Ilham

Setelah enam hari kerja, libur sehari adalah waktu merayakan kesukaannya: membaca buku. Pagi ini ia baru saja sampai pada awal sebuah cerita pendek mengisahkan seorang pengarang kehabisan ide menulis saat, dari halaman rumahnya, terdengar riuh suara bocah-bocah bermain. Mereka adalah anak dari saudaranya yang berumah di sebelah rumahnya. Sekonyong-konyong timbul dorongan yang cukup kuat dalam benaknya untuk menghampiri mereka—entah untuk apa. Hanya saja dorongan ini ia abaikan demi keasyikan melanjutkan membaca.

Namun kemudian, baru beberapa paragraf terbaca, sekonyong-konyong dorongan itu kembali menimpuknya. Untuk beberapa saat ia berpikir: memang amatlah menyenangkan bermain dengan mereka yang baru berumur sekira dua dan tiga tahun itu—sebagaimana acap ia lakukan sebelum berangkat atau setelah pulang dari tempat kerja. Bahkan hanya berdekatan dengan mereka, ia acap kecipratan keceriaan mereka. Akan tetapi, bukankah itu dapat ia lakukan nanti atau setidaknya seusai rampung membaca satu cerita? Demikian cara benaknya menepis dorongan tersebut untuk kemudian melanjutkan membaca.

Namun kemudian, baru beberapa kalimat terbaca, sekonyong-konyong dorongan itu kembali menimpuknya. Aneh, pikirnya kemudian, kali ini ia luluh mengikuti dorongan tersebut. Tidak ada lagi perlawanan dalam benaknya—sebagaimana tadi—dengan acara memikirkan alasannya. Maka ia berjalan keluar dari kamarnya, menghampiri mereka yang tampak kemudian sedang bermain sepeda, sementara ibu mereka menjemur pakaian di halaman.

Kemudian ia memperhatikan: sementara si kakak mengayuh sepeda kecil yang ditopang sepasang roda kecil di kanan-kiri roda belakang dengan lincahnya memutari halaman, si adik tampak kesal berulang kali menabrakkan sepedanya pada tembok rumahnya. Boleh jadi karena si adik belum tahu apa yang terjadi padanya, ia mendekatinya sembari menyuruhnya untuk turun lebih dahulu untuk kemudian memundurkan sepedanya, membelokkan atau berbalik arah. Kemudian, karena bocah itu mengabaikan arahannya, ia pun membantunya membalikkan sepeda itu.

Untuk beberapa saat ia hanya berdiri memperhatikan mereka. Kemudian, karena si adik tampak belum terampil mengayuh sepeda, ia berjalan mengikutinya. Saat si adik berhenti ia pun berhenti, berdiri atau jongkok di sekitarnya. Hingga saat si adik bakal melanjutkan mengontel, salah satu roda penopangnya berada di permukaan tanah agak tinggi, menjadikan—sejurus kemudian—sepedanya oleng. Namun, alhamdulillah, seketika itu ia menyambar—berhasil merengkuhnya. Kemudian, sembari menyerahkan si bocah yang hampir menangis itu pada ibunya yang telah selesai dari pekerjaannya, secercah kebahagiaan menyergap hatinya. Kebahagiaan yang mula-mula ia duga timbul karena telah menyelamatkan keponakannya itu.

Setelah kembali ke kamarnya dan rampung membaca cerita pendek tersebut, ia menyimpulkan bahwa: memang kejadian tadi membuatnya bahagia; ia pun bersyukur kepada Gusti Allah Ta’ala yang telah memberi kesempatan padanya terlibat dalam kejadian tersebut. Lain daripada itu, kebahagiannya juga timbul karena kekaguman pada cara Gusti Allah Ta’ala mengatur, yang menurutnya bermula dari dorongan dalam benaknya untuk menghampiri mereka. Sedangkan waktu itu ia tidak tahu untuk apa menghampiri mereka.

Berbeda dengan nasib pengarang dalam cerita tersebut yang, menurut penulisnya, kehabisan ide bukan karena tidak adanya ide dalam kepalanya untuk menulis, melainkan karena ia acap mengabaikan—menunda-nunda—lintasan-lintasan ide dalam benaknya untuk segera dituliskan menjadi cerita. Hingga lama-lama lintasan-lintasan itu pun enggan menghinggapinya.

 

Doplangkarta, 5 Maret 2021

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *