“Iboe Indonesia”, Politis dan Religius

Soekarno mungkin bakal menulis roman bila tak terlalu sibuk dalam babak-babak pergerakan politik kebangsaan. Ratusan tulisan Soekarno merangsang pembaca berpikir, menggoda imajinasi bergerak jauh dan tinggi. Soekarno (terlalu) girang berbahasa.

Ia ingin kata-kata itu menghantam, memeluk, memangku, menendang, meledak, atau mencubit. Kesadaran dampak kata, dipertimbangkan Soekarno seperti sedang berhadapan dengan orang ramai atau kerumunan. Tulisan di kertas menjadi pengucapan-pengucapan lantang.

Di Soeloeh Indonesia Moeda edisi Juli 1928, ia menulis artikel berjudul “Melihat Kemoeka”. Artikel pendek tapi berderap, mengusir murung dan membantah ketenangan. Kalimat demi kalimat atau paragraf demi paragraf terbaca sebagai orasi berkeringat penuh deru.

Di situ, Soekarno menulis: “Kita berdjalan teroes, dengan tidak moendoer selangkah, tidak berkisar sedjari. Kita pertjaja bahwa satoe kali pastilah datang saatnja, jang kita poenja maksoed akan tertjapai.” Berjalan ke muka, berjalan terus. Soekarno menganjurkan ikhtiar-ikhtiar meraih merdeka. Ia berujar: “Fadjar telah menjingsing!” Perhitungan kata dan waktu, mewujudkan Indonesia terlepas dari kolonialisme.

Tulisan itu tak terencana bakal memiliki titik-titik hubungan dalam peristiwa kaum muda (1928). Mereka mengaku “poetera dan poetri”, memiliki ibu dan bapak dalam mengisahkan Indonesia: disumpahkan.

Kaum muda itu “beribu” Indonesia bila kita menilik kata-kata berseru buatan Soekarno: “Iboemoe Indonesia teramat tjantik. Tjantik langitnja dan boeminja, tjantik goenoengnja dan rimbanja. Tjantik laoetnja dan soengainja. Tjantik sawahnja dan ladangnja…..”

Baca juga :  Kenapa Menjadi Ibu di Indonesia Tidak Mudah?

Ia tak sedang menggubah puisi. Kalimat-kalimat dituliskan, sadar memberi sengat saat dipidatokan. Soekarno tak turut dalam jemaah sastra sedang menggeliah masa 1920-an oleh pengaruh (estetika) Eropa. Di deru sastra, Soekarno tak berjalan bersama M Yamin dan Roestam Effendi. Soekarno membaca buku-buku sastra tapi keranjingan menghasilkan esai-esai bertaraf sastra terbukti dari olah bahasa dan keriuhan imajinasi.

Pada 1928, pengertian-pengertian “ibu” disampaikan Soekarno berlatar situasi politik di Indonesia. Ia dan teman-teman sudah mendirikan PNI. Gerakan-gerakan politik pun memastikan memilih penamaan “Indonesia”, episode perceraian dari diksi-diksi lama. Pembahasaan baru memungkinkan semaian imajinasi tak terkira.

Soekarno mengungkap: “Iboemoe Indonesia teramat koeat dan sentosa. Dari doeloe ia melahirkan poedjangga, pahlawan dan pendekar. Dan sekarang inipoen dalam zaman soesah dan soekar serta sempit hidoepnja ini tidak berhenti djoega ia melahirkan poetera-poetera jang tjakap-tjakap, gagah berani.” Di situ, “ibu” terus ditulis dan dimaknai. Soekarno mengajukan “Iboe Indonesia”, seruan imajinatif atas Indonesia ingin mulia.

Agoes Salim (1928) menanggapi dengan mufakat: “Atas nama tanah air, jang oleh beberapa bangsa disifatkan dewi atau iboe.”

Kita perlahan dituntun Agoes Salim ke pemaknaan kolonialisme dan religius. Ia menjelaskan kolonialisme dilakonkan Eropa menimbulkan derita, kehancuran, dan dusta. Indonesia menjadi negara terjajah mengacu gagasan dan imajinasi tanah air “bentukan” Eropa abad XIX dan XX.

Baca juga :  Inggit Garnasih, Sang Per(empu)an Sukarno

Agoes Salim menulis sindiran: “Demikianlah kita lihat, betapa ‘agama’ jang menghambakan manoesia kepada berhala ‘tanah air’ itoe mendekatkan kepada persaingan bereboet-reboet kekajaan, kemegahan dan kebesaran; kepada memboesoekkan, memperhinakan dan meroesakkan tanah air orang lain, dengan tidak mengingati hak dan keadilan. Inilah bahajanja, apabila kita ‘menghamba’ dan ‘memboedak’ kepada ‘Iboe Dewi’ jang mendjadi tanah air kita itoe karenanja sendiri sadja; karena eloknja dan tjantiknja; karena kajangan dan baiknja….”

Pada masa 1920-an, alur pergerakan politik memiliki perbedaan. Kaum pergerakan menganut sekian ideologi, membahasakan, dan bersaing dengan simbol-simbol. Dulu, orang memiliki sebutan nasionalis, Islam, komunis, dan lain-lain. Semua mendalilkan Indonesia. Mereka mengerti tanah air. Pemaknaan kadang berbeda arah dan hikmah.

Agoes Salim tampil dengan idiom-idiom keagamaan. Anutan keagamaan memunculkan tanggapan meralat atas seruan-seruan Soekarno. Tanggapan tetap di alur pemuliaan Indonesia. Agoes Salim mengajak orang-orang mencintai tanah air dengan menuruti perintah-perintah Allah. Bergerak dengan referensi agama. Agoes Salim memberi epilog membandingkan Indonesia dengan “tanah suci” dinamakan Mekah. Perbedaan terlalu kentara.

Kita simak anjuran Agoes Salim: “Alangkah oentoeng ‘Iboe Indonesia’, djika poetera-poetera hendak mentjontoh sedikit tjinta jang karena Allah belaka itoe kepadanja.”

Soekarno masih lantang pada masa 1930-an. Tekanan dan hukuman pemerintah kolonial tak bisa “memelankan” suara atau melembutkan bahasa Soekarno. Bergerak itu keberanian. Bahasa itu melawan dan mengubah. Tulisan demi tulisan dihasilkan terbaca kalangan terpelajar. Pidato demi pidato disampaikan di pelbagai tempat dengan segala pengawasan dan pembatasan. Soekarno pun masih rajin menggerakkan kata-kata membikin gairah meluap mengejawantahkan Indonesia.

Baca juga :  Soekarno dan Islam dalam Pidato 1 Juni 1945

Soekarno (1930) mengatakan masa lalu: “… oedara Indonesia soedah penoeh dengan hawa kesedihan merasakan kesengsaraan dan oleh karenanja, penoeh poela dengan hawa keinginan mengindari diri dari kesengsaraan itoe… Sedjak berpoeloeh-poeloeh tahoen rakjat Indonesia itoe hatinja selaloe mengeloeh, hatinja selaloe menangis menoenggoe-noenggoe datangnja wahjoe jang akan menjalakan api pengharapan.”

Penggunaan diksi “ibu” pada masa 1920-an dilengkapi dengan perubahan-perubahan dinantikan mengisahkan “Ratu Adil.” Soekarno tak melupa pembahasaan “ibu” tapi mementingkan “pukulan” dan “keperkasaan” atas segala kebijakan pemerintah kolonial. Ia tetap memastikan “Iboe Indonesia” memiliki putra-putra berjalan ke muka: berani membuktikan janji-janji memuliakan Indonesia.

Pada masa 1930-an, seruan-seruan Soekarno makin terasa memiliki bobot religius, tak melulu politik. Religiositas itu tak beriringan dengan pemahaman Agoes Salim memilih gamblang membahasakan agama dalam pergerakan politik Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Begitu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.