Hukum Menikahi Wanita Hamil di Luar Nikah Menurut 4 Madzhab

Hukum menikah wanita hamil

Hukum Menikahi Wanita Hamil di Luar Nikah – Normalnya seorang perempuan atau wanita akan hamil setelah menikah. Namun, karena kurangnya pengawasan dari orangtua atau faktor lainnya, terkadang perempuan mengalami ‘kecelakaan’ sehingga membuatnya hamil sebelum waktunya.

Untuk mencegah tersebarnya aib (hamil di luar nikah), biasanya pihak orangtua akan segara menikahkan putrinya, baik kepada laki-laki yang telah menghamili atau kepada laki-laki lain. Meski begitu, terkadang tidak sedikit umat Islam yang bingung tentang hukum kasus demikian.

Baca juga :  Ini Situasi yang Mewajibkan Anda Segera Menikah
Baca juga :  Jomblo Harus Tahu, Perbedaan Hukum Nikah dalam Pandangan 4 Mazhab

Lalu bagaimana hukum pernikahan tersebut dan bagaimana status nasab anak yang ada dalam kandungan menurut hukum Islam (fikih)? Menikahi wanita hamil di luar nikah hukumnya masih diperselisihkan. Sedangkan para ulama merinci mengenai status anak yang ada dalam kandungan.

Berikut ini hukum menikahi wanita hamil di luar nikah menurut 4 madzhab:

Pertama, Madzhab Hanafiyah

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum menikahi perempuan yang hamil di luar nikah adalah boleh dan sah. Mengenai hubungan intim dan status anak yang ada dalam kandungan hukumnya masih ada beberapa perincian.

Baca juga :  Nasihat Pernikahan Imam Abu Hanifah kepada Khalifah al-Manshur
Baca juga :  Kisah Imam Hanafi Didebat Raja Atheis tentang Keberadaan dan Pekerjaan Allah

Jika sang suami merupakan laki-laki yang telah menghamili, maka ia boleh langsung menggauli istrinya. Adapun status anak yang ada dalam kandungan akan tetap bernasab kepadanya. Dengan catatan sang anak terlahir setelah enam bulan dari masa pernikahan

Akan tetapi, jika anaknya terlahir sebelum enam (6) bulan, maka ia tidak bernasab. Artinya, sang ayah tidak bisa mewariskan hartanya dan tidak bisa menjadi wali saat sang anak menikah nanti.

Sementara itu, jika yang menikahi bukan dari laki-laki yang menghamili, maka ia tidak boleh berhubungan intim sampai istrinya melahirkan. Sedangkan status anak yang lahir tidaklah bernasab (Syekh Wahbah al-Zuhaili, Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, jilid 9, hal. 140).

Kedua, Madzhab Syafi’iyah

Imam Syafi’i berpendapat bahwa menikahi perempuan hamil di luar nikah hukumnya boleh dan sah. Kemudian sang suami (baik dari laki-laki yang telah menghamili atau pun bukan) boleh langsung berhubungan intim tanpa harus menunggu sampai istrinya melahirkan, namun hukumnya adalah makruh (Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Ibnu Hajar al-Haitami, jilid 5, hal. 183).

Baca juga :  Mengenal Metodologi dan Sumber Dalil Hukum Mazhab Syafi’i
Baca juga :  Gus Baha: Imam Syafi'i Hampir Membakar Kitabnya Gara-Gara Kena ‘Prank’

Kemudian anak yang ada dalam kandungan perempuan itu statusnya tidak akan bernasab. Kecuali apabila laki-laki tersebut yakin bahwa sang anak merupakan hasil dari spermanya. Dan anak itu juga lahir setelah enam (6) bulan dari masa pernikahan (Sayyid Ba Alawi al-Hadhrami, Bughyat al-Mustarsyidin, hal. 496).

Ketiga, Madzhab Malikiyah

Imam Malik berpendapat bahwa perempuan yang hamil sebab zina tidak boleh dinikahi. Waktunya sampai ia melahirkan kandungannya dan otomatis sang anak hanya akan bernasab pada ibunya. Beliau berhujah dengan hadis Nabi Muhammad Saw. sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلَا يَسْقِيَنَّ مَاءَهُ وَلَدَ غَيْرِهِ

Artinya : Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia tidak boleh meletakkan spermanya di atas anak orang lain. (HR. Baihaqi)

Baca juga :  Imam Malik, Ulama yang Mengaku Bodoh
Baca juga :  Metodologi dan Sumber Dalil Hukum Mazhab Maliki

Imam Malik beranggapan jika perempuan yang sedang hamil dinikahkan sebelum melahirkan, maka akan terjadi kerancuan dalam status nasab sang anak. Hal ini sebab sperma hasil zina akan bercampur dengan sperma suami yang sah. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, jilid 9, hal. 140).

Keempat, Madzhab Hanbaliyah

Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana keterangan Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir (jilid 18, hal. 130) berpendapat bahwa perempuan tersebut tidak boleh dinikahi sampai ia melahirkan. Selain itu, perempuan itu harus bertaubat jika yang hendak menikahi adalah pria baik-baik.

Baca juga :  Kisah Imam Ahmad bin Hanbal, Tukang Roti dan Istighfar
Baca juga :  5 Macam Hukum Menikah dalam Kitab Qurrotul Uyun

Alasan Imam Ahmad hampir sama dengan Imam Malik, namun beliau menambahkan syarat taubat karena perempuan yang hamil sebab zina tidak layak untuk seorang mukmin yang baik berdasarkan firman Allah :

 الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ 

Artinya : Laki-laki pezina tidak boleh menikah melainkan hanya kepada perempuan pezina atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS. An-Nur: 3)

Demikian ulasan singkat tentang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah dalam agama Islam menurut 4 madzhab. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *