Ini Kiat Sukses KH Abdullah Salam Membangun Pendidikan Keluarga

Judul Buku:  Keteladanan KH Abdullah Zain Salam: Kiat Sukses Membangun Pendidikan Keluarga

Pengarang: DR Jamal Ma’mur Asmani, MA

Penerbit: CV Global Press

Tahun: Desember 2018

Tebal: 224 Halaman+XXXII

Problematika pendidikan di era modern sekarang ini semakin kompleks. Pendidikan dihadapkan pada berbagai problem yang panjang dan saling terkait. Di antara sekian problem pendidikan adalah dekadensi moral pelajar. Siswa/i terperangkap pada pergaulan bebas, free sexs, mengkonsumsi narkoba dan lain sebagainya.

Realitas ini tentu sangat memilukan hati, dan menjadi tanggung jawab kita untuk beranjak dan memulai membenai pendidikan di mulai dari keluarga kita sendiri. Karena anak-anak kita adalah kader-kader bangsa yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan masa depan.

Sejatinya pendidikan adalah proses menuju pematangan hidup supaya manusia memahami arti dan hakikat hidup, tujuan hidup, dan bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Dalam konteks ini, Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan sebagai upaya memajukan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak sesuai dengan alam dan masyarakatnya.

Dekadensi moral yang demikian akut yang menjangkiti generasi muda dewasa ini perlu menjadikan perhatian bersama bagi para orangtua murid, guru, dan stakeholder pendidikan yang lain.

Teladan Pendidikan dalam Keluarga dari Sang Kiai

KH Abdullah Zain Salam adalah salah satu kiai-waliyullah yang termasuk cagak kepulauan Jawa.  Beliau lahir di Kajen Margoyoso Pati pada tahun 1910 sampai 1925, dari keluarga ulama terpandang, KH Abdussalam bin Abdullah bin Ismail bin Bunyamin bin Muhammd Hendro bin KH Ahmad Mutamakkin. Salah satu Waliyullah paling masyhur dan maqbarahnya diziarahi di Pati. Gus Dur, sehari setelah ditetapkan menjadi Presiden RI Ke-4, berziarah ke makam Syaikh Ahmad Mutamakkin.

Baca juga :  Mencari Nafkah Karena Allah

Apa rahasia kesuksesan KH Abdullah Zain Salam dalam pendidikan keluarga? KH Abdullah Salam mendidik dengan serius anak-anaknya. Beliau memegang kendali pendidikan anak-anaknya supaya mereka berada dalam jalan yang benar dalam menuntut ilmu agar kelak mampu meneruskan perjuangan para pendahulunya.

Sebagai tokoh masyarakat dan pengasuh pesantren, KH Abdullah Zain Salam mempunyai kewajiban mempersiapkan generasi penerus, khususnya dari anak-anaknya, yang mampu meneruskan perjuangan pesantren yang merupakan tinggalan leluhurnya.

Beberapa pemikiran dan praktik pendidikan KH Abdullah Zain Salam yang bisa diimitasi dalam kehidupan saat ini adalah:

Pertama, Rajin sedekah untuk anak, Mbah Dullah Salam—begitu beliau akrab disapa—-sering bersedekah yang pahalanya diberikan kepada anak-anak, cucu-cucunya. Dalam konteks sedekah ini, Mbah Dullah seringkali nadzar syukuran dalam bentuk makan-makan di makam Syaikh Ahmad Mutamakkin ketika anak-anaknya mampu melampaui ujian dan tugas pendidikan yang lain.

Kedua, merencanakan pendidikan anak. KH Abdullah Zain Salam dengan perencanaan yang matang, supaya proses dan hasilnya sesuai dengan harapan. Beliau merencanakan pendidikan anak-anaknya mulai kelas 5 Madrasah Ibtida’iyah dengan memulai menghafalkan Alquran. Hal ini dikarenakan usia anak-anak merupakan usia emas untuk menghafalkan karena memori mereka masih kosong.

Baca juga :  Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah

Ketiga, melatih kemandirian anak; melatih kemandirian anak adalah sesuatu yang penting supaya anak memiliki ketahanan mental dalam menghadapi situasi apa pun dalam kehidupanya.

Keempat, disiplin. Dalam mendidikan anak, Mbah Dullah selalu tegas. Anak-anak harus melaksanakan aturan dan mampu mencapai target yang telah ditetapkan.  Mbah Dullah tidak segan memukul anaknya ketika anak tersebut tidak memenuhi target; tapi pukulan yang dilakukan tidak menimbulkan cidera.

Kelima, Mbah Dullah tidak menyuruh anaknya belajar di pesantren A atau B, namun ketika anak sudah memilih belajar di pesantren A atau B maka ia harus bertanggung jawab terhadap pilihanya.

Keenam,  Mbah Dullah mendorong anak-anaknya untuk fokus dan konsentrasi pada Al-qur’an. Hal ini menandakan bahwa anak  harus menguasai satu cabang keilmuwan secara mendalam.

Tips yang dipraktikkan oleh Mbah Dullah Salam sebagaimana di atas mampu menghantarkan putera KH Abdullah Zain Salam menjadi manusia sukses, berakhlaqul karimah, dan taat terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga putera KH Abdullah Zain Salam menjadi ulama yang mempu meneruskan warisan pesantren dan sekolah yang telah dirintis oleh Mbah Dullah Salam.

Tips beliau, menurut penulis masih sangat relevan, terutama memandirikan anak di era informasi 4.0 ini. Orangtua kadang dihadapkan pada dilema yang rumit, di mana anak era sekarang meminta hp android yang banyak fitur-fitur permainan. Dikhawatirkan anak menjadi lalai akan tugas belajar. Namun jika tidak diberikan Hp Android, anak dianggap kurang gaul, tidak up to date karena teman-teman sebaya mereka sudah memiliki Hp Android.

Baca juga :  Belajar Nilai Kesalingan dari Keluarga Al Fahri “Ikatan Cinta”

Pada situasi inilah orangtua harus bersikap bijaksana, misalnya diberikan Hp android tetapi dengan syarat dan perjanjian tertentu. Sehingga Hp tersebut tidak membuat abai tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar.

Sayangnya yang dielaborasikan dalam buku karya DR Jamal Ma’mur ini lebih kepada putera KH Abdullah Zain Salam, tidak mengikutsertakan puterinya beliau. Tetapi secara keseluruhan, buku ini sangat recommended bagi para mahasiswa, pelajar, bapak dan ibu walimurid dan lain sebagainya. Wallahu A’lam Bi Ashawaab.

 

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: English

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.