Ibnu Rusyd, Filsuf Muslim dan Sang Komentator Aristoteles

Ibnu Rusyd adalah Salah satu ilmuwan muslim yang lahir dari kejayaan Islam di benua Eropa, beliau lahir di Cordoba, Andalusia tahun 520 H/1126 M, tepatnya 15 tahun setelah Imam Ghazali wafat.  Beliau lahir dari sebuah keluarga yang kaya harta dan juga kaya ilmu. Nama lengkapnya adalah Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, atau di dunia Barat terkenal dengan nama Averrous.

Perjalanan intelektualnya dimulai  di Cordoba dengan belajar kepada ayahnya yang merupakan seorang hakim. Dari sang ayah, Ibnu Rusyd belajar tentang ilmu fikih, ushul fikih, ilmu kalam, bahasa dan sastra. Setelah itu, sang ayah kemudian mendatangkan Abi Al-Qashim bin Basyakawal, Abi Marwan bin Mazarrah, Abi Bakri bin Zamhum, Abi Ja’far bin Abdul Azis, dan Abi Abdillah Al-Muzarij untuk mengajarkan fikih dan berbagai disiplin ilmu kepada Ibnu Rusyd. Selain itu, Ibnu Rusyd juga belajar tentang matematika, fisika, astronomi, filsafat dan lain sebagainya.

Di masa kehidupan Ibnu Rusyd, Cordoba adalah pusat peradaban Islam yang ada di Barat, bahkan kegemilangan Cordoba menjadi pesaing Baghdad. Di mana banyak ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana, salah satunya adalah kajian filsafat.

Baca juga :  Metode-Metode Ilmiah dalam Tradisi Keilmuan Islam

Filsafat Ibnu Rusyd adalah corak filsafat Aristotalian, bahkan beliau mendapat julukan sang komentator Aristoteles. Beliau juga yang membela para filsuf dari yang pernah dikritik Al-Ghazali, di mana beliau menuis kitab Tahafut at-Tahafut untuk menyanggah tuduhan yang lemparkan oleh Al-Ghazali kepada para filsuf yang ada dalam kitabnya Tahafut al-Falasifah.

Awal mula Ibnu Rusyd menjadi komentator Aristoteles adalah ketika beliau pindah di Maroko dan disuruh mengelola sebuah lembaga pendidikan di sana.  Atas perintah sang khalifah yang berkuasa pada waktu itu yaitu Khalifah Abdul Mukin  pada tahun 1153 M, Ibnu Rusyd kemudian disuruh untuk menulis catatan tentang pemikiran-pemikiran Aristoteles.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd pada waktu itu diikuti oleh banyak orang, karir beliau juga begitu cepat sampi menjadi orang penting di istana para khalifah. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Rusyd mendapat penentangan dari para ulama fikih, yang mengakibatkannya diasingkan dari istana karena dianggap atheis dan sesat.

Dalam pandangan Ibnu Rusyd sebagai seorang filsuf, semua persoalan agama harus dipecahkan dengan akal, logika harus dipakai sebagai dasar segala penilaian tentang kebenaran. Sehingga dalam mempelajari agama, orang harus belajar memikirkannya dengan logika, karena tujuan syariat Islam yang benar adalah pengetahuan yang benar yaitu alilmulhaq wa amalulhaq.

Para filsuf muslim seperti Ibnu Rusyd dan lain sebagainya, mempunyai kontribusi besar dalam dunia kefilsafatan, sebagaimana kita ketahui bahwa filsafat Yunani dikenal sangat indah dan kaya, namun tidak menghasilkan pengetahuan. Melalui para filsuf muslimlah, yang kemudian melengkapi dengan ilmu pengetahuan dan menjadi jauh lebih bermanfaat. Oleh karena itulah, kenapa Islam mempunyai peranan besar dalam kebangkitan barat dari masa kegelapannya.

Baca juga :  Al-Ghazali Vis a Vis Keraguan

Sebagai seorang komentator Aristoteles, Ibnu Rusyd pernah membela pendapat Aristoteles tentang pengetahuan Tuhan. Di mana Aristoteles memandang bahwa Tuhan merupakan akal murni yang tinggi. Oleh karena itulah, pengetahuan dari akal yang tinggi harus merupakan pengetahuan tertinggi, agar persesuain yang mengetahui dan yang diketahui. Sesuatu yang diketahui Tuhan menjadi sebab adanya pengetahuan Tuhan. Jadi, kalau Tuhan mengetahu hal-hal yang kecil itu berarti pengetahuan Tuhan kurang sempurna.

Ibnu Rusyd adalah satu dari banyaknya ilmuwan dan ulama besar Islam yang lahir dari kejayaan peradaban Islam di dunia Barat, sumbangsih pemikirannya bukan hanya kepada dunia filsafat saja, akan tetapi juga dalam bidang fikih, kedokteran, kalam, dan lain sebagaiya.

Diantara karya-karyanya yang sangat penting adalah Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, yang berisi tentang perbandingan madzhab dalam fikih. Kemudian ada Fashl al-Maqal fi Baina al-Hikmah wa Asy-Syari’at, yang menjelaskan tentang adanya persesuaian antara filsafat dengan syari’at. Manahij al-Adillah fil Laqaidi Ahla al-Millah, sebuah kitab yang menjelaskan tentang pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahannya.

Kemudian ada kitab Tahafut at-Tahafut, yang merupakan sebuah kitab terkenal dalam kajian filsafat dan ilmu kalam, yang dimaksudkan untuk menyanggah dan mengkritik pendapat Imam Ghazali yang pernah menyerang para filsuf melalui kitabnya Tahafut al-Falasifah.

Para cendekiawan muslim zaman dahulu tidak hanya menguasai satu ilmu saja, yaitu ilmu tradisional. Tetapi juga menguasai ilmu-ilmu rasional, yang kemudian berkembang menjadi sains, seperti kedokteran, astronomi dan lain sebagainya.

Baca juga :  Keterkaitan Antara Islam dan Filsafat Stoisisme
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.