Ibu Agung H.A Depu, Pahlawan dari Mandar

agung depu

Ibu Agung H.A Depu merupakan salah satu pahlawan perempuan dari Mandar, Sulawesi, yang turut berjuang merebut proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga merupakan putri dari keluarga bangsawan yang disebut Todziang Laiyyana (orang yang berdarah biru) dari ayahnya yakni Laju Kanna Doro, raja Balanipa ke-50.

Riwayat Singkat

Ibu Agung H.A Depu, Lahir di Tinambung, Agustus 1907 dengan nama Andi Mania. Saat remaja namanya diganti menjadi Sugiranna Andi Sura. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Asal muasal nama Ibu Agung Hajja Andi Depu sendiri sebagai berikut; Ibu Agung merupakan gelar yang ia dapatkan dari masyarakat dan para pejuang. Hajja didapatkan setelah ia pulang dari ibadah haji, lalu Andi kerana ia berasal dari keluarga bangsawan.

Sedangkan Depu karena ia dianggap tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan kakak-kakak perempuannya. Ia disapa dengan istilah karepu (tidak cantik) yang kemudian menjadi terbiasa dengan nama sapaan Depu.

Ibu Agung H.A Depu menempuh sekolah di SR (Sekolah Rakyat) selama tiga tahun. Juga menempuh Ilmu agama dengan mendatangkan langsung seorang guru ke istana.  Tidak mengherankan, pada usia 12 tahun ia sudah menamatkan 30 juz Al-Qur’an.

Pernikahan Ibu Agung H.A Depu

Menginjak usia remaja, masih bernama Sugiranna Andi Sura, ia sudah berani terang-terangan memperlihatkan kebenciannya terhadap perlakuan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan ia sudah mampu mengorganisir pemuda seusianya dalam sebuah wadah meski mereka belum berani menampakkan diri.

Baca juga :  H.R. Rasuna Said, Pahlawan Perempuan Multitalenta

Karena sifat tersebut orang tua Ibu Agung H.A Depu sangat mengkhawatirkannya. Maka pada usia 15 tahun ia dijodohkan dengan laki-laki bernama Andi Baso Pawiseang, putra dari Pammase bergelar Pallabuang. Mereka memiliki putra semata wayang bernama Bau Baso Parenrengi.

Sewaktu ayahnya menunaikan haji ke tanah suci, posisi Arayang Balanipa digantikan sementara oleh suaminya untuk menjalankan tugas mertuanya. Tetapi Arayang Balanipa Laju Kanna Doro meninggal di tanah suci, akhirnya lembaga adat mengangkat Andi Baso Pawiseang menjadi Arayang Balanipa ke 51.

Menjadi Arayang Balanipa Perempuan Pertama

Sebenarnya masyarakat Balanipa menghendaki Ibu Agung H.A Depu yang diangkat sebagai Arayang Balanipa. Tetapi karena belum ada sejarahnya perempuan menjadi seorang Arayang sehingga tidak mendapat restu dari lembaga adat. Selain juga tentu tidak akan mendapat restu dari Gubernur Selebes yang kala itu dipegang oleh Belanda.

Gubernur Selebes yang kala itu mengetahui bahwa istri dari Arayang Balanipa merupakan seorang pemberontak maka Andi Baso Pawiseang diganti oleh Abd. Majid. Kemudian selang beberapa tahun usai kekalahan Jepang dan kembali diambil alih oleh Belanda rakyat meminta Andi Baso Pawiseang yang saat itu memimpin untuk mengundurkan diri karena dirasa lunak kepada Belanda.

Baca juga :  Maria Walanda Maramis, Pejuang Hak Perempuan Minahasa

Kemudian rakyat meminta Ibu Agung H.A Depu untuk bersedia menjadi Arayang Balanipa ke 52. Maka dengan pertimbangan perjuangan Ibu Agung H.A Depu menerimanya. Ini menjadi sejarah bahwa untuk pertama kalinya seorang perempuan bisa menjabat sebagai Arayang Balanipa.

Membentuk Gerakan Wanita Mandar (Pujingkai)

Jepang mulai menduduki Mandar tahun 1942 sampai April 1945. Untuk mendapatkan simpati rakyat, Jepang menggunakan taktik pendekatan kepada masyarakat yang mayoritas beragama Islam yakni dengan mendirikan sekolah Islam bernama Sekolah Kaikyo Gakuin.

Salah satu yang diajarkan adalah melakukan latihan militer. Yang berlatih di sekolah ini kegiatannya senantiasa dikaitkan dengan perjuangan agama. Lalu didirikan organisasi Islam muda yang dipelopori oleh Ibu Agung H.A Depu.

Selain itu juga Jepang membentuk satu pasukan bernama Heiho, yang kemudian dimanfaatkan oleh rakyat Mandar untuk memudahkan mendapat senjata dan mengetahui bagaimana cara penggunaannya.

Ibu Agung H.A Depu juga membentuk gerakan wanita Mandar bernama Pujingkai, salah satu tujuannya untuk membantu memelopori perjuangan menyambut proklamasi.

Lahirnya Kelaskaran Kris Muda Mandar

Usai jepang takluk dan proklamasi dikumandangkan, Ibu Agung H.A Depu memelopori berdirinya organisasi bernama Angkatan Pemuda Islam (API) sebagai wadah perjuangan. Karena kurang berjalan, organisasi itu berganti menjadi laskar bernama Kebaktian Rahasia Islam Muda Mandar (Kris Muda Mandar). Ibu Agung H.A Depu sendiri memimpin Kris Muda Mandar dengan pangkat Letnal Kolonel.

Baca juga :  Dewi Sartika, Pendiri Sekolah Perempuan Pertama di Indonesia

Tak membutuhkan waktu lama, anggota laskar yang terorganisir semakin banyak yang pada akhirnya meluas hampir ke seluruh wilayah Sulawesi. Oleh karena itu, tidak mengherankan usai Indonesia merdeka banyak veteran pejuang kemerdekaan di beberapa wilayah di Sulawesi.

Semoga kita dapat meneladani keberanian Ibu Agung H.A Depu, menjadi perempuan yang mandiri dan dapat berpartisipasi aktif dalam mengisi kemerdekaan.

Sumber:

Anwar Sewang. 2018. Ibu Agung H.A Depu Patriot Pembela Tanah Air. Malang: Wineka Media.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *