Idul Adha, Momentum Menyembelih Sifat Kebinatangan Manusia

Idul Adha atau yang dikenal dengan hari raya kurban adalah salah satu  hari raya umat Islam di dunia yang selalu dinantikan, baik yang sedang melaksanakan ibadah haji maupun yang tidak.

Istilah kurban sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu Qoroba-Yaqrabu-Qurban wa Qurbanan wa Qirbanan, yang dalam Kamus Bahasa Arab-Indonesia Al-Munawwir mempunyai makna dekat. Atau dalam Islam mempunyai arti mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan mengerjakan sebagian perintahnya.

Sedangkan kata kurban yang digunakan sehari-hari dalam istilah agama Islam disebut “Udhiyah” bentuk jamak dari “Dhahiyah” yang berasal dari kata “Dhaha”. Yang berarti sesembelihan di waktu Dhuha pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah.

Ibadah kurban adalah momentum untuk melakukan segala kebajikan yang bisa mengantarkan kita semakin dekat dengan Tuhan sebagai tujuan utama hidup ini. Dari makna tersebut, setidaknya terdapat beberapa pesan yang terkandung dalam ibadah kurban.

Pertama, ibadah kurban adalah simbol bahwa melakukan kurban mempunyai tujuan penting secara individual bagi setiap manusia. Yaitu berusaha membunuh sifat-sifat kebinatangan yang bersifat radikal, yang bersemayam dalam diri manusia seperti buas, rakus, ambisius, sewenang-wenang, dan sifat jelek lainnya.

Walaupun secara lahiriah kita disunnahkan memotong hewan kurban, namun yang jauh lebih substansial adalah sikap batin kita yakni nilai takwa dalam jiwa. Oleh karena itulah, Allah mengingatkan kita dalam surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya;

Baca juga :  Yang Tersisa dari Kurban Kita

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kedua, dengan berkurban setiap muslim sebenarnya dituntut untuk memiliki pandangan yang jauh ke depan yaitu menunjukkan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sementara dan melupakan kebahagiaan abadi.

Berkurban artinya adalah berlatih untuk tabah, sabar dan ikhlas menanggung segala beban berat dalam kehidupan, untuk memperoleh hasil dari segala perjuangan, jerih payah dan pengorbanan kita.

Ketiga, melalui ibadah kurban yang berawal dari kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as. Kita seharusnya belajar untuk rela mengorbankan apapun yang kita miliki, termasuk sesuatu yang paling kita cintai sekalipun.

Oleh karena itulah, untuk mencari ridha Allah swt. kita harus ikhlas  untuk mengorbankan kesenangan-kesenangan istimewa kita. Sebagaimana Nabi Ibrahim as yang mengorbankan putra yang dicintainya, untuk mencari ridha Allah swt. Karena pada hakikatnya, Allah swt  sedang memberi cobaan iman dan takwa.

Dengan kata lain, ibadah kurban adalah sedang mencari siapa Ismail kita?

Sebagaimana dijelaskan oleh Ali Syari’ati dalam bukunya Rahasia Haji; siapakah Ismail kita? Apakah Ismail kita itu berupa jabatan? Kehormatan atau profesi? Atau kekayaan dan kegemerlapan duniawi yang tengah kita miliki? Keluarga atau status sosial? Kemudaan, kecantikan, dan ketampanan? Atau popularitas dan ketenaran?

Jika kita sulit untuk mengetahui Ismail kita, maka kita perlu merenungkan setiap apa yang melemahkan iman kita, apapun yang mencegah kita untuk maju  di jalan-jalan spiritual, apapun yang mengalihkan kita dari menerima tanggung jawab,

….apapun yang menyebabkan kita menjadi mendengar pesan moral  dan mengakui kebenaran, atau apapun yang memaksa kita untuk melarikan diri dari sifat kearifan agama, apapun yang menyebabkan kita berdalih demi mencari kenyamanan hidup, dan apapun yang membuat kita tuli dan buta terhadap kebajikan, maka kita berada pada posisi Ibrahim yang cintanya kepada Ismail merupakan titik kelemahannya.

Baca juga :  Etiologi Idul Adha dan Akar Kekerasan Atas Nama Allah

Di sinilah ketika segala yang kita cintai bertentangan dengan ridha Allah swt., kita mesti melepaskan segalanya dengan pasrah. Seperti Ibrahim as. yang tertunduk membisu, patuh, dan hening di hadapan keagungan perintah Allah swt untuk menyembelih putra kesayangannya.

Kurban adalah kita sanggup menunda segala bentuk kesenangan kecil dan sesaat demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan kekal. Pengorbaan adalah kemampuan untuk mengorbankan sesuatu yang agung hari ini demi memperoleh sesuatu yang jauh lebih agung di esok hari.

Oleh karena itulah, ketika berjumpa dengan Idul Adha hendaknya menumbuhkan semangat berkurban dengan meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim as. dengan rela menyerahkan putra tercintanya yaitu Ismail as untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, dengan mendahulukan ridha Allah swt. atas segala kesenangan kita.

Dengan berkurban, kita melatih diri untuk menahan mengejek, rakus dan lain sebagainya. Ibadah kurban adalah bagian dari upaya untuk menyembelih nafsu-nafsu hewani yang ada dalam diri manusia, supaya nafsu insani menjadi lebih dominan. Karena nafsu insani lebih banyak mengandung nilai-nilai akhlak dan akan menjadi perekat manusia dalam menjalani kehidupannya agar lebih baik.

Ketika kita sedang diperintahkan untuk menyembelih binatang dalam berkurban, maka hakikatnya adalah kita sedang menyembelih nafsu-nafsu hewaniah yang bersemayam dalam diri kita.

Dengan menyembelih inilah, segala kotoran jiwa dan nafsu mementingkan diri sendiri tidak akan ada dalam diri kita.  Dengan jiwa yang bersih, maka akan lahir pribadi-pribadi yang bijak dan toleran. Sehingga kehidupan umat manusia menjadi lebih damai dan tentram.

Baca juga :  Berpuisi (di) Tanah Suci

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *