Inilah 3 Syarat Dakwah Pesantren di Dunia Digital

Dakwah Pesantren

IQRA.ID,  Jakarta – Pusat Studi Pesantren kembali menggelar Pidato Kebudayaan yang disampaikan oleh para tokoh yang ahli di bidangnya. Kali ini Masykurudin Hafidz menyampaikan pidato yang bertajuk Dakwah Pesantren di Peradaban Digital, yang disiarkan langsung (live streaming) melalui Fanspage Pusat Studi Pesantren, pada Ahad (8/11), siang.

Pendiri CM Management itu mengawali pidatonya dengan menyoroti dampak pandemi Covid-19 bagi pondok pesantren khusunya dalam pemanfaatan teknologi digital. Selain untuk alternatif media pembelajaran, pesantren juga mulai menggunakan dunia digital sebagai lahan dakwah kepada masyarakat.

“Begitu bertemu dengan peradaban digital yang salah satunya mempunyai ciri keterbukaan dan informasi yang datang bisa dari mana saja. Maka, pada titik itulah sesungguhnya dakwah pesantren di peradaban digital perlu kita rumuskan secara bersama,” demikian kata pria yang akrab disapa Cak Masykur itu.

Cak Masykur menilai pesantren mempunyai karakter yang cukup kuat. Di antaranya adalah tradisi transfer informasi dan pengetahuan dari kiai ke santrinya, dari kiai ke masyarakat sekitarnya.

“Mau tidak mau dunia pesantren itu harus mengubah atau menambah pola yang selama ini dilakukan ketika dakwah ke dunia digital,” ujarnya.

Syarat Dakwah di Dunia Digital

Menurutnya, ada tiga syarat utama yang perlu diperhatikan apabila pondok pesantren melakukan dakwah di dunia digital agar lebih efektif, yakni visualisasi, rinci (spesifik), dan strategi komunikasi.

Cak Masykur menerangkan, bahwa yang pertama visualisasi merupakan karakter dunia digital yang menonjolkan pada tampilan dan menomorduakan substansi.

“Ketika pesantren masuk ke dunia digital, maka substansinya dipertahankan, sedangkan tampilannya perlu ditambah. Karena yang namanya tampilan menjadi prasyarat dakwah di era digital,” terangnya.

Kedua, lanjutnya, pada umumnya konten di pesantren durasi sangat panjang dan lama. Dalam hal ini maka perlu direproduksi kembali menjadi konten yang durasinya pendek.

“Hal ini agar mudah dinikmati secara cepat oleh masyarakat di era digital. Sebagai contoh ketika ngaji Fiqih selesai dalam ngaji 3 jam, maka saat mengunggahnya ke media digital tidak serta langsung 3 jam melainkan dipecah, misalnya konten berdurasi 5 menit,” ungkapnya.

“Ada strategi tertentu untuk memecah video yang berdurasi lama, sehingga tidak asal memotong. Baru kemudian ditambahkan visualisasi agar lebih menarik,” kata  pria yang mempunyai channel youtube dengan jumlah subscriber puluhan ribu itu.

Ia melanjutkan, bahwa syarat yang ketiga yaitu strategi komunikasi bisa menjadi faktor dakwah di media digital. Substansi konten kalangan pesantren boleh sangat mendalam dan visualisasi pun mungkin juga sudah ditambahkan. “Akan tetapi, kalau komunikasinya tidak dibikin menarik, hal itu pun bisa menjadi pengurang dakwah di dunia digital. Maka,” paparnya.

Selain itu, tambah Cak Masykur, cara komunikasi tidak hanya ceramah atau pidato, tetapi bisa dengan cara lain, seperti drama dan cerita. Jadi, praktik-praktik dakwah tidak hanya langsung secara monolog.

“Kita bisa mencontoh dakwah Walisongo di Nusantara yang tidak selalu menggunakan metode khutbah, namun dengan metode yang lebih variatif,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *