Ibnu Thaba’thabai dan Wacana Kritik Syair

Ibnu Thaba’thabai dan Wacana Kritik Syair

Ibnu Thaba’thabai dan Wacana Kritik Syair- Terkadang konflik batin pada diri seseorang dengan peristiwa di masa lalu mendorongnya untuk mencurahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Begitupun dengan Thaba’thabai, dalam menulis karyanya ‘Iyâr asy-Syi’ri. Beliau menjelaskan mengenai keresahannya terhadap kondisi penyair pada masa itu.

Secara garis besar, ada tiga mihnah yang menimpa penyair pada masa Thaba’thabai. Di antaranya tersirat saat beliau mengartikan makna syair pada awal pembahasan buku. Bahwa syair adalah susunan kata yang memiliki wazan dan qafiyah. Jika intuisi seorang penyair sehat, maka ia tidak membutuhkan ilmu ‘arudh dan qafiyah. Namun, jika intuisi seorang penyair terganggu, maka dia bisa mengatasinya dengan piranti ilmu ‘arudh dan qafiyah.

Pada pembahasan bukunya, Thaba’thabai memaparkan beberapa piranti dalam penggubahan suatu syair. Sehingga dapat dipahami bahwa penyair pada zaman Thaba’thabai sudah tidak memiliki dzauq (penghayatan) yang sempurna. Sedangkan menurut Thaba’thabai, dzauq memiliki andil yang besar dalam proses pembuatan syair.

Layaknya media massa, syair pada masa Thaba’thabai dibuat oleh para penyair untuk memenuhi libido para penguasa. Dalam artian, para penyair masa itu mengabaikan dzauq yang menjadi piranti penting di dalam syair, tapi lebih memilih memenuhi kebutuhan pasar.

Selain keresahan-keresahan tersebut, Thaba’thabai juga merasa bahwa penyair pada masanya sudah kehabisan kata-kata. Semua lafal, makna, dan susunan yang indah sudah dihabiskan oleh penyair pada masa lalu.

Baca juga :  Meresapi Kisah Perselingkuhan dari Sastra Jendra

Sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dapat dijadikan bahan dalam penggubahan syair. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa Thaba’thabai mengamini syair ‘Antarah bin Syadad pada awal kasidahnya:

“Apakah para penyair meninggalkan suatu seni dalam syair yang belum dibahas, dan apakah kamu mengetahui rumah kekasih setelah kau meragukannya”. (Muhammad bin Qasim al-Anbari: 2014)

Tidak hanya konflik batin yang menimpa Thaba’thabai, melainkan juga ada beberapa faktor eksternal yang mendorongnya sehingga menginspirasinya untuk menuliskannya ke dalam sebuah karya.

Pada abad 4 Hijriah—padda masa Thaba’thabai—definisi ‘ilmu mempunyai arti: sampainya gambaran sesuatu pada akal. Jika disandingkan dengan kata syair, maka niscaya terdapat upaya untuk menentukan karakter seni dari syair tersebut dan menentukan unsur-unsur rasional yang mampu dijadikan pegangan bagi semua orang. Termasuk dalam hal penilaian syair itu sendiri.

Dengan adanya pemahaman ‘ilmu yang seperti ini, Thaba’thabai juga ingin menjadikan syair sebagai suatu definisi yang dapat dijangkau oleh semua orang dari pelbagai kalangan.

Di samping pemahaman ‘ilmu yang mengalami perkembangan pada abad 4 Hijriah, sekte keilmuan yang berkuasa pada masa itu juga ikut andil menjadi pendorong bagi Thaba’thabai. Di mana sekte keilmuan ini fokus pada penstatistikan ilmu dan penyusunannya menjadi suatu buku. Seperti al-Farabi pada Ihshâu al-‘Ulum dan al-khawarizmi pada kitab Mafâtîhu al-‘Ulum. Sehingga bukan menjadi hal yang asing lagi, jika Thaba’thabai menuangkan gagasannya tentang wacana kritik teoretis syair dalam suatu buku.

Baca juga :  Puisikah Alquran?

Tidak berlebihan kiranya, jika dikatakan polemik-polemik yang bergejolak pada masa Thaba’thabai memberikan pengaruh pada diskontinuitas pemaknaan kritik syair secara drastis. Dikatakan drastis karena kritik syair mengalami perubahan dari suatu bentuk kesadaran-penghayatan menjadi suatu wacana, juga perubahan dari naqd tathbiqi menuju naqd nadhari.

Sehingga kritik syair pada masa ini lebih konsen pada penentuan definisi, fungsi, dan piranti dalam penggubahan suatu syair. Hal ini dapat kita temui dari pemaparan Dr. Jabir Ushfur pada buku Mafhum al-Syi’ir:

“Buku ini—mafhum al-Syi’ir—tidaklah kita katakan naqd tathbiqi, yang mana konsen pada kritik suatu objek dengan bersandar pada perbandingan. Akan tetapi buku ini masuk pada naqd nadhari, yang mana ia konsen pada penentuan asal-usul suatu seni, menjelaskan kaidah-kaidahnya, serta menentukan standar dari suatu nilai”.

Selain perubahan metode dalam kritik itu sendiri, kritik pada masa Thaba’thabai sudah mulai diperbincangkan secara serius. Dikatakan serius karena Thaba’thabai telah menuangkan gagasannya pada karya yang prestisius tentang kritik syair. Di mana buku tersebut dapat dibaca, dipahami, dan akhirnya dijadikan panduan bagi para penyair dalam menggubah syair.

Meskipun Thabai’thabai pada penamaan bukunya tidak lantang menggunakan kata naqd yang mewakili makna kritik, namun penggunaan kata ‘iyâr sudah cukup mewakili apa yang ingin ia gaungkan. Karena kata iyâr sendiri sudah mengisyaratkan kepada kita akan kesadaran teoretis dari syair yang ada pada jiwa Thaba’thabai. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Dr. Jabir Ushfur:

Baca juga :  Epilog Hujan; Pagi Para Pemimpi

“Sesungguhnya kata Iyâr al-Syi’ri sepadan dengan piranti-piranti dan standar yang dijadikan sebagai dasar dalam penilaian sebuah seni”.

Dengan kata lain Thabai’thabai telah mampu melanjutkan bangunan kritik atas syair pada masa di mana mulai bergesernya penghayatan (dzauq) atas syair itu sendiri. Selain daripada itu, diskontinuitas yang terjadi juga mendorong Thabai’thabai melakukan pemugaran yang mendasar dalam berbagai lini kritik atas syair.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *