Heraclitus

God is day and night, winter and summer, war and peace, surfeit and hunger. This universe, which is the same for all, has not been made by any god or man, but it always has been, is, and will be an ever-living fire, kindling itself by regular measures and going out by regular measures. The road up and the road down is one and the same. War is the father and king of all, and has produced some as gods and some as men, and has made some slaves and some free. He who hears not me but the logos will say: All is One. You cannot step twice into the same rivers. Everything flows.

Tuhan adalah siang dan malam, musim dingin dan musim panas, perang dan damai, kenyang dan lapar. Semesta, satu entitas yang darinya keluar segala sesuatu, tidak diciptakan oleh dewa atau manusia, melainkan telah, sedang, dan akan diciptakan oleh api abadi yang hidup, yang secara teratur menyala dan padam. Jalan menaik dan jalan menurun adalah satu dan sama. Perang adalah bapak sekaligus raja bagi semua, yang telah menghasilkan dewa dan manusia, budak dan orang merdeka. Dia yang mendengarkan ini, bukanlah aku, melainkan Logos yang akan berkata: Semua adalah Esa. Kau tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama. Segalanya mengalir.

Baca juga :  Ibn Al-Banna Al-Marrokushi: Matematikawan Maroko di Era Keemasan Islam

–Heraclitus (540-480 BC), a Persian Philosopher, Ephesus-Turkey

Heraclitus adalah filsuf Yunani kuno, pra-Sokrates. Ia lahir dan hidup di Epeshus, Turki, pada masa Kekaisaran Persia pertama. Agak aneh juga bila para filsuf Barat kemudian menggolongkannya sebagai filsuf Yunani kuno, sebab faktanya pemikirannya justru mirip dengan pemikiran Zarathustra atau Zoroastrianisme di Persia–agama resmi dari kekaisaran Persia pada Masa Darius I.

Pemikirannya soal Tuhan sebagai hal yang saling bertentangan mirip dengan konsep dualisme Tuhan sebagai Ahuramazda (Tuhan Kebaikan) dan Ahriman (Tuhan Kejahatan) di dalam pemikiran Zoroastrianisme. Begitu juga soal “api abadi yang hidup” sebagai sumber bagi kehadiran segala sesuatu di alam semesta, mirip dengan konsep “api abadi yang hidup” sebagai manefestasi Ahuramazda dalam agama Zoroastrianisme (atau dalam istilah Islam disebut agama Majusi).

Saya berhipotesis, berdasarkan fakta-fakta kemiripan pemikiran di atas, bahwa kutipan-kutipan pemikiran Heraclitus oleh para filsuf Yunani itu sebenarnya merupakan interpretasi dari pemikiran seorang filsuf Persia atau bahkan imam agama Zoroaster.

Heraclitus dikabarkan pernah menulis satu buku, tetapi sudah hilang. Yang tersisa kini hanyalah epigram-epigram yang muncul dalam tulisan-tulisan para filsuf Yunani sesudahnya. Ia dianggap sebagai pendiri filsafat dialektika yang pertama di dunia. Pemikirannya kemudian akan memengaruhi pemikiran Parmenides, Plato, Aristoteles, filsuf-filsuf Stoikisme, Hegel, Karl Marx, Engels, Nietzsche, Heidegger, Whitehead, Spengler, dan Karl R. Popper.

Baca juga :  Fase Purnama Manusia Menurut Al-Razi

Jadi, bila beberapa waktu lalu ada jenderal di Indonesia yang bilang bahwa MDH (materialisme-dialektika-historis), jargon pemikiran sosialisme di negara Uni sovyet dulu, itu asalnya dari pemikiran Aristoteles (padahal dari pemikiran Karl Marx-Angels) adalah keliru besar. MDH yang akarnya adalah pemikiran dialektika itu, justru berasal dari pemikiran di Timur, menurut saya, di Turki atau di Persia, yaitu dari pemikiran Heraclitus.

Sangat menarik untuk menelusuri sejarah epistemologi dunia ternyata saling berkait antara pemikiran Timur dan Barat. Keterbukaan pemikiran, silang budaya (cross culture) adalah fakta sejarah epistemologi–terutama epistemologi dialektik–yang mencoba diabaikan oleh banyak pemikir Barat.

Siapa yang pernah membuat hipotesis sebelumnya bahwa pemikiran Heraclitus adalah tafsir dari pemikiran Zoroaster oleh para filsuf Yunani? Mungkin, Nieztsche pernah secara metaforik mengemukakan hal itu dalam novel puitiknya, “Also Sprach Zarathustra”–namun ia tidak secara tegas mengatakan bahwa pemikiran Heraclitus adalah tafsir dari pemikiran Zoroaster oleh para filsuf Yunani.

Rafaello Sanzio (lahir di Urbino, Italia, 6 April 1483–meninggal di Roma, Italia, 6 April 1520 pada umur 37 tahun) adalah pelukis dan arsitektur terpelajar Italia dari kota Firenze pada masa High Renaissance, dalam lukisannya yang berjudul ‘”The School Of Athens” seperti hendak mencoba menunjukkan bahwa Heraclitus bukanlah seorang filsuf Yunani.

Baca juga :  Al-Kindi, Filosof Muslim Pertama Yang Menerjemahkan Filsafat Yunani

Heraclitus digambarkan berbeda dengan para filsuf lainnya di Yunani: ia digambarkan tengah duduk sendiri di lantai (seperti terkucil) sambil menulis, di bagian tengah-depan dari frame lukisan itu, pakaiannya digambarkan berbeda dengan para filsuf Yunani lainnya. Kenapa Heraclitus digambarkan tengah menulis sendirian oleh Raphael? Mungkin Raphael hendak menunjukkan bahwa pemikiran Heraclitus berbeda dengan semua filsuf Yunani lainnya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *