Jodoh untuk Zakiyah

Kesunyian menemani gelapnya sepertiga malam yang kian hikmat dan syahdu. Dinding kamar terasa dingin dan beku. Aku telah terbiasa bangun di waktu-waktu ini sebagaimana yang telah diajarkan kedua orang tuaku terutama sejak aku beranjak dewasa. Mendirikan shalat malam tak lain adalah untuk meraih derajat kemuliaan di dunia maupun di akhirat nanti. Namun shalatku malam ini kini menjadi tempat curhatan kesedihanku.

Kesedihan yang terjadi berulang-ulang ketika aku menerima undangan pernikahan teman-temanku untuk yang kesekian kalinya. Kesedihan karena pernikahan itu belum juga terjadi padaku yang kini sudah berusia hampir 28 tahun. Tak kurang-kurang juga usaha orangtuaku mengenalkan dengan beberapa pria. Namun mungkin belum takdirnya hingga belum satupun yang mengkhitbahku.

Aku merasa tidak berharga, kurang cantik atau mungkin sudah tidak memiliki daya tarik lagi. Air mataku tidak berhenti meleleh membasahai mukena dan sajadah. Dalam sujud panjangku aku terisak. Meng iba, memanggil dan memuji asma Allah memohon didatangkan jodoh agar sempurna keimananku sebagai seorang muslimah.

 

Pertanyaan yang berulang

Ku akhiri rangkaian shalat malamku ini dalam derai airmata yang tak kunjung berhenti. Dalam doa, yang terlintas adalah wajah kedua orangtuaku. Aku ingin membahagiakan mereka. Terutama Ibu. Berkali ibu menanyakan apakah aku bertemu kawan lama, teman kuliah ataukah teman SMA, atau mungkin juga teman waktu aku aktif dalam berorganisasi. Namun tidak satupun yang ingin menemuiku untuk menjalin hubungan yang lebih dekat.

Aku selalu bingung menjawabnya. Pertanyaan yang sebenarnya mengarah pada kapankah aku menemui jodoh dan segera menikah. Kembali air mataku mengalir. Karena aku tidak bisa menjawabnya. Teman- teman lama yang masih sering menghubungi hanya sahabat-sahabat saja. Seperti Mariam, Syabilla dan  Naura, yang karena akrabnya kami menyebut  “Empat Mutiara”.

Aku tidak pernah menjalin hubungan dekat dengan laki-laki kecuali hanya sebatas keperluan studi dan organisasi. Entahlah saat kuliah tidak terbersit dalam pikiranku untuk berpacaran meskipun beberapa pernah menyatakan ketertarikannya padaku. Saat itu hatiku belum merasakan jatuh cinta dan belum timbul rasa suka pada laki-laki.  Di antara “Empat Mutiara”, hanya aku yang belum menikah.

Mariam menikah dengan pacarnya, Syabilla kebetulan perkenalan dengan suaminya melalui medsos lanjut khitbah sedangkan Naura yang dua hari lalu menikah adalah melalui perjodohan orangtuanya. Sedangkan aku. Aku tidak pacaran. Sulit bagiku menjalin hubungan dengan pria . Entah belum ada kemistri, atau belum pula menemukan hal yang cocok.

Kulipat mukena usai sujud syukurku di witir terakhir penutup shalat – shalat malamku. Aku terdiam, resah dan gelisah mengingat peristiwa sore itu di acara pernikahan Naura. Doa’-do’a dan support mereka sungguh menenangkan. Namun tetap saja hatiku gelisah. Tak hanya tentang nasibku yang tak kunjung dilamar, aku juga memikirkan Ibuku. Tak kurang-kurang Ibuku memperkenalkan beberapa pria. Namun entah satu persatu tidak ada yang memberi tanda tindak lanjut. Setelah beberapa peristiwa perkenalan dengan beberapa pria, hipertensi Ibu sering kambuh. Hal ini makin membuatku merasa sesak di dada.

Kumandang adzan subuh terdengar syahdu. Aku berpapasan dengan ibu di dapur. Ibu tersenyum dan mengusap pipiku seraya berkata,” Nduk, Ayo kita jamaah ke Mushala kampung”. Aku mengangguk, segera mandi dan mengambil air wudhu. Setelah memakai gamis dari Almari kukenakan mukenah langsung demikian juga dengan Ibu. Kami berangkat bersama-sama menuju mushala untuk berjamaah. Setelah jamaah shalat subuh ada tausiah singkat dari ustadz. Kulihat di sampingku ibu menyimak sambil memutar tasbih batu rubi-nya.

Subhanallah! Ibu tetap tidak menampakkan kegelisahannya meskipun aku belum juga bertemu jodoh. Tapi sebenarnya aku merasakan kesedihan beliau. Selesai bubar para jamaah kulihat ibuku berbincang serius dengan sorang wanita yang sangat cantik berbalut busana syar’i yang sangat anggun. Di kejauhan kulihat mereka tetap saling menggenggam tangan, tersenyum membicarakan sesuatu.  Lalu Ibu memanggilku.

“ Zakiya, kesini, nak. Ada yang ingin berkenalan denganmu”. Aku segera menghampiri ibu, menyalami wanita cantik berbalut busana syar’i itu.

“ Oh ini dik Zakiyah, ya. Masih mengajar di SMA I kota itu, ya ?”. Tanya wanita itu dengan senyum mengembang.

“ Iya, bu. Saya masih mengajar di situ. Sudah hampir delapan tahun, Alhamdulillah”. Aku menjawab dengan senyum datar dan canggung. Dalam hati aku bertanya – tanya darimana dia tahu aku sebagai pengajar. Ah, mungkin dari ibu waktu berbincang-bincang tadi.

Setelah bersalaman kembali untuk saling berpamitan, aku dan ibu pulang. Ibu dan wanita cantik itupun kulihat sangat akrab dan berpamitan sambil cipika-cipiki. Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Kulihat wajah ibu juga datar-datar saja. Tidak menggambarkan rasa senang atau sedih. Kami saling diam saja waktu berjalan kaki dari masjid menuju rumah. Ibu juga tidak mengatakan apapun.

 

Hari-hari Penuh  Aktifitas

Aku mulai hariku dengan aktifitas rutinku sebagai seorang pendidik. Aku dan ibu seperti biasa beraktifitas bersama di pagi hari. Sehabis subuh mengaji, lalu membuat sarapan seadanya. Kami menyeduh teh dan duduk di meja makan menekuni sarapan pagi kami. Namun  Ibu tidak bercerita tentang perbincangannya dengan wanita cantik berbaju syar’i  tempo hari.

Aku menatap wajah anggun ibu yang sudah terlihat gurat-guratnya. Menikmati sarapan dengan tenang  menatapku dan tersenyum  seraya berkata, “ Sering-seringlah mengucapkan Alhamdulillah, nduk. Kalimat itu akan memberimu banyak kekuatan. Hati-hatilah di jalan, berangkat lebih awal lebih baik daripada tergesa-gesa”.

Aku tersenyum dan mengakhiri sarapan, membawa tas dan bersiap berangkat mengajar. Ku cium takdzim punggung tangan Ibu. Sebenarnya aku ingin bertanya namun aku tak ingin meresahkan ibu dengan banyak pertanyaan. Kubiarkan saja sampai ibu sendiri yang bercerita.

Bakda maghrib. Hujan terdengar rintik-rintik menyentuh genting rumah. Terasa bergema suara hujan karena  hanya aku  tinggal berdua saja dengan ibu. Lima tahun yang lalu ayah wafat seusai shalat malam. Beliau meninggal dalam tidur dengan mengenakan baju takwa dan sarung . Kata paramedis ada stroke otak. Kematian yang sangat mendadak. Ayah meninggalkan ibu, aku dan dua kakak laki-lakiku.

Yang sulung kini sukses sebagai pengajar tetap di sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Sedang yang nomor dua sebagai pengusaha bidang agro yang menyuplai di beberapa market. Kedua kakakku sudah berumah tangga, masing-masing juga dikarunia anak. Tinggal aku yang belum menikah, meskipun karirku mapan sebagai guru PNS di kota kelahiranku, aku merasa belum sukses sebab aku belum juga menikah.

Setelah ku tutup mushaf alquran ku dengar ibu masuk kamarku. Mendekati dan duduk di tepian tempat tidur. “ Zakiya, saatnya ibu mengutarakan apa yang terjadi kemarin ketika kita selesai jamaah subuh di mushala.”. Ibu bertemu dengan kawan  yang sudah lama berdomisili di luar kota.

Namanya bu Hamidah. Seorang pengusaha mebel dan travel umroh. Sudah beberapa hari ini pulang kampung bersama putra tunggalnya yang sudah bekerja di sebuah perusahaan di Singapura. Bu Hamidah hanya menuruti keinginan putranya untuk menemuimu. Namanya Haikal, kau ingat? dia pernah kau didik di tahun kedua engkau mengajar di SMA I itu. Saat itu Haikal duduk di kelas III ”. Ibu berhenti sejenak untuk memberiku jeda mengingat-ingat sosok Haikal.

Aku menerawang menuju masa-masa awal mulai mengajar. Kalau di tahun kedua berarti itu terjadi enam tahun yang lalu. Memang aku termasuk yang paling muda sebagai seorang guru. Setelah wisuda, empat bulan kemudian aku langsung diterima di sekolah tersebut. Usiaku masih 22 tahun.

Ibu melanjutkan pembicaraannya. “ Haikal ada maksud mengkhitbahmu. Sudah lama dia mengagumimu. Namun ia pendam saja karena canggung kamu adalah gurunya, meski hanya satu tahun. Demikian Bu Hamidah menceritakan pada ibu lewat telpon beberapa hari ini.”

Aku terkejut. Bingung juga senang. Jika ibu terlihat setuju apalagi yang harus aku lakukan kecuali juga menyetujui pilihan ibu. Antara senang dan canggung. Dalam benakku Haikal yang sempat aku didik di usianya sekitar 17 atau 18 tahun waktu berada di kelas III SMA. Saat itu aku berusia 23  tahun. Jadi selisih usiaku dengannya sekitar lima tahun .

Aku ingat-ingat aku juga tidak begitu mengenalnya. Aku termenung sejenak memikirkan bahwa laki-laki yang mengkhitbahku ini adalah siswaku. Hatiku sempat berkecamuk. Antara senang juga rikuh. Dikhitbah siswa sendiri ? Bagaimana nanti jika aku sudah berumah tangga? Apa yang akan terjadi ? Seorang guru yang dinikahi sendiri oleh siswanya. Pantaskah ? Usianyapun lebih muda dariku, meski hanya terpaut 4 atau 5 tahun.

 

Jodohku telah Tiba

Rupanya ibu melihat kegelisahan hatiku. “ Nduk, jodoh dari Allah memang tidak memandang status dan usia. Ibu mengerti kegelisahanmu. Tidakkah engkau ingat Rasulullah dengan Khadijah terpaut 15 tahun ? selama dia berniat baik mengkhitbah, mencari ridho Allah dalam ibadah pernikahan, Insyaallah akan mendatangkan kebaikan”. Ibu tersenyum dan membelai kepalaku.

Ya Allah. Apakah ini yang namanya jodoh. Datang tiba-tiba dan orang tuaku sangat menyetujuinya. Bagiku membahagiakan ibu adalah segala-galanya. Tak terasa airmataku tumpah ruah dan aku menghambur dalam pelukan ibu. Ibu bertanya.

“ Zakiya, apa engkau bersedia menerima khitbah dari Haikal ?” Aku mengangguk dalam tangis bahagia.

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *