Hakikat Mudik dalam Islam Berdasarkan Tafsir Al-Qur’an

Mudik adalah tradisi tahunan orang Indonesia, terutama bagi umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hari Raya Idul Fitri dan mudik seolah dua rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tak afdol merayakan Idul Fitri jika tidak mudik ke kampung halaman. Itu sebabnya, apapun dilakoni untuk melaksanakan tradisi ini.

Namun, tahukah bahwa mudik yang hakiki adalah perjalanan pulang ke kampung akhirat menuju Allah SWT.? Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang mengingatkan kita akan mudik yang hakiki ini, di antaranya adalah firman Allah SWT.:

 وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran: 133)

Mengapa ayat ini diawali dengan kata kerja perintah (fi`il amar) “bersegeralah?”  Di antara kaidah tafsir menjelaskan bahwa perintah itu menuntuk kesegeraan (al-fawr) dan tidak menuntut penundaan (al-tarakhi). Jadi, bersegera menuju ampunan dari Allah adalah perintah yang harus disegerakan untuk dikerjakan, jangan ditunda-tunda.

Perintah untuk bersegera ini didahului dengan preposisi “dan” (wawu ‘athaf). Perintah ini merupakan sambungan dari perintah sebelum ayat ini, yaitu perintah menaati Allah dan Rasul-Nya. Fungsi “wawu” di sana untuk memberikan penguatan bahwa perintah bersegera sama dengan perintah mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam beberapa sisi, misalnya dari sisi kesegeraan dan keutamaannya.

Baca juga :  Problematika Mudik Kaum Urban di Tahun 1998

Pada ungkapan “bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu”, dalam pembacaan sebagian ahli tafsir, terdapat ungkapan yang ditiadakan. Lengkapnya adalah “bersegeralah kamu kepada hal-hal yang mendatangkan ampunan dari Tuhanmu”.

Tentu hal-hal yang dimaksud adalah menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dalam kajian kesusastraan Arab, peniadaan ungkapan tersebut adalah salah satu bentuk keistimewaan bahasa Al-Qur’an yang tujuannya adalah untuk meringkas.

Kata “maghfirah” (ampunan) disebutkan dalam bentuk nakirah (tak tertentu) untuk menunjukkan bahwa ampunan yang dimaksud adalah ampunan hakiki dan agung dari Allah SWT. yang salah satu syaratnya adalah keislaman.

Pada ayat ini, Allah diungkap dengan ungkapan “Rabbikum/Tuhanmu”.  Kata “rabb-rububiyyah” digunakan untuk konteks Allah sebagai pencipta, pemelihara, dan pengurus. Karena pencipta, pemelihara, dan pengurus, tentu Allah Mahakaya, Mahakuasa, Mahabesar, Maha Mengetahui, dan Maha Mendengar. Jadi, adalah pantas bersegera menuju ampunan dari Dzat Yang Mahasegalanya.

‘Mudik’ Menuju Kampung Akhirat

Bukankah bersegera menuju ampunan Allah itu otomatis bersegera menuju surga?  Kenapa pada ayat ini surga masih disebut? Ampunan dan surga beda sisinya. Jika yang pertama menghilangkan dosa, yang kedua menetapkan pahala. Keduanya perlu disebut untuk mengingatkan bahwa setiap orang Islam harus mendapatkan keduanya.

Mudik yang hakiki adalah pulang menuju kampung akhirat dengan membawa perbekalan ampunan dari Allah dan bekal pahala untuk menempati surga-Nya. Inilah mudik yang tidak bakal ada peristiwa kembali lagi. Sekali sudah mudik ke akhirat, maka tidak akan ada jalan lagi kembali ke dunia.

Baca juga :  Larangan Mudik 2020, MUI: Kami Dukung Demi Kemaslahatan

Mudik hakiki perlu dipersiapkan karena tempat yang akan dituju adalah “keabadian”, apakah di neraka atau di surga. Sugesti mudik hakiki yang baik ditengarai dengan tawaran menempati surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Ini tawaran sangat tinggi mengingat fasilitas yang ditawarkan di dalamnya pun sangat banyak dan variatif.

Ungkapan “seluas langit dan bumi” untuk menjelaskan luasnya surga hanyalah gambaran untuk menjelaskan betapa sangat luasnya surga dan neraka. Tentu luas sebenarnya tidak bisa dimatematikakan atau diilmiahkan, mengingat surga termasuk salah satu kegaiban yang hanya Allahlah yang mengetahui kepastiannya. Keimanan kita mengatakan cukuplah bagi kita penjelasan bahwa puncak kenikmatan berada di surga itu, termasuk kenikmatan memandang luasnya.

Ada pertanyaan, jika surga seluas langit dan bumi, berarti sudah tidak ada lagi tempat untuk neraka, lalu di mana neraka berada. Hercules, Raja Romawi saat itu, pernah menanyakan hal serupa kepada Nabi, “Anda mengajak kami menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di mana letaknya neraka?” Nabi menjawab, “Jika siang datang, di mana malam berada?” (H.R. Ahmad).

Ada yang mencoba memahami hadits Nabi di atas, bahwa jika surga yang luasnya seluas langit dan bumi terletak di sebelah atas, maka letak neraka berada di sebelah/seberang sisi bawah surga. Jika malam berada di belah atas bumi, maka malam berada di belah bawah bumi. Kira-kira itu pemahaman sebagian ahli tafsir.

Baca juga :  Al-Qur’an dan Ramadhan (8): Argumentasi Tafsir Larangan Mudik

Marilah kita mempersiapkan mudik hakiki sebagai pemudik yang bertakwa. Sebab, kampung aherat yang fasilitasnya dijelaskan di atas hanya dipersiapkan bagi pemudik yang bertakwa. Siapa itu? Mereka adalah yang mempersiapkan bekal mudik berupa ampunan dan surga dari Allah SWT.

Ajak dan ikutsertakan keluarga kita menuju mudik hakiki ini. Segera pikirkan bagaimana mengatur dan mempersiapkan segalanya untuk mudik hakiki ini, mudik yang mau tidak mau pasti akan kita hadapi. Subhanallah. Begitu dalam dan indah makna yang diperlihatkan ayat di atas. Wallahu a`lam bish-shawab. (mzn)

Tulisan ini disarikan dari Gerakan Peduli Bahasa Al-Quran.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *