Islam dan Kristen dalam Keagungan Cinta Jalaluddin Rumi

Pengaruh Maulana Jalaluddin Rumi sangat luas, dari Barat hingga Timur, dari utara hingga selatan, tak terkecuali Indonesia. Banyak ulama dan cendekia yang mengkaji dan mengulas ajaran- ajarannya, baik sarjana dari Barat maupun Timur, sarjana dari Indonesia salah satunya.

Umumnya kajian terhadap ajaran Maulana Rumi terkait dengan aspek mistisime atau sufistiknya, selain itu juga aspek sastrawi dari pusi- puisinya. Kajian tentang ajaran Jalaluddin Rumi terkait dengan model moderasi beragama belum banyak yang melakukannya.

Padahal diketahui bahwa dengan berlandaskan tidak saling membenci dan damai, maka moderasi dapat terangkat dengan baik. Dari sisi sejarah,  hubungan Turki dengan Nusantara sudah pernah terjadi sejak lama. Banyak rekaman sejarah ditemukan khususnya dalam arsip Turki antara abad ke-16 dan ke-19.

Penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini meneliti tentang bagaimana sejarah akar dan perjalanan ketasawufan Rumi. Bagaimana model moderasi agama yang diajarkan Rumi dapat menyatukan perbedaan keyakinan, dan sejauh mana model moderasi beragama Rumi dapat diadopsi di Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah, filologi, dan antropologi. Ketiga pendekatan ini akan dilakukan secara bersamaan untuk mendapatkan data primer maupun sekunder. Data primer dapat berupa naskah- naskah karangan Jalaluddin Rumi, murid dan sahabatnya terkait zikir dan Sema serta naskah-naskah terkait lainnya yang ada di Nusantara.

Kemudian, wawancara (in depth interview) yang dilakukan di wilayah sasaran penelitian juga untuk mendapatkan data primer dari pelakunya secara langsung. Selain itu, data primer akan diperoleh melalui observasi langsung baik tentang pelaksanaan zikir dan Sema maupun tempat-tempat bersejarah.

Hasil penelitian

Dalam karyanya yang terkenal Masnawi, yang telah membawanya pada ketenaran abadi, tidak hanya memuat ajaran-ajaran mistisisme Islam tetapi juga memuat unsur-unsur mistisisme Yunani, Romawi, dan Hindu yang sesuai dengan Hadis nabi Muhammad saw dan ayat-ayat Al-Qur ’an. Dalam menjelaskan unsur-unsur mistik, Maulana Rumi memperkaya penjelasannya dengan anekdot.

Melalui bimbingan guru spiritualnya Syamsi Tabrizi, Maulana Rumi pergi begitu dekat dengan Tuhan sehingga semua agama tertinggal dan baginya hanya cahaya yang bisa menang.

Ketika ayah dan keluarga Maulana Rumi berpindah dari Balkh menuju ke Anatolia (Konya) tahun 1228, perang Salib baru saja usai. Kedua komunitas Islam dan Kristen mulai membaur.

Panglima perang Turki Qilich Arsalan II (1156-1188) yang pernah memimpin tentara perang melawan pasukan Salib, menikahi perempuan Kristen, dan menjadi sebuah tradisi baru di lingkungan Kesultanan Seljuk. Tradisi tersebut kemudian diikuti oleh Sultan Seljuk Qaykubad yang menikahi gadis Kristen yang kemudian melahirkan putra mahkota Ghiyasuddin Qaykusra yang kemudian berkuasa pada tahun 1237 hingga 1246 M.

Ghiyasuddin Qaykusra juga menikahi gadis Kristen cantik yang terkenal dengan sebutan “wanita Georgia”, dan kemudian melahirkan seorang anak bernama Aliuddin Qaykubad II yang berkuasa semasa dengan Maulana Rumi.

Demikianlah, ketika Rumi wafat pada tahun 1273, banyak umat Yahudi dan Kristiani yang datang untuk takziyah dan meratapi kepergian Sang Maulana. Diceritakan masa itu banyak umat dari agama dan bangsa lain yang datang ikut berduka cita dari berbagai wilayah seperti umat Yahudi, Nasrani, Turki, Persi, Arab, Yunani dan lain-lain.

Selain itu, ikut datang pula untuk berbela sungkawa, para pemuka dan pendeta agama-agama yang sangat berpengaruh, memberikan doanya pada saat pemakamannya. Semua umat kristiani yang datang ke acara pemakaman Maulana Rumi membawa kitab sucinya sesuai dengan keyakinan mereka dan berdoa di depan jenazah Maulana sesuai dengan keyakinan mereka.

Mereka membaca ayat-ayat dalam kitab suci mereka baik dari kitab Mazmur dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sambil menangis tersedu meratapi kepergian Sang Maulana. Umat muslim yang melihat hal itu tidak merasa terganggu apalagi mengusir mereka meski berbeda keyakinannya.

Cinta sang Maulana Rumi melampaui semua perasaan, rupa, dan ketakutan. Cintanya yang luas dan universal melampaui semesta. Dari keluasan inilah Rumi mengajarkan kita untuk mencintai semua ciptaan/mahluk, karena Sang Pencipta/ Khalik.

Bagi Rumi kecintaan yang universal tidak lagi melihat latar-belakang, bentuk, golongan ataupun perbedaan apakah kita Kristen atau Muslim. Menurut Rumi jika kita mencintai Tuhan dan mahluknya dengan sebenar benarnya cinta, kita akan melampaui semua batas-batas keyakinan agama.

Ketika seorang mampu melihat keluar dari dunia yang terlihat, di luar batas rupa dan warna, dan ketika seorang dapat melihat taman setelah taman keindahan Ilahi, maka dunia ini terlihat amat sederhana dan hanya tempat tinggal sementara. Maulana Rumi telah menemukan realitas di balik kata-kata, bahasa dan rupa.

Hal itu tidak terlalu berguna, untuk mencari air jernih sedangkan air yang murni disembunyikan, sedang menunggu untuk diminum. Maulana Rumi mengundang kita untuk bergabung di antara para pecinta Allah yang mana itulah satu-satunya realitas, sebagaimana kata Maulana: Isa “(Yesus) merubah arak menjadi emas, dan ketika sudah menjadi emas, Isa (Yesus) mengubahnya menjadi Mutiara, Isa (Yesus) merubah sesuatu menjadi lebih baik, semakin baik, dan lebih baik daripada Bulan dan Yupiter”.

Kesimpulan

Cinta sang Maulana Rumi melampaui semua perasaan, rupa, dan ketakutan. Cintanya yang luas dan universal melampaui semesta. Dari keluasan inilah Rumi mengajarkan kita untuk mencintai semua ciptaan/mahluk, karena Sang Pencipta/ Khalik.

Bagi Rumi kecintaan yang universal tidak lagi melihat latar-belakang, bentuk, golongan ataupun perbedaan apakah kita Kristen atau Muslim. Menurut Rumi jika kita mencintai Tuhan dan mahluknya dengan sebenar benarnya cinta, kita akan melampaui semua batas-batas keyakinan agama. (MS)

*Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Alfan Firmanto yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2021.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.