Hukum Memelihara Jenggot Menurut KH Sholeh Darat

Belakangan viral pernyataan Ustaz Khalid Basalamah—dari salah satu ceramahnya di Youtube— yang menjabarkan alasan kenapa penduduk Palestina mengalami penderitaan berkepanjangan karena persentase penduduknya yang patuh agama lebih sedikit ketimbang yang tidak. Salah satu indikatornya adalah banyak kaum lelakinya yang tidak berjenggot.

Khusus pada alasan tidak berjenggot ini menarik untuk disimak lebih lanjut sebagaimana penjabaran salah satu ulama besar tanah Jawa era Hindia Belanda yakni KH. Sholeh Darat. Di mana, KH. Sholeh Darat membahas secara tuntas hukum memelihara jenggot bagi kaum Muslimin.

Penjelasan ini termuat dalam kitab Minhajul Atqiya’ Syarah Hidayatul Adzkiya’ karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Dalam nadzamnya Syekh Zainuddin al-Malibari menuliskan:

وَلِقَصِّ شَارِبِهِ وَتَسْرِيْحِ اللُّحٰى   #   وَإِزَالَةٍ ظُفْـرًا وَإِبْطًا فَافْعَلاَ

Mencukur kumis, merapikan jenggot, memotong kuku dan menghilangkan rambut ketiak, lakukanlah secara rutin.

Di antara adab seorang qari’, hafizh, muallim dan muta’allim adalah menggunting kumis, jangan sampai panjang hingga menutup merah-merahnya bibir. Menggunting kedua pucuk kumis agar tidak menjulur ke samping sehingga menyerupai orang musyrik dan Majusi.

Memotong kuku dan mencabut bulu ketiak, jangan seperti orang Majusi. Rutinkanlah melakukan hal ini dengan tujuan mengikuti sunnah Rasulullah Saw.

Baca juga :  Karya Ulama Nusantara dalam Berbagai Disiplin Keilmuan (2)

KH Sholeh Darat menjelaskan bahwa setiap mukmin wajib melakukan perintah dan menjauhi larangan syariat. Maka apapun perintah agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. wajib kita lakukan, dan semua yang telah dilarang oleh Rasulullah wajib kita jauhi dan tinggalkan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Kalian semua wajib mengikuti golongan orang-orang Islam (ulama), barang siapa yang meninggalkan jama’ah orang-orang mukmin dengan meninggalkan sunnah dan mengikuti perilaku bid’ah, maka tali keislaman benar-benar terlepas dari lehernya dan dia keluar dari golongan orang Islam.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan, maka ikutilah golongan mayoritas.”

Setelah kamu mengetahui, maka pahamilah sabda Rasulullah dalam masalah kumis dan jenggot. Imam al-Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw, “Buatlah perbedaan dengan perilaku orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis kalian semua agar merah-merah bibir kalian terlihat.”

Rasulullah Saw. bersabda:

خَالِفُوا الْمَجُوْسِيَّ لِأَنَّهُمْ كَانُوْا يُقَصِّرُوْنَ لِحْيَاهُمْ وَيُطَوِّلُوْنَ الشَّوَارِبَ

Buatlah diri kalian berbeda dengan orang Majusi, karena sesungguhnya mereka memotong jenggot mereka dan memanjangkan kumisnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang pertama yang memotong kumisnya adalah Nabi Ibrahim a.s.”

مَنْ لَمْ يَأْخُذْ مِنْ شَارِبِهِ مَا طَالَ حَتَّى تَبَيَّنَ الشَّفَةَ بَيَانًا ظَاهِرًا فَلَيْسَ مِنَّا

Barang siapa yang tidak memotong sesuatu yang panjang dari kumisnya, sehingga merah-merah bibirnya tampak jelas, maka dia bukan termasuk golongan orang yang melakukan syariatku.

Baca juga :  Umdatus Salik, Kitab Tasawuf Karya Kiai Muslih Mranggen

وَفِّرُوا اللُّحَى وَخُذُوا مِنَ الشَّوَارِبِ وَانْتِقُوا اْلإِبْطَ وَقُصُّوا الْأَظَافِيْرَ

Peliharalah jenggot kalian, potonglah kumis, cabutilah bulu ketiak dan potonglah kuku kalian.

Seorang sahabat melapor pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu memotong jenggotnya dan merawat kumisnya.”

Beliau kemudian bersabda, “Peliharalah jenggot kalian, potonglah kumis kalian hingga bibir kalian terlihat, potonglah ujung kumis kalian, buatlah perbedaan dengan orang-orang ahli kitab, jangan meniru perilaku mereka.”

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa yang menggunting kumisnya pada hari Jum’at, maka baginya sepuluh pahala kebaikan dari setiap helai rambut yang jatuh, diampuni sepuluh keburukannya dan diangkat derajatnya sepuluh tingkatan.”

“Tinggalkan jenggotmu dan buanglah kumismu.”

“Barang siapa yang panjang kumisnya, maka Allah tidak akan mengabulkan doanya.”

مَنْ طَوَّلَ شَارِبَهُ عُذِّبَ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: لَا يَجِدُ شَفَاعَتِيْ وَلَا يَشْرَبُ مِنْ خَوْضِيْ وَيُعَذَّبُ فِيْ قَبْرِهِ وَيُبْعَثُ لَهُ مُنْكَرٌ وَنَكِيْرٌ فِيْ غَضَبٍ

Barang siapa yang memanjangkan kumisnya, maka akan mendapatkan empat siksaan: (1) Tidak akan mendapatkan syafaatku, (2) Tidak akan minum dari telagaku, (3) Disiksa di alam kubur, dan (4) Allah mengutus malaikat munkar dan nakir mendatanginya dengan marah-marah.

Imam Nawawi berkata, “Makna hadits ini adalah perintah untuk memotong atau menggunting kumis, dengan batas sampai merah-merah bibir bagian atas bisa terlihat, jangan dipotong semua. Tapi, jadikanlah kumis itu seperti alis, jangan sampai menutupi bibir dan jangan panjang-panjang, juga jangan sampai ujung kumis itu panjang menjulang ke atas atau samping, sebab ada sabda Rasulullah,  “Janganlah kalian meniru orang-orang majusi yang memanjangkan ujung kumisnya dan memotong jenggotnya.”

Baca juga :  Tafsir Surat Al-Fatihah Menurut KH Sholeh Darat

Demikianlah penjelasan KH. Sholeh Darat terkait dengan hukum memelihara jenggot dan memotong kumis. Wallahu A’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.