Hitungan ‘Iddah Bagi Perempuan yang Tidak Haid

Hitungan ‘Iddah Bagi Perempuan yang Tidak Haid

Menurut Abu Yahya Zakariya al-Ansori dalam kitab Fathul Wahhab (j. 2 h. 103) bahwa ‘iddah merupakan sebuah penantian seorang perempuan untuk mengetahui kesucian rahimnya atau untuk Ta’abbudi (tidak bisa dilogikakan) atau untuk Tafajju’ (bela sungkawa) terhadap suami.

Terjadinya ‘iddah merupakan penyebab dari adanya talak yang dilontarkan oleh suami kepada sang istri, sedangkan ta’rif khusus dari talak dalam kitab Kifayatul Ahyar (hal. 424) ialah sebuah nama untuk melepas ikatan perkawinan dan talak adalah Lafadz Jahiliyyah, namun setelah Islam datang lafadz tersebut ditetapkan sebagai kata untuk melepas ikatan perkawinan.

Istri yang menjalani hitungan ‘iddah dibagi menjadi dua: pertama, ditinggal wafat oleh suaminya, kedua bercerai. Istri yang ditinggal wafat oleh suami dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya sampai melahirkan anak secara sempurna, baik melahirkan satu anak atau lebih, namun bagi istri yang ditinggal wafat dalam keadaan tidak hamil maka ‘iddahnya selama 4 bulan 10 hari.

Demikian pula bagi istri yang ditalak suaminya dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya sama dengan ‘iddah istri yang ditinggal wafat, beda halnya ‘iddah seorang istri yang ditalak oleh suami tidak dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya 3 kali sucian tatkala istri dalam masa-masa produktif.

Dalam hal ini, perempuan dibagi menjadi dua; ada perempuan dalam masa produktif dan masa menopause. Pada masa produktif perempuan masih bisa haid dan menghasilkan keturunan, namun bagi perempuan yang sudah menginjak masa-masa monopause, perempuan tersebut akan berakhir masa menstruasi yang berakibat terhadap hilangnya aktivitas folikular ovarium, yang juga sering diartikan sebagai berakhirnya fungsi reproduksi wanita.

Baca juga :  Karimah al-Marwariyah, Ulama Hadis yang Enggan Menikah

Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO). Usia rata-rata monopause alami atau berhentinya menstruasi adalah 50 tahun, meskipun ada beberapa yang mengalami monopause dalam usia 20 tahun hingga 30 tahun sampai 40 tahun.

Ditemukan permasalahan bahwa tak jarang seorang perempuan pada masa produktif mengalami monopause, hal itu disebabkan karena efek samping dari obat-obatan seperti obat diet dsb. Lantas bagaimana hitungan ‘iddah bagi perempuan dalam masa produktif namun sudah mengalami monopause?

Ditelisik dalam kitab turats, ditemukan redaksi yang membahas permasalahan d iatas yang mana Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Majmu’ Syarhul Muhadzab bahwa bagi istri yang ditalak seorang suami dalam masa produktif namun sudah mengalami monopause.

Maka masa hitungan ‘iddahnya 3 bulan, berlandaskan firman Allah dalam surat at-Talaq ayat 4,yang mana pada ayat tersebut dijelaskan bahwa hitungan ‘iddah bagi perempuan yang tidak haid pada masa produktif dianalogikan dengan ‘iddah perempuan pada masa monopause yakni 3 bulan, dengan argumen bahwa yang diperhitungkan ialah keadaan perempuan yang ‘iddah bukan kebiasaan perempuan pada umumnya, sama halnya dengan perempuan yang sudah menginjak usia menopause namun masih mengalami haid, maka masa ‘iddahnya menggunakan 3 kali suci.

قال المصنف رحمه الله تعالى:
(فصل)
وان كانت ممن لا تحيض ولا يحيض مثلها كالصغيرة والكبيرة الآيسة اعتدت بثلاثة أشهر، لقوله تعالى ” واللائى يئسن من المحيض من نسائكم ان ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر، واللائى لم يحضن ” فإن كان الطلاق في أول الهلال اعتدت بثلاثة أشهر بالاهلة، لان الاشهر في الشرع بالاهلة.
والدليل عليه قوله عز وجل ” يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ والحج ” وان كان الطلاق في أثناء الشهر اعتدت بقية الشهر ثم اعتدت بشهرين بالاهلة ثم تنظر عدد ما اعتدت من الشهر الاول، وتضيف إليه من الشهر الرابع ما يتم به ثلاثون يوما
(فصل)
وان كانت ممن لا تحيض ولكنها في سن تحيض فيه النساء اعتدت بالشهور لقوله تعالى ” واللائى يئسن من المحيض من نسائكم ان ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر، واللائى لم يحضن ” ولان الاعتبار بحال المعتدة لابعادة النساء، والدليل عليه أنها لو بلغت سنا لا تحيض فيه النساء وهى تحيض كانت عدتها بالاقراء اعتبارا بحالها، فذلك إذا لم تحض في سن تحيض فيه النساء وجب أن تتعد بالاشهر اعتبارا بحالها.

Artinya: “dan bagi perempuan yang tidak haid disebabkan karena masih belum menginjak usia haid atau karena monopause maka masa iddahnya dengan 3 bulan berlandaskan firman Allah: “Perempuan-perempuan yang tidak lagi haid (monopause) di antara istri-istri kalian, jika kalian ragu (dalam masa ‘iddahnya), maka ‘iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid”. Ketika talak terjadi di awal bulan maka perempuan tersebut menjalani masa ‘iddah selama 3 bulan dengan perhitungan hilal karena bulan dalam syara’ ialah dengan perhitungan hilal.

Landasannya sesuai dengan firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hilal (bulan Tsabit), katakanlah! Bulan Tsabit adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (untuk ibadah) haji”. Ketika talak terjadi pada pertengahan bulan pertama maka seorang perempuan menjalani masa ‘iddah pada sisa bulan tersebut dan dua bulan setelahnya dengan perhitungan hilal lalu menambah masa ‘iddah pada bulan keempat sehingganya sempurna menjadi 30 hari.

Ketika perempuan tidak haid dalam masa produktif maka ‘iddahnya menggunakan bulan berlandaskan firman Allah: “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara istri-istri kalian, jika kalian ragu (dalam masa iddahnya), maka ‘iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid”. Karena yang diperhitungkan ialah keadaan perempuan ‘iddah bukan kebiasaan perempuan pada umunnya, dengan argumen bahwa ketika perempuan menginjak usia monopase namun masih mengalami haid, maka ‘iddahnya menggunakan 3 kali sucian, demikian pula bagi perempuan pada masa produktif namun mengalami monopause, maka dia wajib menjalani iddah dengan bulan” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, j. 18 h. 141).

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *