Idul Fitri, Solidaritas, dan Spirit Humanisme

Idul Fitri, Solidaritas, dan Spirit Humanisme

Tepat pada tanggal 24 Mei 2020, umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia pada umumnya akan melaksanakan ritus perayaan Idul Fitri. Tetapi, di Indonesia sendiri momentum perayaan salat Idul Fitri sendiri tidak akan dilaksanakan seperti biasanya, bisa jadi akan dilakukan secara virtual ataupun dilakukan di rumah masing-masing.

Tiga ormas besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan MUI sejak jauh-jauh hari telah menghimbau kepada masyarakat muslim untuk tidak menyelenggarakan ibadah salat Ied secara berjamaah untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Hal ini ditengarai akibat kondisi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19 ini. Masyarakat kita seharusnya bersolidaritas untuk bersama-sama mereduksi korban positif Covid-19 dengan mengintensifkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sesuai aturan protokol kesehatan. Tetapi, ternyata PSBB tidak sepenuhnya diterapkan di berbagai wilayah zona merah, hal ini bisa dilihat dengan masih masifnya mobilitas masyarakat.

Menjelang Idul Fitri ini ternyata masih banyak masyarakat yang keluar pergi ke pusat perebelanjaan beramai-ramai tanpa mengikuti protokol kesehatan, salah satunya yang terjadi di kota Jember, Solo Purwokerto dan daerah lainnya sebagaimana yang dilansir oleh Detik News. Hal ini sejatinya akan menambah kerunyaman kondisi sosial yang sudah cukup kondusif sebelumnya.

Akselerasi Kebutuhan

Saat ini masyarakat perlu membantu meminimalisir kriminalitas yang sering terjadi beberapa pekan ini sebab desakan kebutuhan ekonomi. Salah satunya dengan cara mengakselerasi kebutuhan pokok masyarakat lain di sekitarnya.

Baca juga :  Tak Usah Berdebat Parsel atau Hampers, Tradisi Berbagi Sudah Ada Sejak Dulu

Sebelum pelaksanaan Ied, biasanya masyarakat terlebih dahulu menunaikan zakat fitrah. Kita dianjurkan untuk segera menunaikan zakat agar mampu meringankan beban orang lain di sekitar.

Karena meningkatnya angka kriminalitas seperti perampokan, pembegalan dan lain sebagainya sebagian disebabkan masih minimnya distribusi pangan dan faktor himpitan ekonomi, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Uluran tangan untuk membantu masyarakat yang mengalami krisis ekonomi bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama.

Oleh sebab itu, Idul Fitri menjadi momentum untuk kita meraih kemenangan dalam mengalahkan egoisme, mengedepankan nilai kemanusiaan dan menguatkan solidaritas. Bagi umat muslim yang berpuasa, harus menjadikan ibadahnya sebagai laku gerak untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jangan sampai ada anggota masyarakat di sekitarnya yang kelaparan karena tidak bisa berbuka dan sahur.

Di tengah kondisi “Pagebluk” ini, masyarakat semakin terpuruk karena ketidakjelasan situasi dan bantuan dari pemerintah. Maka dari itu, kita perlu merefleksikan Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Fitri sebagai momentum untuk merekonstruksi sendi-sendi ekonomi dan sosial masyarakat yang sudah mulai rapuh diterjang pandemi.

Jelas, bahwa pandemi ini menjadi pukulan bagi semua sektor, kita semua merasakan sakitnya. Himpitan ekonomi bagi pekerja sektor swasta yang tidak bisa sepenuhnya bekerja, dan jumlah korban positif yang kian hari semakin meningkat karena mobilitas manusia yang masih cukup signifikan, ditambah pula dengan angka penurunan korban positif Covid-19 yang masih sangat kecil.

Baca juga :  Problematika Mudik Kaum Urban di Tahun 1998

Di sisa terakhir bulan Ramadan ini kita harus menguatkan sendi-sendi spiritualitas dan kemanusiaan sekaligus. Karena berpuasa bukan hanya ritual pribadi, tetapi ritual keagamaan bersama umat muslim di seluruh dunia. Puasa itu Ibadah, maka dari itu kita harus memaksimalkan segala potensi yang ada untuk menguatkan kemanusiaan.

Menjadi Insan Humanis-Transendental

Sejatinya setiap gerak kehidupan seorang muslim adalah identik dengan ibadah. Karena segala aktivitas di bulan Ramadan merupakan “ibadah”, bahkan tidur pun dinilai ibadah. Tetapi aktivisme ibadah ini tidak hanya bersifat ritual-agamis. Tetapi, bagaimana ibadah Ramadan mampu mewujudkan spirit humanis transendental-ilahiah.

Menurut Faisal Ismail (2019), kepekaan spiritualitas, kepekaan sosial dan penguatan moralitas muslim perlu direvitalisasi, didinamisasi, dan dicerahkan (kembali) dalam konstruk totalitas keberimanan dan keberagamaan yang intens. Puasa Ramadan merupakan salah satu ajaran pokok Islam yang dapat mengasah, mempertajam, dan memperkuat nilai-nilai ketuhanan serta nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks ini meminjam bahasa Ibnu Khaldun bahwa kita harus menguatkan Shabiyah (solidaritas kelompok), sebagai masyarakat social, kita harus memiliki kepekaan terhadap kelompok masyarakat di sekitar.

Janganlah kita mengedepankan sikap individualistik dalam berkehidupan sosial, karena disituasi seperti ini justru akan menyebabkan terjadinya ketimpangan apabila tidak mengedepankan kepentingan bersama.

Momentum Kebangkitan Nasional yang dirayakan tiap tanggal 20 Mei menjadi spirit penting untuk penguatan identitas bersama, bahwa melawan pandemi merupakan tugas kita semuanya. Bangsa Indonesia harus bangkit dari keterpurukan. Kedisiplinan dalam mematuhi protokol kesehatan menjadi sarana yang sangat penting kedepannya, hal ini dalam rangka spirit kemenangan dalam memerangi pandemi.

Baca juga :  Corona, Ujian Solidaritas Kemanusiaan Kita

Dengan dua momentum besar ini, kita harus menguatkan basis masyarakat sipil dan aktualisasi kesalehan sosial untuk bersama-sama memerangi pandemi ini. Karena tanpa ada kerjasama yang baik, dari pemerintah, tim medis dan masyarakat, mustahil virus ini bisa dihilangkan secara perlahan.

Akhirnya, Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, Semoga badai Pandemi ini segera berlalu. Dan kita bisa menjadi insan yang fitri serta humanis.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *