Hidup Tenang dengan Filsafat Stoikisme

Sebagian besar orang pasti pernah merasakan perasaan khawatir, sedih, putus asa dan sebagainya. Tapi kira-kira kenapa manusia bisa demikian? Umumnya orang-orang pasti akan menjawab, itu manusiawi sekali. Benar bahwa demikian itu suatu hal yang manusiawi. Harus dipahami memang perasaan-perasaan itu sebenarnya muncul karena pikiran yang salah.

Umumnya kekecewaan datang saat sesuatu yang kita harapkan tak sesuai dengan hasil yang diterima ataupun kita diterpa perasaan sedih setiap kenyataan yang diterima tak sesuai dengan harapan yang digadang-digadang sebelumnya. Perasaan-perasaan itu sangat memungkinkan untuk mendapatkan terapi dengan menggunakan prinsip mazhab Stoikisme untuk menjalani hidup.

Hidup secara harmoni mengikuti harmonisnya keteraturan alam merupakan dasar pijakan hidup mazhab Stoikisme—menurut A. Setyo W., belum ada kesepakatan terjemahan Indonesia, sehingga ada yang menyebut Stoa. Stoikisme didirikan Zeno (335—263 SM) dari Citium pada abad 300 SM (Simon B, 2013: 835). Pada masa ini, Stoikisme masih disebut dengan Stoikisme Antik. Cleanthes dari Assos (331—232 SM)—kepala akademi Stoik kedua setelah Zeno—dan Chryssipos dari Soloi, Kilikia (280—208 SM)—kepala akademi Stoik ketiga setelah Cleanthes, tetapi ia terkenal sebagai kepala akademi kedua setelah Zeno karena dia subur dalam menulis—merupakan dua tokoh generasi yang menonjol di masa itu. (A. Setyo W, 2018: 2).

Perlu diketahui tokoh-tokoh Stokisme seperti Zeno dan Cleanthes sangat dihormati raja-raja Macedonia, dan dengan alasan itu Zeno dan Cleanthes mengirim penasihat untuk raja-raja Macedonia. Ajaran-ajaran Stoikisme dimulai pada abad 294 SM di Athena dan kematian Kaisar Marcus Aurelius di tepi sungai Danube Jerman tahun 180 M, menandai akhir cerita Stokisme (A. Setyo W, 2018: 2—3).

Baca juga :  Rasionalitas dalam Ajaran Islam

Zeno mulai menerima murid-murid di akademi yang ia rintis dengan ngobrol-ngobrol biasa di teras pendopo yang letaknya sedikit jauh dari keramaian pasar. Cara mengajar dan bagaimana ia menempatkan akademinya inilah kenapa aliran ini disebut dengan Stoik. Penyebutan nama dengan istilah Stoik lebih merujuk pada bundaran tiang penopang yang menyangga teras.

Berbeda dengan Epikuoros, yang menyebutnya dengan Zenonian, namun pada perkembangannya penyebutan ini tak ada lagi yang memakai sehingga yang paling umum dipakai ialah nama Stoikisme (A. Setyo W, 2018: 3). Pada abad selanjutnya Panetius dari Rhodes (185—112 SM) dan Posidonius dari Apamae (135—51 SM)—ada perbedaan tahun jika merujuk Kamus Filsafat dan Ataraxia—mengenalkan Stoikisme ke bangsa Romawi.

Di sana Stoikisme mendapat apresiasi dan banyak diminati masyarakat, hingga pada akhirnya pemikiran mazhab ini cukup dikenal dan memperoleh keabadian yang tak lekang dimakan waktu. Masa ini pun disebut sebagai periode tengah atau Mediostoikisme (Simon B, 2013: 835).
Kemudian lanjutan dari periode tengah ada periode akhir. Penggiat mazhab Stoikisme di periode ini ialah orang-orang Romawi sendiri. Epictetus—seorang budak, tuanya bernama Ephaproditus dikenal sangat kejam tetapi mengizinkan Epictetos untuk belajar filsafat—dan Marcus Aurelius—kaisar Romawi—serta Seneca Junior—penasihat kaisar Romawi—merupakan tiga tokoh sentral pada periode ini. Ketiga tokoh ini memiliki andil yang besar dalam menyebarkan ajaran Stoikisme di Romawi.

Ajaran-ajaran mazhab Stoikisme dinilai penulis sangat relevan dengan zaman yang serba modern ini—disebut sebagai era revolusi industri 4.0. Ajarannya pun juga tidak bertentangan dengan norma-norma, ajaran-ajaran, paham-paham yang telah mapan dalam komunitas masyarakat.

Puncak dari ajaran mazhab ini—etika—mengarah pada ketenangan hidup, kecukupan hidup, kedamaian hati dan pikir, tidak takut akan kemiskinan, kesengsaraan, dan kematian—nerimo ing pandhum (Simon B, 2013: 836). Secara ontologi Stoikisme menyatakan bahwa harmonisnya alam bukanlah suatu kebetulan belaka, tetapi ada logos yang membersamai alam raya ini.

Baca juga :  Heraclitus

Berbeda dengan apa yang dinyatakan Epikuros, secara tegas mengatakan bahwa harmonisnya alam ini ialah suatu kebetulan belaka. Logos di sini tidaklah diartikan secara sempit sebagaimana makna tekstualnya, namun ia memiliki makna rasio yang kreatif atau jika meminjam bahasa A. Setyo W., sebagai akal universal (Reza A.A. Wattimena, 2007: 216 dan Simon B, 2013: 836).

Logos memiliki tugas mengatur keteraturan segala sesuatu dan mengarahkan ke tujuan yang sebenarnya. Makna tersirat keteraturan segala sesuatu merupakan suatu nasib atau suratan takdir dari logos (Tuhan). Segala sesuatu yang ada dalam realitas hidup, tidak dapat dipisahkan dengan hukum-hukum yang berlaku atas kehendak logos (Reza A.A. Wattimena, 2007: 216).
Tokoh periode akhir seperti Seneca berpendapat bahwa inti dasar Stoikisme adalah manusia yang menerima dan menyesuaikan kodrat atau nasib yang diterimanya dari logos.

Menyesuaikan dengan hukum alam seperti nasib yang diterima, akan membuat manusia berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ada kisah menarik dari Epictetus, suatu ketika kaki Epictetus dipelintar sampai patah oleh tuanya, ia hanya tersenyum dan sedikit pun tidak merasa sedih, khawatir, dan ngresulo (A. Setyo W). Apa yang dilakukan Epictetus merupakan autarkia atau suatu keadaan yang tidak tergantung dengan suatu apapun.

Baca juga :  Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam yang Mengejutkan Dunia Filsafat

Pada tahap inilah manusia mencapai kebebasan yang juga merupakan cita-cita tertinggi mazhab Stoikisme. Seneca berpendapat bahwa orang bijak itu tidak akan pernah dibingungkan, ia juga tak memiliki rasa takut sedikit pun juga, dan tentunya penderitaan, penyiksaan yang menghiasi hidup bukan juga merupakan suatu ancaman yang berarti (Reza A.A. Wattimena, 2007: 217). Watak yang lemah akan menyebabkan salah dalam berpikir menjalani realitas kehidupan.

Dengan demikian, untuk mendapatkan ketenangan hidup, perasaan-perasaan negatif seperti disebutkan di awal perlu disingkirkan dengan watak yang kuat melalui askesis atau latihan-latihan tentang hasrat diri, tindakan, dan fakultas berpikir. Hubungannya dengan itu, askesis juga dapat berupa penerimaan secara lapang dada semua kejadian baik bersifat menyenangkan ataupun menyakitkan kepada diri, karena menyakini segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur yaitu sang Maha Kuasa.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *