Ilmu Barokah dalam Keyakinan Seorang Santri

ilmu barokah

Selama ini santri di pondok pesantren tentu sudah terlalu akrab dengan istilah barokah. Acapkali para guru dan kiai menasihati para santrinya untuk berusaha dan berdoa supaya memperoleh ilmu yang barokah. Kendati demikian, sejujurnya saya belum begitu memafhumi tentang hakikat barokah.

Apalagi, ada satu dua pihak yang mencontohkan sosok santri yang ilmunya barokah dengan sebuah kemapanan secara materiil dan karir yang cemerlang kelak selepas mondok. Alih-alih tercerahkan, justru itu membuat saya semakin kabur melihat esensi barokah.

Sampai ada yang berkelakar, kalau sebetulnya barokah itu ibarat kentut. Maksudnya, antara barokah dan kentut sama-sama hanya dapat dirasa tanpa bisa diraba dan dilihat. Saya pikir ada benarnya, sekalipun tidak setuju jika sakralitas barokah ditamsilkan demikian.

Toh, masih ada tamsilan lain selain kentut yang juga bercirikan hanya dapat teridentifikasi ada, tetapi intangible (tidak berwujud). Dari itu kemudian saya coba melakukan penelusuran prasaja sebagai upaya reflektif di momentum Hari Santri tahun ini.

Barokah dalam Kamus Bahasa dan Alquran

Secara leksikal, istilah barokah berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti al-nama’ wa al-ziyadah (tumbuh dan bertambah). Lantas, Ibnu Abbas memaknai barokah secara lebih spesifik sebagai al-katsrah fi kulli khair (perkembangan dan pertambahan dalam tiap-tiap kebaikan). Keterangan ini dapat dilihat pada kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur al-Ifriqi.

Sementara itu, barokah dalam KBBI sepadan dengan berkah atau berkat yang berarti “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Sampai di sini, tampaknya pengertian barokah memang bertautan dengan hal ahwal yang baik dan sakral.

Lebih lanjut, di dalam Alquran terdapat sejumlah ayat yang menggunakan istilah barokah. Sekurang-kurangnya saya menemukan penyebutannya di 19 tempat dengan bentuk kata yang berbeda-beda. Dalam surah Al-An’am ayat 92 dan 155, Al-Anbiya’ ayat 50, dan Shad ayat 29, Alquran menggunakan kata mubaarakun (yang diberkahi).

Kemudian, dengan kata yang sama tetapi berbeda i’rab atau ikrab (dalam ilmu linguistik Arab dipahami sebagai suatu perubahan bentuk kata berkenaan dengan perbedaan posisi, waktu, persona, dan jumlah dalam kalimat), yaitu dengan kata mubarakan yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 96, Maryam ayat 31, Al-Mu’minun ayat 29, dan Qaf ayat 9.

Seterusnya di surah Al-A’raf ayat 54, Al-Mu’minun ayat 14, Al-Furqan ayat 1, 10, dan 61, Ghafir ayat 64, Az-Zukhruf ayat 85, Ar-Rahman ayat 78, dan di surah Al-Mulk ayat 1, yang seluruhnya memakai ungkapan tabaaraka. Terakhir, pada surah Al-A’raf ayat 96 dan surah Fussilat ayat 10, yang masing-masing menyebutkan kata barakaat dan kalimat baaraka.

Esensi Barokah

Dalam konteks ini setidaknya ada dua penjelasan ayat yang berkenaan tentang esensi barokah.

Pertama, esensi barokah dalam redaksi mubarak pada ayat 96 dari surah Ali Imran:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghaib atau yang masyhur disebut al-Tafsir al-Kabir, menguraikan beberapa makna barokah dalam ayat tersebut. Antara lain, al-numuww wa al-tazayyud (berkembang dan bertambah). Ini artinya bahwa barokah Ka’bah berupa ganjaran pahala yang berlipat ganda bagi setiap yang beribadah di sana, seperti ibadah haji, salat, dan lain-lain.

Selain itu, al-baqa’ wa al-dawam (kekal dan langgeng selamanya). Jelasnya, penyifatan barokah pada Ka’bah maksudnya bahwa Ka’bah tidak akan pernah kosong dari orang-orang yang tawaf dan beriktikaf di sana, serta segenap umat Islam yang senantiasa melaksanakan salat maktubah dengan berkiblatkan Ka’bah.

Kedua, makna redaksi barakat pada ayat 96 dari surah Al-A’raf:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Berdasarkan ayat ini teranglah prasyarat memperoleh barokah adalah harus beriman dan bertakwa. Hal yang disebut pertama mengarah kepada keimanan terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, dan hari kiamat. Sedangkan yang dimaksud dengan bertakwa ialah menjauhkan diri dari yang dilarang dan diharamkan oleh Allah swt.

Sementara itu, Allah menganugerahkan barokah bisa saja dengan menurunkannya dari langit dan atau memunculkannya dari bumi. Hujan (yang membawa rahmat) menjadi salah satu contoh barokah yang diturunkan dari langit.

Adapun contoh barokah yang dihadirkan dari bumi, seperti tetumbuhan dan aneka buah-buahan (yang nikmat dan bermanfaat). Begitu tafsiran Imam Fakhruddin al-Razi mengenai ayat yang kedua ini.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa esensi barokah terdiri atas yang bersifat ukhrawi yang diperoleh kelak di akhirat semisal pahala. Lalu barokah yang sifatnya duniawi yang langsung dapat dinikmati atau dirasakan di dunia saat ini.

Kesimpulan ini sesuai dengan pernyataan Syekh Ibnu Daqiq al-’Id di dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, ketika mengomentari barokah pada hadis berikut:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian, karena di dalamnya terdapat barokah. (HR. Imam Bukhari).

Syekh Ibnu Daqiq al-’Id menegaskan barokah yang dimaksud oleh hadis tersebut meliputi aspek ukhrawi dan duniawi. Bahwa melakukan kesunahan sahur berkonsekuensi mendapat tambahan pahala, maka itulah aspek ukhrawinya. Sementara aspek duniawinya, bahwa sahur menguatkan tubuh sehingga dapat menjalani puasa dengan fit.

Ilmu yang Barokah Itu Ilmu yang Bagaimana?

Walhasil, ilmu yang barokah merupakan ilmu yang langgeng serta terus bertumbuh, berkembang, dan bertambah kebaikannya. Bukan sebaliknya, stagnan, terabaikan, dan mendatangkan keburukan.

Ditambah, keberkahan ilmu hanya akan diraih oleh mereka yang beriman dan bertakwa. Secara spesifik, almarhum KHR As’ad Syamsul Arifin mengungkapkan tiga indikasi santri yang memiliki ilmu barokah, yakni gerak hatinya baik, takzim sama kitab, dan tidak melupakan guru-gurunya. Ya, semoga para santri terutama saya termasuk santri yang demikian.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *