Hafshah binti Umar, Perempuan Bergelar “Sang Penjaga Alquran”

Siapakah manusia yang paling beruntung itu? Menjadi sosok yang begitu istimewa karena di zaman Rasulullah sangat jarang ditemui seseorang dengan kemampuan literasi-baca tulis-yang mumpuni. Di dalam kitab Fi Bayt al-Rasul karya Nizar Abazhah-Guru Besar Sirah Nabawiyyah di Akademi al-Fath al-Islami Syria-, disebutkan bahwa penulis pertama Alquran yang diawasi secara langsung oleh Nabi Muhammad adalah seorang perempuan mulia yang bernama Hafshah bin Umar bin Khattab, sekaligus istri Rasulullah sendiri.

Tak hanya menjadi penulis pertama Alquran, Allah juga menetapkan Hafshah binti Umar sebagai orang satu-satunya yang menulis Alquran di bawah pengawasan langsung Nabi Muhammad saw. Naskah mulia ini ditulis di atas tulang, kulit, dan papan yang sangat dijaga dengan hati-hati serta disimpan dengan rapi.

Oleh sebab itu, Hafshah bint Umar mendapatkan gelar kehormatan sebagai “Sang Penjaga Alquran”. Terpilihnya Hafshah sebagai penulis pertama Alquran disebabkan oleh kecerdasan otak dan kejernihan hatinya. Sebab kemampuan baca-tulisnya yang mumpuni, Hafshah rutin mencatat ayat-ayat yang dibacakan oleh Rasulullah, lalu menghapalkannya. Kejernihan hati diperoleh dari keajegannya menjaga shalat dan puasa.

Pasca Rasulullah kembali kepada-Nya, Khalifah Abu Bakar didesak oleh Zaid bin Tsabit agar segera melakukan kodifikasi Alquran. Akhirnya, Zaid bin Tsabit melakukan penelusuran jejak dari mulut ke telinga-para sahabat-yang dikonfrontasikan secara langsung dengan naskah milik Hafshah bint Umar. Setelah itu disalin ke lembaran-lembaran kulit.

Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tulisan-tulisan tangan Hafsah di kulit, tulang, dan papan dimusnahkan. Naskah baru yang telah tersusun rapi tersebut diberikan lagi kepada Hafshah. Selang beberapa masa, Utsman bin Affan akan mengkodifikasi naskah di Hafshah sebagai naskah resmi Alquran yang akan masyhur disebut dengan nama Mushaf Utsmani.

Lika-Liku Kehidupan Hafshah bint Umar

Derajat mulia Hafshah tidak ditempuh dengan cuma-cuma, sebab Hafshah juga menikmati jalan terjal kehidupan. Di dalam Fi Bayt al-Rasul, juga disebutkan bahwa Hafshah bint Umar telah menjadi seorang janda  di usia yang belum genap 18 tahun. Sang suami menjadi salah satu Syuhada’ Uhud. Lalu Hafshah kembali ke rumah sang ayah yang tak ayal membuat beban Umar semakin berat.

Melihat kondisi yang semakin memburuk, Umar memutuskan mencarikan suami baru yang sederajat untuk Hafshah. Umar menawarkan Hafshah kepada dua sahabat terbaiknya, yakni Abu Bakar dan Utsman bin Affan. Abu Bakar hanya bergeming seperti batu saat ditawari, sedangkan Utsman bin Affan malah kelihatan merasa terganggu dengan penawaran Umar.

Mengenai hal ini, Umar curhatkan kepada Nabi Muhammad yang dijawab dengan seulas senyum beserta ungkapan yang sangat menggembirakan. Nabi Muhammad berkata, “Umar, Hafshah akan dipersunting oleh orang yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah”. Segera paham lah Umar atas maksud dari perkataan Nabi Muhammad.

Tentu saja, orang yang lebih baik dari Utsman bin Affan adalah Rasulullah sendiri. Dan seperti itulah kisah selanjutnya. Penderitaan Hafshah dan Umar dibalas tuntas dengan kabar bahagia Nabi Muhammad menikahi Hafshah bint Umar bin Khattab.

Akhir kata, Hafshah sejak awal memang telah ditakdirkan menjadi sosok perempuan yang dipenuhi keberkahan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.