Habib Husein, Dai Milenial, dan Cerita Masa Kecil yang Filosofis

Habib Husein Ja’far Al-Hadar dikenal sebagai pendakwah atau dai milenial dengan gaya penyampaian yang asyik. Habib Husein, nama sapaannya, mulai terkenal lewat channel youtube miliknya bernama “Jeda Nulis” yang banyak membahas tentang isu-isu terkini yang dilihat dari segi agama dan filsafat.

Dengan pembawaan yang asyik dan santai, konten-konten dari Habib Husein pun cepat populer dan viral. Tak jarang dia juga berkolaborasi dengan berbagai public figure dari kalangan artis, content creator, komedian, dan lainnya. Di antara nama-nama populer yang pernah diundang, seperti Boy William, Andre Taulany, Coki Pardede, dan Tretan Muslim.

Salah satu pemikiran Habib Husein yang berbeda dengan kebanyakan orang adalah dirinya menyuruh orang yang mau mualaf untuk belajar kembali agama asalnya. Hal ini karena untuk memastikan bahwa dia pindah agama bukan karena salah paham dengan agama yang lama.

Selain itu, alasannya lainnya yaitu ketika mengucapkan syahadat itu harus menghapuskan keyakinan yang lama dan meyakini Islam sebagai agama yang benar. Dari situ bisa dilihat bahwa dia sangat menggunakan logika untuk melihat keagamaan.

Metode tersebut diterapkan karena tak lepas dari masa kecil Habib Husein yang lahir dalam keluarga yang selalu mengajak berpikir filosofis dalam melihat sesuatu, termasuk soal masalah agama.

Baca juga :  5 Karakter Sunan Kudus Ini Patut Diteladani Kaum Milenial

Habib Husein lahir di kampung Arab, yang mayoritas masyarakatnya juga keturunan Arab (habaib). Dia menyebut masa kecilnya sangat ‘Arab sentris’, mulai dari masalah ibadah, sekolah, hingga bermain.

Menariknya, dia juga pernah mengaku bahwa dirinya memiliki beban ganda sebagai seorang keturunan Arab dan sekaligus anak dari ketua komunitas Arab di daerahnya. Stigma ini yang menjadikannya menjadi seseorang yang harus selalu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar, baik secara pemikiran maupun perilaku.

Pola asuh dari sang ayah, satu dari sedikit orang di komunitas Arab, sangat memengaruhi karakter Habib Husein yang tidak hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang agama, melainkan juga dari logika dan filsafat. Setidaknya ada dua hal yang menjadi landasan dirinya.

Pertama, Habib Husein menceritakan dirinya pernah disuruh oleh ayahnya beli oskadon (obat sakit kepala), tetapi dia tidak menemukan oskadon di warung yang dituju. Ketika itu dia pulang dengan tangan kosong dan dimarahi oleh ayahnya.

Apakah karena tidak dapat oskadon? Tentu bukan! Alasan kenapa dia tidak beli obat sakit kepala yang lain karena yang ayahnya butuhkan adalah “obat sakit kepala”. Ayahnya menginginkan dia segera berinisiatif untuk membeli obat lain ketika mengetahui obat yang diinginkan itu tidak ada.

Baca juga :  Aksara Arab Pegon sebagai Narasi Dakwah Mbah Sholeh Darat di Nusantara

Dari peristiwa tersebut Habib Husein kini menyadari bahwa sedari kecil dia sudah diajak berpikir kritis dan logis. Dilatih untuk mengambil keputusan berdasarkan nalar yang dibangun dengan kritis dan tepat.

Kedua, Habib Husein dan keluarganya mempunyai kebiasaan unik, yakni berkumpul bersama pada waktu pagi setelah Shalat Subuh, sore hari, atau malam setelah Shalat Isya, dan membicarakan banyak hal dari sisi rasional dan filosofis.  Contohnya kenapa kita harus shalat?  Jawaban yang diinginkan ayahnya bukan sebatas karena itu perintah agama, tapi apa dampak salat bagi kehidupan kita.

Dua dasar tersebut diceritakan sendiri oleh Habib Husein ketika diundang secara eksklusif di channel youtube The Leonardo’s beberapa bulan lalu.

Apa yang dilakukan Ayah Habib Husein mencerminkan konsep parenting yang dijelaskan oleh Syekh Jamal Abdurrahman dalam buku Islam Parenting (2010: 103-126). Di antaranya menasihatinya baik-baik dengan cara diskusi, menarik perhatian anak, dan membiarkan anak untuk melakukan apa yang disukai selama itu tidak berbahaya.

Melalui pola pengasuhan yang baik, maka lahir pula karakter pribadi yang baik. Helmawati dalam buku Pendidikan Keluarga Teoritis dan Praktis (2014: 166-169) juga menuturkan salah satu cara membentuk karakter anak yaitu dengan keteladanan.

Baca juga :  Ulama Jambi (2): Ulama-Ulama Yang Mengarang Kitab

Dalam konteks ini, hal tersebut juga telah dilakukan oleh Ayah Habib Husein sebagai seorang tokoh agama di daerahnya serta seorang ayah yang mendidik anaknya dengan memberikan keteladanan berpikir kritis.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.