Haji, Mentransformasikan Nilai Spiritualitas Ke Nilai Kemanusiaan

Haji adalah rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi mereka umat Islam yang telah mampu dan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sendiri tidak lain juga bagian dari membentuk pribadi manusia yang saleh secara individual juga saleh secara sosial. Sebagai penyempurna rukun Islam, ibadah Haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya karena tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga materi, ilmu, dan spiritual.

Pada setiap tahunnya yaitu pada bulan Dzulhijjah, umat Islam di dunia berkumpul di satu tempat bernama Baitullah untuk melaksanakan ibadah tersebut. Syekh Mutawalli asy-Sya’rowi dalam kitabnya  Al-Hajj Al-Mabrur menjelaskan bahwa kedatangan para jamaah haji ke Baitullah adalah wujud dari kerinduan kepada Sang Pencipta.

Datangnya musim haji pada setiap tahun membuat hati dipenuhi kerinduan untuk pergi ke Baitullah, untuk melaksanakan ibadah haji dan menziarahi makam Rasulullah saw. Di mana disitu terdapat kenikmatan ruhiyah yang melebihi apa pun. Salah satunya yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan menyibukkan dengan-Nya daripada makhluk lainnya.

Dalam haji, dimensi spiritual begitu sangat kental sekali. Ibadah yang merupakan warisan Nabi Ibrahim as. ini, diteruskan oleh masyarakat Arab dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman, kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai utusan Allah Swt. menjadi salah satu rukun Islam, selain syahadat, shalat, puasa, dan zakat.

Baca juga :  Mekah Rasa Las Vegas?

Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa siapa yang mengenal dirinya, berarti ia mengenal Tuhannya. Melaksanakan ibadah Haji seharusnya membawa hati manusia menjadi bersih dari berbagai kotoran dan dosa. Haji adalah salah satu sarana untuk menempa diri manusia, setelah berada di puncak untuk kembali ke bumi tempatnya berpijak. Orang yang sudah haji akan memunculkan kesadaran beriman dalam dirinya, dan solidaritas umat serta rasa peduli sesama adalah hikmah disyariatkannya haji.

Dalam artian orang yang selesai melaksanakan haji harus bersungguh-sungguh mengamalkan dari nilai-nilai atau hikmah disyariatkannya haji, bukan malah menyombongkannya karena telah mempunyai gelar haji. Mereka harus berbaur kembali bersama manusia lain dengan segala kompleksitas problem sosial dan kemajemukannya, untuk mengimplementasikan nilai-nilai dari penyucian diri selama melaksanakan ibadah haji.

Nilai-nilai ritual individual dalam melaksanakan haji, harus diimplementasikan ke ranah yang lebih luas yaitu sosial kemanusiaan dengan menyebarkan nilai kesalehan sosial, cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan perdamaian kepada siapa pun tanpa melihat suku, ras, agama atau strata sosialnya. Itulah yang kemudian disebut sebagai haji mabrur.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Malcolm X dalam Surat Dari Mekkah, dia mengatakan di antara nilai persaudaraan yang bisa diambil dari ibadah haji adalah mereka terdiri dari berbagai warna kulit, dari si pirang bermata biru hingga si hitam dari Afrika. Namun, kami semua mengikuti ritual yang sama, memperlihatkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang dari pengalamannya di Amerika, membuatnya mengira tidak akan pernah terjadi di antara kulit hitam dan kulit putih.

Baca juga :  Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah di Bulan Dzulhijjah

Sejatinya, ibadah haji seharusnya mendorong pelakunya untuk menghormati, memuliakan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di mana saat ini, nilai-nilai tersebut sedang tergerus dengan kepentingan-kepentingan sektarian dan partisan bahkan politik, yang diperparah dengan bungkus keagamaan.

Di tengah perbedaan pandangan, keyakinan dan pilihan politik yang dipaksakan kepada orang lain dan hilangnya etika serta keadaban publik disertai dengan fanatisme buta yang begitu massif, maka bersungguh-sungguh membumikan nilai-nilai kemanusiaan melalui ibadah Haji harus terus diperjuangkan. Spirit kemanusiaan yang meliputi nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, keakraban, dan cinta jangan sampai tercabik-cabik yang kemudian hanya menonjolkan identitas yang berbeda dibandingkan mengedepankan nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

Haji adalah salah satu cara untuk mereformasi diri, baik pikiran, hati, maupun perasaan manusia menjadi saleh dan bijak. Melalui kesalehan dan sikap bijak  tersebutlah, manusia menjadi penjaga peradaban. Karena bumi manusia adalah tempat untuk menyemai dan menebarkann kebaikan, hingga melahirkan peradaban yang maju dan membawa kemaslahatan bagi semua umat manusia dan ciptaan Tuhan. Sebagaimana tujuan awal diturunkannya Syariat Islam yaitu untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia.

Oleh karena itulah, ibadah haji jangan dijadikan sarana pamer materi karena mampu berangkat ke tanah suci dengan biaya yang begitu banyak. Ada yang lebih penting dari itu yaitu mengamalkan atau mentransformasikan nilai-nilai disyariatkannya haji sebagai salah satu rukun Islam dari nilai spiritualitas ke nilai kemanusiaan, karena keduanya sejatinya tidak terpisahkan.

Baca juga :  Berpuisi (di) Tanah Suci
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *