yaitu, Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku yang memiliki arti “Nyala lampu blencong yang merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafat tersebut diambil dari sebuah lampu minyak yang biasa dipergunakan saat pertunjukan wayang kulit.

Akhir kata, sebuah pesan yang dikemas dalam perjalanan hidupnya patut kita tiru. Selain karena prinsipnya yang sangat teguh dijunjung hingga anak cucunya, prestasi yang dimiliki pun patut dijadikan motivasi bagi kita semua khususnya kaum perempuan. Banyak tokoh perempuan Indonesia terdahulu yang perjalanan hidupnya menjadi contoh untuk kita ikuti, bukan karena trend nya tapi karena spektakuler pemikirannya,

Oleh: Noppy Octapia

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *