Ini Budaya dan Metode Masyarakat Maroko dalam Menghafal Alquran

Alquran adalah kitab suci umat Islam yang Allah turunkan 15 abad yang lalu. Kitab suci ini mempunyai kedudukan yang tinggi disisi-Nya dan di sisi umat Islam. Sesuai dengan kedudukannya sebagai kitab suci, Alquran mendapatkan apresiasi yang besar dari umat dan Alquran begitu membudaya dalam kehidupan umat Islam. Alquran selalu dibaca oleh setiap muslim dalam setiap salat.

Begitu juga bacaan Alquran menjadi bagian dari tradisi dan budaya keagamaan, seperti untuk membuka suatu upacara, berbagai perantara permohonan berkah serta menjadi materi lomba (musabaqah) di berbagai kesempatan. Semua aspek dari Alquran telah dikaji dan dikembangkan, baik dari segi teks, bacaan, tulisan, i’jaz maupun kandungannya yang mencakup berbagai bidang keilmuan.

Salah satu bentuk apresiasi besar kecintaan umat terhadap Alquran adalah dengan dijaga dan dihafal dari generasi ke generasi. Menghafal Alquran pun membudaya dan mentradisi di dalam kehidupan ummat islam. Akhirnya budaya dan metode dalam menghafal Alquran bermunculan secara beragam. Salah satu yang menarik adalah budaya dan metode masyarakat Maroko dalam menghafal Alquran.

Maroko yang terkenal sebagai Negeri Seribu Benteng, dari rahimnya telah melahirkan banyak ulama-ulama besar Islam dan waliyullah. Beberapa ulama Maroko yang terkenal di Nusantara diantaranya seperti Syeikh Hasan Asy-Syazili, Maulana Sidi Abdissalam ibn Masyisy, Ibnu Ajrum, Qhadi Iyad, Ibnu Bathuhah, Sidi Muhammad ibn Sulaiman atau yang terkenal dengan Syeikh Al-Jazuli, dan masih banyak lagi.

Di Maroko, hafal Alquran menjadi standarisasi seorang anak sebelum masuk ke lembaga pendidikan formal, terutama pendidikan formal agama, seperti lembaga Ta’lim Atiq. Beberapa tahun yang lalu di Maroko, seorang anak tidak akan disekolahkan oleh orang tuanya ke pendidikan formal sebelum ia selesai hafalan Alquran. Beberapa teman-teman saya yang orang Maroko pun masih merasakan budaya ini. Bahkan untuk beberapa lembaga Ta’lim Atiq, masih menjadikan salah satu syarat masuk lembaga adalah minimal hafal Alquran 60 hizb atau 30 juz.

Baca juga :  Fatimah Al-Fihri, Muslimah Pertama yang Mendirikan Universitas Tertua di Dunia

Orang yang hafal Alquran di Maroko pun tak menentu, tak mengenal kalangan akademisi atau bukan. Bukanlah suatu yang mengherankan jika guru-guru di madrasah atau universitas hafal Alquran, tapi jika pedangan atau bahkan supir hafal al-Qur’an, itu baru sebuah keistimewaan yang luar biasa. Hal ini terbukti bahwa kami selaku pelajar asing di negeri ini sering ditanya oleh pelayan toko atau warung, “anta thalib? Kam hafizta minal qur’an?” (kamu pelajar? Berapa jumlah hafalan Alquranmu?)

Jika hanya ditanya mungkin wajar, ia ingin sebatas tahu. Jika sampai dites hafalan? Sepertinya sedikit nyentrik, ya. Dan ini adalah pengalaman yang terjadi dengan saya dan sahabat saya ketika naik sebuah taksi, sang supir bertanya “anta thalib? Min ayi balaad?Kam hafizta minal qur’an?”. Teman saya yang hafalannya telah selesai 30 juz pun tanpa basa basi segera dites sembari dalam perjalanan ke tempat tujuan. Dan kejadian ini tidak hanya sekali dua kali, tapi sering. Jadi wajar ada salah satu teman maroko saya sampai bercerita bahwa “Dulu, jika berkumpul sepuluh orang Maroko dalam satu majelis, bisa dipastikan tujuh diantara mereka hafal Alquran.” Begitulah budaya hafal Alquran masyarakat di Maroko.  

 

Masyarakat Maroko mempunyai metode yang khas dalam menghafal Alquran sejak berabad-abad lalu. Di Maroko tempat khusus menghafal Alquran atau rumah Alquran disebut Kuttab. Mereka menghafal menggunakan papan yang disebut lauh, sebuah kata yang diungkapkan oleh Alquran di akhir surat Al-Buruj,  “fi Lauhin Mahfudz”. Lauh terbuat dari papan kayu berbentuk persegi panjang, biasanya berasal dari pohon zaitun. Tebalnya rata-rata 1.5 centimeter.

Baca juga :  Kamu Termasuk Jomblo Happy Jika Memiliki 5 Poin Ini

Metode dalam menggunakan lauh sebagai alat hafalan ini adalah dengan ditulis. Pertama papan lauh akan dilabur dengan batu kapur (senshal). Kemudian ditulis dengan pena yang terbuat dari bambu yang ujungnya dibentuk untuk bisa menulis, orang maroko biasa menyebutnya Hibr.

Guru setoran hafalan biasa disebut faqih. Sebelum memulai hafalan Alquran, murid-murid terlebih dahulu menyetorkan bacaan halaman Alquran yang mau disetorkan, dan sang Faqih membetulkan bacaan yang salah atau kurang tepat. Setelah menyetorkan bacaan, barulah sang murid mulai menuliskan hafalan Alqurannya di atas lauh. Jumlah hafalan yang ditulis dan disetorkan menyesuaikan kemampuan sang murid. Biasanya satu lauh berisi 2 pojok atau 2 halaman Alquran cetakan saudi.

Penulisan ayat-ayat harus sesuai dengan Rasm Usmaniy. Selain itu gaya tulisan dengan khat al-Maghribiy. Gaya tulisan ini menjadi ciri khas Maroko yang mereka pakai dalam menulis, bukan hanya untuk tulisan diatas lauh, lembar pengumuman yang suka tertempel di mading umum juga menggunakan khat ini. Untuk Qiraah yang dipakai oleh negri matahari terbenam ini adalah Qiraah Warsy ‘an Nafi’, bacaan yang menjadi qiraah resmi kerajaan Maroko.

Kemudian, setelah sang murid menuliskan diatas lauh, ia memeriksa tulisannya sendiri sebelum dikoreksi oleh sang guru. Setelah dikoreksi oleh guru sekaligus memberi waqaf (tempat berhenti bacaan), sang murid disuruh membaca tulisannya di papan di samping guru, setelah dikoreksi dan dianggap benar secara tulisan dan bacaan oleh guru barulah murid boleh menghafal Alquran yang ada di papan lauh itu.

Baca juga :  Islam dan Falsafah Jawa; Titik Temu Spirit Kehidupan

Menghafal pun dimulai. Tulisan diatas lauh tersebut dibaca secara berulang-ulang sampai hafal, setelah hafal, disetorkan kepada sang faqih. Lalu tulisan diatas lauh dihapus dengan air, melapisinya kembali dengan shensal dan berlanjut lagi ke hafalan/halaman selanjutnya. Begitu seterusnya. Selama menunggu lauh nya kering, sang murid wajib mengulang hafalan yang telah ia setorkan, minimal lima hizb atau dua setengah juz.

Begitulah metode dan budaya masyarakat maroko dalam menghafal Alquran. Walau secara garis besar cara menghapalnya sama, yaitu dengan mengulang-ulang, tapi hikmah yang bisa dipetik dalam metode menghafal dengan lauh ini adalah lebih banyak organ tubuh yang berperan dan merekam hafalan kita. Ketika membaca saja, mulut dan otak yang merekam.

Akan tetapi dengan menulis, tangan, otak, serta hati berkerjasama merekam dan membaca apa yang dihafalkan. Juga dengan metode ini, lebih melatih konsentrasi dan ketelitian dalam membaca juga menulis. Bisa dibilang, ini adalah cara yang paling efektif, setidaknya bagi orang maroko dalam menghafal Alquran.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.