Inggit Garnasih, Sang Per(empu)an Sukarno

Inggit Garnasih

Inggit Ganarsih lahir 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sukarno berterus terang, “Dia adalah ilhamku. Dia adalah pendorongku…Dengan Inggit berada di sampingku, aku melangkah maju memenuhi perjanjianku dengan sang nasib,” ucap Sukarno (Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Edisi Revisi, 2007,  hlm. 118).

Ya, Inggit adalah pendamping hidup bagi seorang pejuang politik yang hendak menjadi kupu-kupu, bukan sekadar kepompong. Sukarno-Inggit menikah pada 24 Maret 1923. Solichin Salam dalam Bung Karno Putera Fajar menuliskan bahwa Inggit adalah perpaduan seorang ‘kamerad’ teman seperjuangan, seorang “geliefde” yang setia, dan seorang “moeder”. Inggit pemercik api semangat dan daya juang Sukarno.

Penulis biografi Sukarno dari luar negeri pun mengapresiasi peran Inggit. John Ledge dalam Sukarno Biografi Politik (1972) menuliskan bahwa pada era 1920-an itulah Sukarno tampil percaya diri dengan pendampingan Inggit. Inggit mendukung Sukarno secara emosional. Rekan-rekan Sukarno pun mengakui dukungan Inggit sangat penting bagi Sukarno.

Inggit bukan perempuan biasa. Kata perempuan berasal dari kata “empu” yang artinya orang yang menempa dan membentuk. Inggit adalah empu yang menempa dan membentuk Sukarno. Ia mengawal Sukarno agar tak alpa menamatkan studinya di Technische Hooge School (THS) Bandung dan tak mundur sejenak pun meraih kemerdekaan bangsa.

Tak berlebihan jika Tito Zani Asmara Hadi (2011) menyamakan Inggit dengan Maria Theresa, istri Rousseau, atau Kasturbay, istri Mahatma Gandhi. Mereka tak menyumbangan pikiran atau teori untuk revolusi Perancis, revolusi India, dan revolusi Indonesia, tetapi dengan menunjukkan kasih sayang dan kesetiaan kepada suami yang mengalami cobaan dan derita dalam perjuangan.

Baca juga :  Maria Walanda Maramis, Pejuang Hak Perempuan Minahasa

Sukarno dan Inggit memiliki dua anak angkat. Pertama, Ratna Djuami, akrab disapa Omi. Kedua, Kartika, diangkat sebagai anak ketika Sukarno menjalani pengasingan di Ende, Flores. Setelah berumah tangga dengan Sukarno, Inggit berpindah-pindah rumah sampai pada tahun 1926 menetap di Jalan Astanaanyar di Ciateul (kini Jalan Inggit Ganarsih No. 8).

Selain memastikan asap dapur mengepul, Inggit tak bosan mendengarkan ide dan keluh kesah Sukarno. Rumah Inggit riuh disambangi kawan-kawan pergerakan. Belajar dan diskusi menjadi menu sehari-hari. Sukarno pun berorasi dari mimbar ke mimbar.

Kesibukan Sukarno, kesibukan Inggit. “Inggit selalu menjadi jimat keberuntunganku. Ke mana saja aku pergi, dia selalu ikut. Saat aku ditangkap itu, Inggit untuk pertama kalinya tidak menemaniku,” ujar Sukarno (Cindy Adams, ibid., hlm. 118). Sukarno ditangkap di Yogyakarta setelah mengisi rapat umum Partai Nasional Indonesia (PNI) di Solo. Inggit berjerih payah agar Sukarno tak mati kutu di penjara.

Kita menyingkat kisah setelah 8 bulan Sukarno mendekam di Banceuy. Sukarno siap dibawa ke pengadilan. Dalam pidato pembelaannya Indonesia Menggugat, peran Inggit tak bisa dinafikan. “Aku memperoleh kertas dari rumah. Tinta dari rumah. Sebuah kamus dari perpustakaan penjara…,” kata Sukarno (Cindy Adams, ibid., hlm. 124).

Betapa Inggit harus main kucing-kucingan dengan polisi Belanda. Sukarno boleh berbangga betapa megahnya pidatonya di pengadilan Landraad, Bandung. Namun, tanpa Inggit, otaknya beku. Lambert Giebels dalam Sukarno Biografi 1901-1950 (2001) percaya Inggit mengantar buku-buku yang memudahkan Sukarno mengutip sejumlah penulis terkenal.

Hasil persidangan memenjarakan Sukarno di Sukamiskin selama 4 tahun (dipotong 2 tahun). Sukarno hanya tahu Inggit sering mengunjunginya. Tahukah Sukarno betapa jauhnya jarak dari rumah ke Sukamiskin? Inggit kerap kekurangan uang. Saat semponyongan berjalan kaki pun, Inggit tak kuasa naik delman.

Baca juga :  Perempuan dan Narkoba

Inggit menemani Sukarno saat diasingkan ke Ende, Flores, sampai akhirnya Sukarno terserang malaria Berita ini sampai ke Jakarta dan diputuskan bahwa Sukarno dipindahkan ke Bengkulu. Bagi Inggit, mendampingi Sukarno adalah kewajiban.

Namun, malaria sepertinya membuat takdir berbeda. Bagi Inggit, Bengkulu adalah awal sebuah cinta tak lagi setia (Lihat, Cindy Adams, ibid., hlm. 170-171). Sebelum mereka benar-benar bercerai pada Jumat, 29 Januari 1943, kita akan mengenang episode kisah Inggit ketika Jepang siap memasuki Bengkulu.

Awal tahun 1942, Belanda terpojok dengan serbuan Jepang. Palembang terkepung. Sebelum memasuki Bengkulu, Sukarno dibawa paksa menuju pelabuhan Padang untuk kemudian ke Australia. Malam hari, Sukarno, Inggit, Kartika, dan Riwu dinaikkan ke mobil pick-up. Saat itu Jepang telah sampai Lubuklinggau, daerah antara Palembang dan Bengkulu.

Polisi Belanda bersiasat agar tak terkejar Jepang. Mobil melaju ke arah Muko-Muko, sekitar 240 kilometer dari Bengkulu. Sesampai di Muko-Muko hanya bermalam sehari. Pukul 03.00 dini hari, mereka melanjutkan perjalanan. “Berjalan kaki sampai ke Padang?” Inggit kaget. “Sejauh tiga ratus kilometer?” tanya Inggit lagi.

Sukarno dan Inggit kerap melintasi hutan lebat. Kartika yang saat itu masih 8 tahun tampak takut melihat binatang melata dan binatang buas. Makanan pun tak memenuhi selera. Inggit kerap makan berdiri. “Aku terlalu lelah,” ucap Inggit sambil bersandar pada tebing tanah yang tinggi, “Bila aku duduk, aku tidak sanggup lagi berdiri.”(Cindy Adams, ibid., hlm. 179-184).

Baca juga :  Kontroversi Kepemimpinan Perempuan Konteks Kekinian (1)

Ternyata kondisi Padang chaos. Belanda panik dan meninggalkan Sukarno. Jepang yang akhirnya menduduki Padang membawa Sukarno ke Jakarta. Apa pilihan Inggit antara dibawa Belanda ke Australia dan dibawa Jepang ke Jakarta? Ia hanya ingin memilih Sukarno. Ia masih kuat menjadi (per)empu(an) Sukarno.

Pertemuan terakhir Sukarno-Inggit terjadi pada tahun 1960. Di tengah kondisi sakit, Inggit berpelukan dan menatap wajah Sukarno. Sukarno memohon maaf. Pada 21 Juni 1970, Sukarno meninggal dunia. Perjalanan dari Bandung ditempuh Inggit demi menatap wajah tautan hatinya sebelum disemayamkan.

Rumah Inggit di Bandung kedatangan banyak orang berbelasungkawa. Seorang wartawan bertanya, “Apa yang Ibu terima dari harta pusaka peninggalan Bapak?”

“Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat, dan untuk keturunan bangsa kita,” jawab Inggit.

Wartawan itu bertanya lagi, “Yang saya maksudkan harta pusaka untuk Ibu pribadi?”

Inggit menjawab, “Kenangan yang tak terlupakan, yang Ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani Ibu masuk ke dalam kubur.” (Reni Nuryanti, 2007).

Inggit, yang nyaris menjadi ibu negara ini, tutup usia pada 13 April 1984. Wallahu a’lam.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *