Hasil Survei Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Umat Beragama Terkait Covid-19, Vaksin dan Vaksinasi

Vaksin Covid-19 kini telah tiba di Indonesia. Pengujian keamanan dan efektivitasnya telah dan sedang dilakukan. Presiden juga telah menegaskan rencana vaksinasi bagi sebagian besar masyarakat, dengan gratis. Bahkan, untuk membangun kepercayaan publik, dirinya telah menegaskan kesiapannya sebagai orang yang pertama divaksin.

Sayangnya, tidak semua masyarakat yakin dan menerima vaksin Covid-19 dan rencana vaksinasi tersebut. Survei nasional oleh Kemenkes, ITAGI, UNICEF dan WHO pada September 2020, misalnya, menemukan ada 7,6% masyarakat yang menolak dan 27% yang ragu akan vaksinasi. Bahkan, dalam survei-antar-waktu oleh SMRC tampak adanya kecenderungan penurunan kesediaan masyarakat secara nasional untuk divaksin.

Dalam satu bulan terakhir, terjadi perubahan sikap responden, dari semula siap divaksinasi menjadi “pikir-pikir dulu” atau bahkan menjadi tidak akan divaksin. Fenomena dan kecenderungan ini penting untuk ditelisik lebih jauh, dan dipahami dari berbagai perspektif.

Survei Kemenkes, dkk menyebut “keyakinan agama” sebagai salah satu di antara alasan penolakan vaksin. Disebutkan, sebagian masyarakat memiliki persepsi bahwa spiritualitas adalah cara terbaik dalam menghadapi penyakit. Sebagian lain mungkin menyoal perihal kehalalan vaksin.

Penelitian yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini juga dapat menjadi asupan spesifik dalam rekomendasi bahan pengambilan kebijakan Pemerintah terkait rencana vaksinasi Covid-19. Di sisi lain, riset ini juga hendak menegaskan bahwa berbagai upaya percepatan penanganan pandemi Covid-19 adalah tugas bersama—termasuk Kementerian Agama.

Baca juga :  Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan pada Masa Pandemi Covid-19

Metodologi Penelitian

Untuk mendapat gambaran kecenderungan sikap umat, dilakukan survei-daring dengan cara menyebarkan link angket ke siapa saja di 34 provinsi, pada 22-30 Desember 2020. Karena menggunakan accidental sampling yang non-probabilitas (tanpa acak), maka temuan survei ini hanya berlaku bagi responden, serta tidak dapat menggeneralisasi seluruh umat.

Meski demikian, komposisi 2.610 responden survei ini tersebar secara nasional serta sebangun dengan komposisi penduduk Indonesia (diagram 4). Demikian halnya dalam hal pemelukan agama. Lebih dari itu, untuk mendapat penjelasan lebih memadai, pada 21-23 Desember 2020 dilakukan wawancara langsung kepada 30 pemuka agama di 10 lokasi. Kedua temuan diolah secara komplementatif dan terpadu.

Temuan Penelitian

Survei ini menunjukkan, sebanyak 54,37% responden menyatakan kesiapannya untuk ikut vaksinasi Covid-19. Meski yang menyatakan siap lebih banyak, namun yang masih “belum memutuskan” dan “tidak siap” juga cukup banyak (36,25% dan 9,39%). Temuan ini tidak mengherankan, dan memang senada dengan hasil survei nasional Kemenkes (Sep. 2020) dan SMRC (Des. 2020).

Maka, yang penting kemudian adalah perlunya mengelaborasi beragam alasannya. Responden yang menjawab “tidak” (9,39%) ditanya, “apa alasan tidak akan divaksin?”

Banyak responden yang menolak divaksin (66,13%) karena tidak yakin atas keamanan vaksin. Ada juga yang menyoal kehalalan dan efektivitasnya, dan takut efek sampingnya. Adapun yang menyatakan vaksinasi bertentangan dengan ajaran agama/keyakinannya sangatlah sedikit (9,27%).

Baca juga :  Kajian Perkembangan Folklor Religi di Nusantara

Temuan ini menegaskan bahwa fenomena penolakan atas vaksinasi bukanlah karena keyakinan agama, tapi lebih karena hal non-agama. Ihwal kehalalan memang ada yang menyoal, tapi bukan alasan utama. Temuan ini menguatkan hasil Survei Nasional Kemenkes, dkk. (2020), yang menunjukkan unsur agama sebagai alasan terkecil dalam persentasenya.

Banyak responden (81,31%) belum mengetahui secara lebih lengkap mengenai vaksin Covid-19, termasuk rencana vaksinasinya. Informasi yang diterima masih sepotong-sepotong, selain memang informasinya pun terus berkembang.

Cukup banyak juga (56,39%) yang dibuat ragu karena banyaknya berita atau hoax yang menakutkan terkait dampak vaksin Covid-19. Misalnya, vaksinasi Covid-19 akan menyebabkan Bells Palsy, leukemia, atau efek buruk lainnya. Ada juga responden yang bersikap wait and see, sambil meng-update perkembangan dari waktu ke waktu.

Pengetahuan responden tentang vaksin dan vaksinasi masih terbatas. Umumnya (73,98%) baru mengetahui bahwa vaksin Covid-19 adalah suatu antigen yang disuntikkan ke dalam tubuh untuk reaksi kekebalan tubuh. Namun, pengetahuan mengenai uji klinis, uji efisiensi, dan uji keamanannya masih rendah (44,94%).

Terkait manfaat vaksinasi Covid-19, umumnya mengetahui akan mendorong terbentuknya kekebalan kelompok (70,23%). Tapi, masih sedikit yang menyadari kaitan dan manfaatnya untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi dari pandemi (23,72%).

Baca juga :  Survei Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Layanan KUA Kecamatan Tahun 2018

Masih minimnya pengetahuan masyarakat terkait vaksin dan vaksinasi ini mendorong perlunya penguatan edukasi masyarakat. Termasuk dalam hal ini, memberi masukan bagi mereka yang “belum menentukan” sikap terhadap rencana vaksinasi Covid-19.

Dalam hal informasi vaksin Covid-19 dan vaksinasi, responden umumnya (84,18%) lebih mempercayai pendapat tenaga kesehatan, seperti dokter. Mereka mempunyai kompetensi dan kapasitas keilmuan untuk itu. Selain itu, pejabat Pemerintah (58,51%) dan tokoh agama (37,16%), tentu dalam hal kebijakan dan sisi-sisi keagamaannya. (mzn)

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Kompas

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.