Habib Luthfi Bin Yahya: Filosofi Sebutir Nasi dan Toleransi dalam Doa Makan

Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam acara Silahturahmi Nasional Lintas Agama menerangkan tentang nilai toleransi yang terkandung dalam doa sebelum makan. Nilai tersebut berkaitan dengan nasionalisme bagi warga negara Indonesia.

Berikut kutipan ceramah Habib Luthfi bin Yahya:

Kenapa nasionalisme sekarang kok merosot? Mau diakui atau tidak?

Rasa memiliki hanggar beni kepada Republik ini, yang di-backup  agama masing-masing sebagai benteng yang kokoh.

Apakah tidak khawatir selaku bangsa, kalau merosot dan meluntur rasa hanggar beni memiliki kepada Republik ini?

Setiap anak apabila taatnya kepada orang tua luar biasa, pasti mengetahui jerih payahnya bagaimana orang tua mencari sesuap nasi.

Bagaimana orang tua bapak, bangun pagi sampai sore hari, banting tulang untuk regenerasi (keluarganya). Tapi, bagaimana kalau sudah tidak mengetahui perjuangan orang tua?

Ya, terkadang kita bingung, bagaimana dengan bangsa ini? Bagaimana Republik ini? Apa sekonyong-konyong Merah Putih itu berkibar kehendak sendiri saja?

Satu butir nasi saja yang andil itu bukan satu tangan!

Guru saya itu kalau mau makan pakaiannya rapi, seperti mau pergi saja, walaupun sederhana. Lalu saya selaku muridnya saya bertanya, tapi saya minta dididik pertanyaannya.

Baca juga :  Mengenal Habib Abu Bakar bin Umar Assegaf, Wali Qutb dari Gresik

Kiai, kados pundi toto kromone tiyang dahar? Bagaimana kiai, adatnya orang makan? Saya minta diajari.

Lalu guru saya mengatakan:

Bib, bib, ini sebutir nasi ini, ratusan tangan yang andil, bib. Kalau begitu jatuh satu saja saya ambil, karena saya tidak mampu menciptakan setengah butir nasi saja,  tidak mampu. Apalagi satu butir. Jadi saya berpakaian begini ini, hormat kepada si pemberi rezeki.”

Itu hebatnya, lalu kalau sudah menghormati kepada pemberi rizki yang muncul syukur, akhlak, adab, mau nyalahkan ndak bisa. Itu adab orang makan.

Sedangkan doanya mau makan saja mengundang toleran yang sangat luar biasa, yakni menggunakan harful jama’ (kata plural) tidak menggunakan mufrod  (kata  tunggal) dalam grammer.

Artinya “kami” atau “kita” tidak menggunakan kalimah “saya”.

 الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Ya Allah berkahilah kami atau kita semuanya. Yang nyangkul yang matun yang sebagainya (dalam) pertanian.

Nah, dari situlah andil-andil tangan banyak sekali. Sampai jadi nasi pun tidak cukup satu tangan.

Jadi kalimah الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ tidak hanya untuk di dunia saja, sampai di akhirat pun:

“Berkahilah kami semuanya rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah dari api neraka.”

Baca juga :  Habib Luthfi: Membangun Jiwa yang Kuat untuk Benteng Iman dan Imun

Jangan sampai di dunia ini kita menerima rezeki dari Allah untuk dimanfaatkan yang tidak manfaat, sehingga hidup ini tidak berarti.

Doa dalam makan saja sudah begitu hebatnya, saya mau tanya, bagaimana dengan Republik ini?

Sumber pengajian:Habib Luthfi – Filosofi Doa Makan

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *