Habibie dalam Kenangan

Rabu malam, The Habibie Center lewat facebook mengumumkan berita wafatnya mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Ayah dari Ilham dan Thareq Habibie ini menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot soebroto, Jakarta. “Inna lilLahi wa inna ilahi rojiun. Allahummagfir lii as-sayyid Habibie warhamhu wa’afihi wa’fu’ anhu. Al-fatihah,” tulis KH Mustofa Bisri dalam akun instagramnya.

Tak ketinggalan situs resmi NU, Persyarikatan Muhammadiyah dan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) mengucapkan ucapan belasungkawa. Sejumlah madrasah swasta dan pesantren pun di Malang langsung menggelar sholat ghaib.

Semasa hidupnya, Habibie meninggalkan banyak karya. 46 hak paten di bidang aeronautika hingga pesawat CN-235. Dalam unggahan akun instagram otoseken.id (3 Juni 2019), pada 1996, Habibie dan BPIS mendesain mobil sedan.

Ketika menjabat sebagai presiden, sejarah mencatat, ia berani mencopot Prabowo Subianto dari jabatan Pangkostrad, membuka iklim Kemerdekaan pers, dibebaskannya sejumlah Tahanan politik (Sri bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko hingga Xanana gusmao), dibentuknya Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), tidak pernah menaikkan harga bahan bakar dan sukses menyehatkan nilai kurs rupiah.

Tentang kurs Rupiah, Laman CNBC (11 September 2019) menyebut Habibie sebagai “Penjinak rupiah”. Dari yang awalnya 16.800 perdolar AS ke level terkuatnya dalam sepanjang sejarah Indonesia, yakni 6.550 per dolar AS (28 Juni 1999).

Baca juga :  Perempuan: Sekolah dan Sejarah

Yang tak boleh dilupakan adalah cintanya kepada almarhum Hasri Ainun Bestari. Sekalipun ditinggal wafat sang istri, Habibie mengenangnya dengan cara menulis sajak dan buku. Buku karangannya laris manis di pasaran dan diangkat ke dalam film “Habibie-Ainun” (2012).

Meski lama menempuh kuliah di Jerman, menurut hemat saya, Habibie juga Nahdliyin. Ia juga menghelar haul untuk sang istri. Mengutip pewartaaan laman Merdeka.com (22 Mei 2018), acara haul ke-8 Hasri Ainun, diisi dengan pembacaan yasin dan tahlil. Bahkan rohaniawan Prof Frans Magniz Suseno turut hadir. Selain haul, Habibie juga rajin nyekar ke makam istri tercintanya.

Amal kebaikan Habibie tak sebatas di Indonesia. Tetapi terasa di bumi Timor leste. Tak heran negara kecil itu menggunakan nama Habibie sebagai nama jembatan dan taman. Pemerintah negara itu menganggap BJ. Habibie punya jasa dan kontribusi pada terlaksananya referendum di Timor Leste. Akhir kata, selamat jalan Bapak “Penjinak Rupiah”, semoga amal kebaikan Anda diganjar pahala berlipat-lipat oleh Allah Swt. Wallahu’allam

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *