Kajian Perkembangan Folklor Religi di Nusantara

Folklor atau cerita rakyat sesungguhnya mengandung kearifan lokal yang merupakan cerminan budaya suatu masyarakat. Meskipun berasal dari suatu daerah tertentu bukan berarti nilai-nilai kearifan lokal tersebut bersifat primordial atau kedaerahan.

Menggali kearifan lokal sesungguhnya dalam rangka menghargai, mempertahankan, dan memelihara kebhinekaan sebagai salah satu karakter budaya bangsa. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya terus menerus, terstruktur, dan sistematis untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal tersebut.

Cerita rakyat adalah salah satu gudang tempat tersemainya nilai-nilai kearifan lokal. Atmo Tan Sidik, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Brebes, mengatakan bahwa “Dulu, para orangtua masih mendongengkan anaknya sebelum tidur. Namun, kebiasaan itu kini mulai pudar karena alasan kesibukan.”

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat bahkan dapat dijadikan sebagai acuan di dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Sebab, “cerita rakyat juga merupakan refleksi pemahaman sebuah masyarakat terhadap masyarakat lainnya.” “Cerita rakyat merupakan bagian dari sejarah dan budaya suatu bangsa. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang terjadinya berbagai hal, seperti terjadinya alam semesta, tempat, maupun suatu peristiwa penting.

Di samping kearifan lokal, kisah-kisah dalam folklor Nusantara juga menampilkan sifat kesombongan, ketidakadilan, dan kebencian, yang mungkin dapat berakibat pada perilaku negatif. Oleh karena itu, cerita rakyat di Indonesia perlu dimodifikasi dengan mengubah aspek yang tidak manusiawi dengan nilai-nilai positif, yang dapat diambil dari aktivitas kehidupan sehari-hari. Struktur asli dari cerita rakyat yang ada bisa tetap dipertahankan.

Baca juga :  Peran Komunitas Hijrah dalam Mempromosikan Moderasi Beragama

Seiring dengan perkembangan zaman dengan segenap implikasinya, dalam realitasnya, folklor Nusantara mengalami ‘nasib’ yang semakin memprihatinkan. Kondisi folklor yang kian punah bersama dengan punahnya bahasa dan budaya lokal, belum terkelolanya dengan baik dan profesional—baik konservasi (perlindungan dari kepunahan) maupun pengembangannya.

Padahal, folklor memiliki peran dan fungsi sangat penting—baik fungsi pendidikan, kontrol sosial, estetik, konfigurasi (susunan/bentuk) budaya bagi generasi kini dan mendatang. Melihat besaran dan kayanya tinggalan folklor di Nusantara, maka sebagai tusi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) membatasi penelitiannya pada folklor lisan (oral folklore)—meliputi ceritera keagamaan rakyat (religious folk story), mitos keagamaan (religious mythology), legenda keagamaan (religious legends), dan tradisi lisan keagamaan (religious oral tradition), dan lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian Folklor Religi Nusantara dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan interdispliner (ilmu yang saling mempengaruhi) dan multidisipliner (pelbagai ilmu yang terkait), terutama dengan menggunakan pendekatan ilmu humaniora (human studies), seperti pendekatan yang biasa digunakan oleh antropologi (manusia dengan segala aspeknya: idea, aktivitas social, artifak bidang agama, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, organisasi social, bahasa dan komunikas, kesenian), sejarah (tokoh, karya, priode, situasi latar dan tujuan), philology/ filologi (ilmu yang mempelajari bahasa kesusasteraan, dan sjarah moral dan intelektual dengam menggunakan naskah kuno sebagai smber), linguistic (kebahasaan;tata bahasa, dll) , dan sejenisnya.

Baca juga :  Fenomena Pelibatan Perempuan dan Keluarga dalam Peristiwa Bom Surabaya

Temuan Penelitian

1. Penelitian folklor relitgi tahun 2018 dilakukan di lima wilayah. Dari penelusuran dihimpun sebanyak 312 cerita rakyat dengan rincian sebagai berikut:
a) Sulawesi Barat, 60 folklor;
b) Irian Barat, 44 folklor;
c) Bali, 40 folklor;
d) Nusa Tenggara Barat (NTB), 138 folklor; dan
e) Kepulauan Riau 30 folklor.

Beberapa contoh judul folklor Nusanatara sebagai berikut:
a) Anak Yatim Memasang Bubu
b) Asal Mulanya Mata Air Suci di Suranadi
c) Asal Usul Nama Gunung Rinjani (Terjadinya Gunung Rinjani)
d) Babad Lombok
e) Babad Selaparang
f) Batu Goloq
g) Cilinaya (Dende Cilanaye)
h) Cupak dan Gerantang
i) Dajal
j) Danghyang Nirarta
k) Datu Panji Anom
l) Gaos Abdul Razak
m)Guru Husen Alim
n) Haji Ali Batu
o) Indra Zamrud
p) La Kasipahu
q) Menjangan Sakti
r) Riwayat Datu Pajanggiq
s) Tuan Guru yang Berdosa
t) Wali Nyatoq.
u) Mendapat banyak rezeki karena mengaji.
v) Membayarkan utang dalam perjalanan
w) Tempat Imam Lapeo berkhalwat
x) Berbicara dengan Orang Mati
y) Shalat Jumat pada 3 Tempat pada Waktu Bersamaan
z) Nangguru Hudaeda

2. Folklor religi sebagai warisan atau khazanah budaya keagamaan bangsa mengandung nilai-nilai kebaikan dan kearifan (wisdom). Di antara nilai-nilai tersebut adalah:

a) Nilai Keimanan, yang meliputi: pengakuan akan keberadaan Tuhan dan kekuasaan-Nya, keyakinan pada takdir-Nya, dan selalu bersyukur atas pemberian-Nya;
b) Nilai Akhlak atau Moral, meliputi: kejujuran atau tidak dusta, rendah hati atau tidak sombong dan takabur, patuh atau taat pada peraturan dan perintah Tuhan maupun pimpinan, kasih sayang kepada sesama, bahkan pada binatang, bekerja keras, dan sabar dalam menghadapi cobaan;
c) Nilai sosial, yaitu bersikap adil, bermusyawarah dalam memutuskan suatu persoalan, dan bersedia memaafkan kesalahan orang lain.

Baca juga :  Potret Pendidikan Moderasi di Majelis Taklim

3. Disadari sepenuhnya bahwa khazanah keagamaan mengandung warisan yang sangat berharga bagi bangunan keagamaan berbasis kebudayaan di masa depan. Oleh karena itu, penelitian Folklor religi Nusantara perlu mendapat perhatian serius. Lebih dari itu, kajian-kajian seperti ini perlu dilakukan dengan melibatkan stakeholders.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Jogja Aja

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *