Habib Zain bin Smith, Sang Penjaga Tasawuf Al-Ghazali

Habib Zain bin Ibrahim bin Smith merupakan ulama besar abad ini. Beliau lahir di Jakarta 1357 H/1936 M. dan sekarang tinggal di Madinah. Hingga saat ini, para muridnya banyak tersebar di Nusantara.

Karya-karyanya banyak dikaji di Pesantren. Seperti, Manhaj as-Sawi syarh Thariqah Saadah Ali Ba’alawi, Fawaid al-Mukhtarah, dan Hidayah at-Thalibin fi Bayani Muhimmah ad-Din. Oleh karenanya nama Habib Zain bin Ibrahim bi Smith tidaklah asing di kalangan Pesantren.

Menurut Mbah Maimun Zubair dalam karyanya al-‘Ulama al-Mujaddidun, bahwa Habib Zain bin Ibrahim bin Smith merupakan seorang Mujaddid (pembaharu) di abad ini. Pasalnya, selain dilihat dari karya-karyanya yang banyak, beliau juga menggunakan seluruh waktunya untuk mengajar.

Selain dikenal dengan ahli fiqih, habib Zain bin Ibrahim Smith juga dikenal dengan ahli tasawuf dan seorang sufi. Adapun landasan tasawuf beliau, berangkat dari sebuah hadits Nabi Saw.:

Diriwayatkan dari Umar bin Khatab, ia berkata; Suatu hari ketika kami sedang duduk bersama Nabi, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, yang tidak diketahui atasnya bekas berpergian, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya.

Kemudian ia duduk, dan menyandarkan (menempelkan) lututnya ke lutut Nabi, serta meletakkan telapak tangannya ke paha Nabi. Lalu ia berkata: Ya Muhammad, ceritakan kepada tentang Islam. Nabi menjawab: Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya, laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan berhajilah jika kamu mampu.

Baca juga :  Imam Al-Taftazani, Murid Bebal yang Akhirnya Menjadi Ulama Ahli Bahasa-Sastra

Laki-laki tersebut berkata: “Kamu benar. Kami (Umar dan para sahabat) heran dengannya, dia bertanya kepada Nabi dan membenarkan jawabannya.”

Kemudian laki-laki tersebut berkata: “Beritahukan kepada ku tentang iman.” Nabi menjawab: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan beriman kepada ketentuan-Nya, baik itu jelek maupun baik.”

Laki-laki tersebut berkata: “Kamu benar, beritahukan kepada ku tentang ihsan.” Nabi menjawab: “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engaku melihatnya, jika engkau tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya Allah mengetahuimu.”

Laki-laki tersebut bertanya lagi: “Beritahukanlah kepada ku tentang hari kiamat. Nabi menjawab: orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

Laki laki tersebut berkata: “Ceritakanlah kepadaku tanda-tandanya. Nabi menjawab: Ketika seorang budak melahirkan anak tuannya, dan jika engkau melihat orang-orang badui berjalan dengan bertelanjang kaki, miskin, lagi pengembala kambing, berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.

Kemudian laki-laki tersebut pergi. Maka saya (Umar) diam dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi berkata: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya.” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Nabi bersabda: Lelaki tersebut adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari tentang agama kalian.”

Islam, Iman, dan Ihsan

Habib Zain memberikan penafsiran hadits di atas, bahwa hadits tersebut mencakup tiga hal pokok dalam agama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya menyimpan tiga macam ilmu:

Baca juga :  Biografi KH Sya’roni Ahmadi Kudus [Lengkap]

Pertama, fiqih, yaitu ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat yang untuk diamalkan. Dan Allah sudah mewajibkan dalam pelaksaannya terhadap orang Muslim.

Kedua, tauhid, yaitu sesuatu yang wajib untuk meyakininya bagi mukallaf baik itu sifat ketuhanan, kenabian, dan sesuatu yang didengar dari syaria’at.

Ketiga, tasawuf, yaitu ilmu perangai hati, yang wajib bagi seorang hamba untuk menghiasi dirinya dengan perangai yang dapat menyelamatkannya, dan membersihkan dirinya dari sifat tercela.

Menurut Habib Zain, ketiga ilmu tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, artinya ketiganya merupakan suatu bangunan utuh, yang harus dipelajari oleh para pelajar Muslim.

Ajaran Tasawuf Habib Zain bin Ibrahim bin Smith

Seperti,para Sayyid pada umumnya, dalam tarekat tasawufnya, Habib Zain berpegang teguh pada tariqah as-Sadah ‘ali ba’alawi. Thariqah as-Sadah ‘ali ba’alawi  adalah sebuah jalan atau metode (tarekat), atau tata cara tertentu yang digunakan kaum Ba’alawi dalam perjalanannya menuju Allah.

Ajaran dan amaliyah tariqah as-Sadah ‘ali ba’alawi merupakan perpaduan antara tasawuf Imam al-Ghazali dan tarekat syadziliyyah yang dikemas dalam bentuk pengamalan yang mudah bagi kalangan umum umat Islam.

Adapun dari pengamalannya, mengacu kepada kitab Ihya’‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Dikalangan tarekat ini, kitab Ihya’ menjadi bacaan wajib yang harus dikhatamkan. Mengikuti tarekat ini, namun belum mengkhatamkan Ihya’‘Ulumuddin, maka tarekatnya dianggap tidak sempurna.

Baca juga :  Habib Jindan: Ceramah Provokasi dan Caci Maki Bukan Ajaran Nabi

Sebab itu tidaklah mengherankan jika Habib Zain bin Ibrahim bin Smith merupakan penganut tasawuf Ghazalian. Di mana pengembangan tasawuf ini dibangun sebagai latihan mensucikan hati dan mengendalikan hawa nafsu sampai kepada titik terendah. Puncak dan tujuan dari pengamalan tersebut adalah menghilangkan penghalang antara manusia dengan Tuhannya.

Sebagaimana Imam al-Ghazali, ajaran tasawuf Habib Zain berfokus pada perbaikan moral, akhlak atau budi pekerti. Sehingga dalam pengamalan tasawufnya terfokus pada menghiasi diri dengan perilaku yang baik dan menghindari diri dari perilaku yang tercela. Ajaran tasawuf ini disebut juga dengan tasawuf akhlaki atau lebih dikenal luas dengan sebutan tasawuf Sunni.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.