Hari Anak Nasional: Anak dan Nilai Keindonesiaan

Hari Anak Nasional Indonesia

Hari Anak Nasional- Setiap tanggal 23 Juli, kita memeringati Hari Anak Nasional. Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

Hal tersebut dilakukan dengan mendorong keluarga sebagai lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak, sehingga menghasilkan generasi sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, dan cinta tanah air.   

Wujud perlindungan terhadap anak terutama adalah memberikan hak pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan yang penting bagi masa depan anak. Dalam konteks kita sebagai bangsa Indonesia, ada berbagai nilai keindonesiaan yang penting ditanamkan dalam diri anak sejak dini. Hal ini agar anak-anak kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, namun juga menunjukkan karakter Indonesia.

Karakter bangsa ini penting, di samping untuk memperkokoh rasa kebangsaan, juga  agar generasi muda tak gampang larut dalam pengaruh budaya-budaya dari luar, yang sering tak sesuai jati diri bangsa Indonesia.

Gotong Royong

Salah satu nilai berharga yang penting ditanamkan pada anak-anak kita adalah semangat gotong-royong. Gotong  royong atau bahu membahu dalam kebersamaan begitu akrab dengan budaya masyarakat Indonesia.

Ir. Soekarno, pendiri bangsa sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, bahkan melihat bahwa prinsip “gotong royong” merupakan ciri khas masyarakat Indonesia. Dan atas dasar prinsip gotong royong itulah dulu bangsa ini didirikan. Gotong royong mencakup kerja sama, musyawarah untuk mufakat, dan rasa saling menghargai (Dewantara, 2017: 23).

Baca juga :  Menakar Urgensi Pendidikan Filsafat pada Anak

Maka, menjadi penting untuk selalu menanamkan dan menumbuhkan semangat gotong royong pada generasi muda atau anak-anak kita. Agar ke depan, bangsa kita tetap solid, kuat, kokoh, dalam persaudaraan dan persatuan. Sebab, gotong royong ini memang menjadi semangat awal didirikannya negara Indonesia.

Menanamkan semangat gotong royong pada anak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pada intinya, ini tentang menyadarkan pada anak akan pentingnya semangat bekerja sama, saling membantu, untuk mencapai tujuan atau cita-cita bersama. Ini bisa dibiasakan pada anak dalam aktivitas kesehariannya. Misalnya, bergotong royong ketika bermain, ketika belajar atau memecahkan masalah, dan aktivitas lain yang bisa mengasah kemampuan bekerja sama di dalamnya.

Berkorban Demi Kepentingan Umum

Sejarah menceritakan kemerdekaan bangsa ini bisa diraih tak lepas dari perjuangan gigih para pahlawan. Adanya keinginan bersama untuk lepas dari kungkungan penjajah membuat masyarakat bergerak melawan. Dalam melakukan perlawanan, para pahlawan kita mengorbankan banyak hal, dari tenaga, harta, bahkan hingga nyawa.

Pengorbanan tersebut lahir ketika para pahlawan mengesampingkan kepentingan pribadi dan lebih mementingkan nasib dan masa depan bangsa ini. Mereka pun melakukan perjuangan luar biasa, mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, waktu, materi, bahkan nyawa sekalipun.

Baca juga :  Hal yang Harus Dihindari bagi Calon Suami atau Suami Idaman

Semua dilakukan agar mampu mengusir penjajah dan mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan. Para pahlawan bangsa tersebut memberi kita contoh bagaimana menekan kepentingan diri atau egoisme pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan bersama (bangsa).

Semangat berkorban ini mesti ditanamkan pada anak-anak hari ini. Tujuannya, agar anak kita tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepentingan orang lain atau kepentingan bersama.

Anak perlu punya kesadaran untuk lebih peduli dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih penting, ketimbang sekadar soal dirinya sendiri atau kepentingan kelompoknya. Misalnya, dengan mengenalkan anak pada tujuan-tujuan hidup bersama dalam lingkungan masyarakat, juga membiasakan anak untuk berbagi kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Menghormati Perbedaan

Sejak awal, masyarakat Nusantara terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, dan agama. Namun, semua elemen bisa saling menghormati dan menghargai, sehingga sanggup bersatu dan hidup berdampingan dalam bangunan besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar pada Pancasila.

Kesadaran menghargai perbedaan ini menjadi modal berharga bagi bangsa majemuk seperti Indonesia. Dengan saling menghargai antarsesama anak bangsa, kita bisa saling bekerja sama, gotong royong, dan hidup rukun dan damai. Sebaliknya, tanpa kesadaran menghormati perbedaan, yang ada adalah perselisihan, pertikaian, dan bahkan perpecahan.

Baca juga :  Konsep Perlindungan Terhadap Anak dalam Islam

Kesadaran menghargai perbedaan ini mesti ditanamkan sejak dini agar menjadi karakter yang tumbuh kuat dalam setiap individu. Sejak kecil, anak-anak perlu dikenalkan, bahkan dibiasakan hidup berdampingan di tengah perbedaan. Karakter menghargai perbedaan ini, mula-mula bisa ditanamkan orangtua pada anak lewat keseharian berinteraksi dalam lingkungan keluarga.

Bentuknya, bisa dari hal-hal sederhana seperti berdiskusi, berdialog, mendengar pendapat anak, agar anak juga terbiasa mendengar pendapat orang lain (yang berbeda). Selain itu, bisa juga dengan membiasakan anak bersosialisasi dengan anak dari berbagai latar belakang. Dalam arti, tidak membatasi anak bergaul hanya di satu lingkungan atau kalangan tertentu saja.

Di tengah menguatnya gempuran nilai, budaya, hingga ideologi luar yang menyertai era digital sekarang, mulai dari individualisme, liberalisme, hingga ekstremisme, nilai-niai keindonesiaan sangat penting untuk kembali dikuatkan agar bangsa ini tidak kehilangan jati diri. Di sinilah, Hari Anak Nasional bisa menjadi momentum bersama untuk menanamkan nilai-nilai keindonesiaan tersebut bagi anak-anak kita.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *