Ibn Aqil, Mutiara Peradaban Islam

ibn aqil

Ibn Aqil mempunyai karya sangat terkenal, yaitu kitab al-Funun. Banyak kalangan yang menganggap Ibn Aqil adalah mutiara dalam peradaban Islam. Pada usia 16 tahun atau sekitar tarikh 1055, keluarganya dibantai, dan akhirnya Ibn Aqil hidup sebatang kara. Pembantaian ini terjadi di Baghdad akibat serangan Seljuk.

Ulama yang bernama lengkap Ali ibn Muhammad Abu al Wafa ibn Aqil itu, saat ditinggal keluarganya harus berjuang sendiri dalam mempertahankan hidupnya. Ibn Aqil dilahirkan pada tarikh 1039. Sehingga, pada usianya yang masih belia, dia hidup sendiri dan harus mandiri.

Sosok remaja ini tergolong cerdas dan berbakat. Ia bekerja sebagai penyalin untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Dalam membangun perjalanan hidupnya, Ibn Aqil menulis sebuah prinsip hidup, yakni:

“Tidak akan kutinggalkan pencarian ilmu, terkecuali pada dua malam; malam pernikahan, juga kala itu, di malam duka kepergian orang tuaku.”

Pada suatu hari, karena pengetahuan dan kecerdasannya, Ibn Aqil ditolong oleh seorang saudagar, Abu Manshur ibn Yusuf. Dan di saat yang lain, Ibn Aqil tertarik  mendalami ilmu hukum, lalu kemudian mendatangi hakim kepala dari mazhab Hanbali, Al-Qadhi Abu Ya’la. Pemuda berbakat Ibn Aqil menjadi murid kesayangan hakim tersebut.

Mencintai Ilmu

Berbagai cobaan dan ujian yang dilalui Ibn Aqil, diterjemahkannya sebagai tempaan hidup menuju keberhasilan dalam mempelajari ilmu dan pendekatan diri kepada Ilahi Rabb. Karena kecerdasannya, ia menjadi penasaran terhadap keilmuan. Dan hal ini yang membuat Ibn Aqil tidak membiarkan waktunya sedetik pun kosong.

Baca juga :  Sultan Syarif Kasim II; Sang Sultan Nasionalis

Dalam berguru mencari ilmu, Ibn Aqil juga meluangkan waktunya untuk menyambangi guru-guru lainnya. Antara lain mendatangi Abu al Thayib at Thabari, al Khatib al Baghdadi, Abu Ishaq al Syirazi, dan Abu Muhammad al Tamimi. Hal ini yang mendorong Ibn Aqil untuk menyerukan pemikiran rasionalis.

Akibat pemikiran rasionalis, Ibn Aqil mulai menghadapi berbagai masalah dan perkara. Murid-murid Abu Ya’la lainnya menganggap Ibn Aqil telah mengotori almamater Hanabilah. Diawali fitnah yang mencampur-adukkan mazhab, hingga tuduhan sesat, bertubi-tubi menyerang Ibn Aqil.

Dihujani berita-berita yang menyudutkan Ibn Aqil (konon saat ini disejajarkan dengan makna hoaks), Ibn Aqil menghadapinya dengan sabar dan tidak mudah terpancing marah. Bahkan yang menyerangnya tidak dianggap sebagai lawan.

Ironisnya, karena sikap bijak Ibn Aqil dalam menghadapi hujatan ini, bagi lawannya dimaknai lain. Fitnah yang tidak mempan, akhirnya dibarengi tindakan kekerasan.

Dari sebuah sumber dalam Conference of The Book: The Search for Beauty in Islam, yang ditulis oleh Khaled Abou al-Fadl dikutip: “ia dianiaya mereka yang buruk, dan yang secara intelektual jauh di bawahnya.”

Ibn Aqil memilih menyingkir dari perdebatan-perdebatan yang tidak berkualitas (baca: rendah). Kegigihannya dalam menuntut ilmu dan pengetahuan terus berjalan dan tiada henti. Ia sangat memahami, pengetahuan seluas-luasnya akan menuntun seseorang menjadi lebih bijak dan berintegritas.

Baca juga :  Buya Syafii Maarif dan Semangat yang Tidak Pernah Padam
Sosok Berintegritas 

Menurut Ibn Aqil, integritas tidak bisa dibagi. Gagasan itu akan senantiasa hadir dalam setiap sudut pikiran. Termasuk dalam memahami dan menjalani ketakwaan kepada Tuhan.

Seorang Muslim sudah semestinya menatap segala hal dengan pikiran dan hati yang terang. Keberagaman dan perbedaan di benak Ibn Aqil, dipahami sebagai rahmat, kekayaan dan juga peluang.

Integritas itu pula yang kemudian bakal menampilkan Islam sebagai laku hidup yang berkeadilan. Islam tidak bisa, bahkan haram digunakan sebagai atas nama bentuk pemaksaan, kekerasan, dan bentuk amoral lainnya.

Pada saat menginjak usia ke-20, Ibn Aqil terlibat perseteruan serius dengan Menteri Keuangan Dinasti Seljuk, Abu Sa’ad al Musthawi. Ibn Aqil menentang pemugaran makam Imam Abu Hanifah. Karena pada saat itu, penguasa memerintahkan militer untuk merampok pintu-pintu besar milik gereja dan sinagog yang ada di Samara.

Dalam pandangannya, Ibn Aqil berpendapat, bahwa pemugaran untuk membangun fondasi baru sangat memungkinkan menghancurkan tulang-belulang sang imam. Secara substansi, penghormatan kepada seseorang, menurut Ibn Aqil, jauh lebih utama daripada cuma dalam kemasan.

Akibat kritik keras dari Ibn Aqil ini, ia dicap sebagai ulama sesat, penganut taklid buta dan bid’ah.  Tidak itu saja, Ibn Aqil dianggap pelindung gereja dan juga dianggap menolak dan menentang kemajuan Islam. Sehingga darah Ibn Aqil dihalalkan untuk dibunuh.

Kuat Memegang Prinsip

Meski dengan cobaan berat yang dilalui oleh Ibn Aqil, yang penting baginya bahwa kebenaran harus disampaikan. Ia tidak pernah gusar dan marah, justru semakin memperdalam menulis dan belajar. Dalam beberapa syiar dan dakwah Ibn Aqil, prinsip-prinsip humanisme Islam (kemanusiaan) sangat sering disampaikannya.

Baca juga :  Mansour Fakih, Aktivis Pejuang Keadilan Gender (Bag. II)

Ibn Aqil juga melahirkan karya besar dengan menulis kitab al Funun yang tebalnya 800 jilid. Dalam kitab ini, sangat kental nuansa kemanusiaan yang menjadi prinsip-prinsip dasar sebagai seorang muslim.

Tidak salah, jika seorang Ibn Aqil dianggap sebagai mutiara dalam peradaban Islam. Dan konon, Ibn Aqil dianggap sebagai guru dari seorang wali imam yang bernama Syekh Abdul Qadir al-Jaelani. Wallaahu a’lam bis shawab. Semoga Allah Swt merahmati Ibn Aqil. ***

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *