Jodoh: Pilihan Sendiri atau Pilihan Orangtua?

jodoh

Setiap orangtua menginginkan anaknya bahagia. Orangtua ikut bahagia ketika anaknya bahagia. Begitu juga sebaliknya, ketika anak bersedih, orangtua ikut sedih. Oleh karena itu, orangtua selalu membimbing anak-anaknya dan memilihkan sesuatu yang terbaik.

Orangtua Berhak Memilihkan Jodoh untuk Anaknya

Dalam masalah perjodohan, orangtua mendapatkan hak untuk memilihkan jodoh bagi anaknya. Namun pada faktanya, sebagian pilihan orang tua tidak dikehendaki oleh anaknya karena alasan ketidakcocokan atau karena ada calon lain yang menjadi pilihan anak.

Ketika jodoh pilihan orang tua harus disetujui oleh seorang anak atas dasar menaati perintah orang tua atau karena terpaksa, maka bisa saja kehidupan keluarganya bahagia. Itu apabila dalam perjalanan kehidupan keluarganya ada kecocokan dalam karakter, kepribadian, visi misi serta adanya kesepahaman dalam menerima kekurangan dari masing-masing kedua belah pihak.

Atau bisa saja kehidupan rumah tangganya tidak bahagia apabila tidak ada kecocokan di antara keduanya. Dan tidak ada usaha untuk saling menerima dan memahami.

Hak Orangtua dalam Penentuan Jodoh Menurut Islam

Tentunya perlu kebijaksanaan dari orangtua dan perlu adanya musyawarah dengan anak dalam penentuan jodoh. Lantas bagaimanakah Islam mengatur tentang masalah hak orangtua dalam penentuan jodoh? Apakah perjodohan orang tua wajib diikuti secara mutlak?

Pertama-tama harus dipahami dan disadari bahwa hubungan pernikahan bukanlah hanya hubungan di antara dua insan, namun juga hubungan di antara dua keluarga. Maka diperlukan musyawarah dan kesepakatan di antara mereka semua.

Baca juga :  Perihal Ikhtiar dan Memilih Pasangan Menurut Prof. Quraish Shihab

Jangan sampai seorang suami hanya peduli kepada istrinya namun sinis kepada keluarga istri. Jangan sampai hanya istrinya yang cinta kepada suaminya, namun keluarga istri jahat kepada suami. Begitupun sebaliknya.

Dalam pernikahan, perempuan terbagi menjadi dua, pertama, perempuan mujbaroh (perempuan perawan yang berhak ‘dipaksa’ menikah oleh orangtuanya). Kedua, perempuan ghoirul mujbaroh (perempuan janda yang tidak boleh dinikahkan tanpa izinnya).

Pilihan Siapa yang Harus Didahulukan?

Ketika perempuan mujbaroh memiliki calon suami pilihan sendiri yang sekufu` (setara), sementara di waktu yang sama, orang tuanya juga memiliki calon yang sekufu`. Maka, dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat tentang pilihan siapakah yang harus didahulukan.

Pendapat pertama mengatakan bahwa pilihan orang tualah yang didahulukan. Sedangkan pendapat yang kedua mendahulukan pilihan anak. Pendapat kedua ini didukung oleh Imam Subki dan Ulama yang lain.

Bahkan menurut Syekh Taqiyuddin (Matholib Ulin Nuha, Juz 5, hal 10) tidak seharusnya orang tua memaksa anaknya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Jika anak menolak perjodohan dari orang tua, maka tidak termasuk uququl walidaini (durhaka kepada orang tua).

Syarat bagi Wali Mujbir

Kemudian berkenaan dengan hak orangtua dalam menjodohkan anaknya, dalam literatur Fiqh dijelaskan bahwa kebolehan orangtua (wali mujbir) memaksa anak gadisnya untuk dijodohkan dengan seseorang memiliki beberapa syarat.

Pertama, orangtua tidak ada permusuhan yang nyata di antara anak gadisnya dan calon suami. Kedua, tidak ada permusuhan yang nyata di antara anak gadisnya dan walinya. Ketiga, calon suami harus sekufu dan mampu membayar maskawin.

Baca juga :  Sisca Kohl dan Standar Kaum Milenial dalam Memilih Pasangan

Jika ketiga syarat ini tidak terpenuhi dan anak gadisnya tidak rela dan tidak menyetujui, maka pernikahannya batal jika tetap dilangsungkan. Selain tiga syarat tersebut ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi dan tidak sampai berkonsekuensi batal apabila ditinggalkan. Hanya saja wali berdosa apabila mengabaikan syarat tersebut.

Syarat-syarat itu adalah pertama, pembayaran maskawin harus kontan. Kedua, besaran maskawin sesuai dengan mahar mitsil. Ketiga, maskawin menggunakan mata uang yang berlaku. (Fiqh Ala Madzahib Al-Arba`ah, Maktabah Syamilah Juz 4, hal 24).

Konsep ini merupakan pemikiran sebagian ulama saja seperti madzhab Syafi`iyyah. Ulama lain ada yang memiliki pemikiran bahwa semua perempuan, baik yang perawan maupun janda tidak boleh dipaksa oleh walinya untuk menikah kecuali atas kehendak dan izin dari perempuan itu. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah kelompok Hanafiyah.

Perbedaan Ijbar dan Ikroh

Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa ada perbedaan signifikan antara ijbar dan ikroh. Ikroh adalah suatu paksaan terhadap seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu dengan adanya ancaman yang membahayakan jiwa atau tubuhnya, dan tidak ada kemampuan untuk melawannya.

Sementara bagi orang yang dipaksa, perbuatan tersebut sebenarnya bertentangan dengan kehendak hati nurani dan pikirannya.

Dalam kitab-kitab fiqh misalnya dicontohkan ikroh dalam jual beli, ikroh dalam talaq. Seseorang dipaksa untuk membeli atau menjual barang, seseorang dipaksa untuk menceraikan istrinya, apabila tidak dilaksanakan ada ancaman yang tidak dapat ia lawan.

Baca juga :  Doa Agar Mendapatkan Jodoh Idaman

Apabila orang dipaksa melakukannya, padahal hati nuraninya menentangnya, maka perbuatan tersebut batal demi hukum, karena menyalahi hak asasi manusia. (Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fathul Mu`in, 2010: 229).

Sedangkan ijbar adalah suatu tindakan untuk melakukan sesuatu atas dasar tanggung jawab. Hal ini berkaitan dengan pernikahan, di mana pemilik hak ijbar adalah ayah atau kakek. Keduanya dalam kajian fiqh munakahat disebut dengan wali mujbir yaitu wali yang mempunyai kekuasaan atau hak untuk mengawinkan anak perempuannya, meskipun tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

Perkawinan dengan ijbar dari wali mujbir adalah sah demi hukum, karena ijbar ini dimaksudkan sebagai bentuk perlindungan atau tanggung jawab ayah terhadap anaknya.

Dengan demikian hak ijbar seorang wali jangan dimaknai sebagai hak paksa dari seorang wali untuk menikahkan anaknya atas kehendaknya sendiri tanpa kerelaan dari sang anak.

Hak ijbar ini lebih kepada tanggung jawab untuk menikahkan. Oleh karena itulah beberapa syarat ijbar yang telah dijelaskan di atas harus dipenuhi oleh seorang wali agar tidak melanggar aturan dalam menjodohkan anaknya.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *