Ibn Al-Banna Al-Marrokushi: Matematikawan Maroko di Era Keemasan Islam

Dalam perjalanan rentetan sejarah, zaman dinasti Marinid atau Al-Marini terkenal dengan pesat dan suburnya perkembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu sains dan matematika. Maroko terbentuk karakter keilmuanya berkat perhatian tinggi dinasti Marinid akan pentingnya sebuah ilmu. Putra-putri bangsa ini pada zaman itu mengungguli saudara sebangsa Arab lainnya dalam bidang ilmu sains dan matematika.

Jika kita kembali membuka lembaran perjalanan sejarah dinasti sebelum dinasti Marinid, kita akan melihat corak perkembangan yang ada di setiap dinasti itu berbeda. Dinasti Murabithun atau Almoravid lebih condong terhadap sisi perkembangan ilmu syariah, fikih dan filsafat Islam.

Lalu dinasti Muwahidun atau biasa juga disebut Almohad, secara garis besar adalah dinasti yang menemukan gagasan inovasi kedokteran, kosmologi, dan ilmu kehidupan lainnya. Maka di sinilah letak kontribusi dinasti Marinid, yaitu mengembangkan ilmu sains dan matematika dalam peradaban Islam. Lalu siapakah pelopor dari perkembangan Islam dalam ilmu sains dan matematika?

Ibnu Al-Banna Al-Marrokushi adalah salah satu ulama pelopor peradaban perkembangan ilmu sains dalam Islam. Ulama yang bernama lengkap Abu Al-Abbas bin Muhammad bin Ustman al-Azdiy al-Marrokushi ini terkenal dengan kecerdasan dan kepiawannya dalam ilmu sains dan matematika. Ia terkenal dengan julukan Al-‘Adadiy karena keahlian dan kepakarannya dalam bidang matematika.

Kakek Al-Banna adalah seorang arsitek. Sebutan baginya pun adalah Ibnu Al-Banna. Ibnu Al-Banna lahir di  Marakesh tahun 654 Hijriyah. Semasa kecilnya, ia mendalami ilmu syariah dan ilmu agama oleh ayahnya. Ia menghafalkan Alquran dan juga matan-matan seperti nahwu, sharaf, balagah, hadis, fikih, ushul fikih, dan lain-lain.

Baca juga :  Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam yang Mengejutkan Dunia Filsafat

Meranjak remaja, ia pergi ke kota kota Fez, kota yang dijuluki madinatul ‘ilm (kota ilmu) oleh orang-orang Maroko. Di sana ia mempelajari ilmu kedokteran, filsafat, astronomi, dan matematika.

Ketika belajar di Fez beliau adalah murid yang menonjol dalam bidang matematika. Ketertarikannya kepada ilmu matematika itu membawanya mendapatkan beberapa apresiasi dan penghargaan dari raja-raja dinasti Marinid di Maroko. Bahkan bisa dikatakan bahwa ia memiliki hubungan baik dengan para raja berkat wasilah kecintaan dan keahliannya dalam bidang ilmu matematika.

Ilmu matematika adalah ilmu yang mengangkat namanya hingga disematkan julukan al-‘adady padanya. Saat belajar di Fez, ia mempelajari geometri secara umum dan mendalami secara khusus Algoritma Euclidean, teori yang ditemukan oleh matematikawan asal Yunani yang bernama Euclid untuk mencari Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari dua bilangan bulat.

Ia juga mempelajari angka-angka pecahan dan hal-hal lain dalam matematika yang di sana terdapat kontribusi besar matematikawan muslim Arab dalam perkembangan ilmu matematika.

Keahlian Al-Banna dalam bidang matematika melebihi matematikawan Arab sebelumnya, walaupun secara umum kita sulit mengatakan bahwa karya Al-Banna adalah murni hasil penelitiaanya, akan tetapi dari gaya penulisan yang ditulisnya memberikan kesan bahwa ia mengumpulkan segala hal yang ia pelajari dari matematikawan lain. Dan dari sanalah ia berhasil menjadi pencetus pecahan sebagai pembanding dua angka.

Baca juga :  Fase Purnama Manusia Menurut Al-Razi

Buku Al-Banna yang paling terkenal adalah Talkhis A’malul Hisab (ringkasan operasi aritmatika). Buku ini adalah rujukan penting dalam ilmu matematika. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang pecahan, perkalian, kuadrat, dan kubik serta yang lainnya.

Dr. Ragib al-Sirjaniy dalam tulisannya mengatakan bahwa George Sarton seorang kimiawan Amerika  mengganggap buku Al-Banna ini adalah salah satu buku terbaik yang ada dalam ilmu matematika. Buku ini dipelajari di Inggris hingga abad 16 masehi, dan kembali dihidupkan di abad ke-19 dan 20.

Kitab Talkhis A’malul Hisab ini banyak yang mensyarahi, di antaranya yaitu Ibn Haidur, Ibnu Mujdiy, Al-Qalasadi, dan Al-Banna sendiri. Syarh yang dituliskan Al-Banna diberi judul Ru’yatul Hijab. Di dalam kitab ini, Al-Banna memuat di dalamnya tentang perhitungan akar kuadrat dan teori mengenai pecahan tersusun.

Beberapa ide hasil penelitian Al-Banna lainnya yang terdapat di Ru’yatul Hijab menjadi sorotan peneliti Barat, salah satunya yaitu teori perhitungan pecahan bersusun dengan menghitung perkiraan akar kuadrat dan koofesien binomial.

Selain menulis Talkhis A’malul Hisab dan juga syarahnya, Al-Banna juga menulis beberapa judul buku lainnya dalam bidang matematika, di antaranya: Pengantar ilmu Euclid’s Element, Kitabul Ushul wal Muqaddimat fi Al-Jabar, Kitab Al-Maqalat Al-‘Arba’, Muktashar fi Al-Misahah, Al-Iqthidab, kitab Aljabar wal Muqabilah, dan Jawaabat ‘an Masail Handasiyah wal Misahiyah.

Meski terkenal dengan ilmu matematikanya, Al-Banna juga banyak mengarang tulisan tentang ilmu syariah dan bahasa Arab, di antaranya: Tafsirul Baa’ min Bismillahirrahmanirahim, Tafsir Suratayni Al’Ashr wa inna a’thaynakal Kaustar, Muntaha As-Sauul fi ‘Ilmi Ushul, Tanbihul Mafhum ‘ala Madarikil ‘uluum, Hasyiah ‘ala Tafsir Al-Kasyaf, Al-Kulliyat fil Mantiq, Mukhtashal Ihya lil Ghazali, Kitabu ‘Amaliah fil Faraidh, Kitabul Fushul fil Faraidh, Kulliyaaatt fil ‘Arabiyah, dan lain-lain.

Baca juga :  Berjabat Tangan dengan Sang Mulla

Menutup tulisan tentang Al-Banna, saya ingin menghidangkan gambaran tentang sosok Al-Banna dalam kitab Jadzwah Al-Iqtibas yang dituturkan oleh muridnya sendiri yaitu Abdurrahman Al-Lijaiy. Ia berkata: “Guru kami adalah sosok yang baik perilakunya, pembawaannya tenang.

Ia pemikir hebat, berbudi luhur, berpenampilan baik, berperawakan sedang, berkulit putih, pakaiannya bagus, dan makanannya pun yang baik-baik. Ia selalu memberi salam kepada siapa pun yang dijumpainya. Semua yang bercakap-cakap dengannya tak pernah pergi dengan terpaksa.

Ia juga dicintai para ulama dan orang-orang sholeh. Selalu menjaga apa-apa yang berfaidah dalam dirinya, juga sedikit berbicara. Ketika menghadiri dan berbicara di sebuah majlis, semua yang hadir diam. Dan ia sangat teliti dan berhati-hati dalam berkata sehingga sedikit sekali kesalahannya.” Wallahu a’lam Bisshawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *